.

.

.

.

.

.

.

.

Senin, 16 Agustus 2010

Snowflakes

Uum... satu lagi yang gue suka, sangat suka!

Sama seperti hujan, gue suka salju yang merupakan hasil dari siklus air. Tapi bedanya....? Udah pasti bedalah. Prosesnya yang lebih panajng dan rumit. Tapi andai saja kita tahu, sebenarnya salju itu indah. Indah banget.

Gue pengen banget benar-benar merasakan salju (bukan es). Salju itu unik. Tiap-tiap butirnya, bagaikan sidik jari pada manusia, berbeda satu sama lain. Coba bayangkan! Berjuta-juta butir putih itu turun, menyelimuti tiap-tiap atap rumah, ranting-ranting pohon, bebatuan. Namun sayangnya, jarang sekali diantara kita yang mengetahui keindahan itu.

Memang sayang ya... Setahu gue, saat air berubah menjadi es di dalam awan, terjadi reaksi (atau apalah) antar elektron-elektron, sehingga terjadilah gerakan. Es di dalam awan saling bergesekan sehingga membentuk segi enam dan segi delapan. Sama seperti hujan, ketika awan itu telah jenuh maka butir-butir salju pun jatuh. Dan setelah jatuh, kemudian tidak lama akan pecah. Bahkan sebelum sempat sampai ke tanah. Malangnya....


Kadang kita menutup mata dengan apa yang ada di hadapan kita. Kita tidak mengetahui bahwa ada sisi istimewa pada sesuatu yang berada di depan mata. Sebaliknya, kita justru membuka mata lebar-lebar demi melihat apa yang tidak terjangkau oleh kita, meski memang terlihat indah. Sangat indah bahkan. Namun kita tidak tahu bahwa sesuatu yang jauh itu sebenarnya adalah titik panas yang justru dapat membakar dan menghanguskan.

*********----*********----*********

Oh iya! satu lagi, tentang judul post ini "Snowflakes"
Sebelumnya, gue ingin ngebahas sedikit tentang.... Reinkarnasi *oke ga nyambung!

Yup! Reinkarnasi, ada orang yang percaya banget. Tapi ada juga orang yang bilang... ahh bulshit!
gue sendiri? fifty-fifty kali. *loooh?!

Reinkarnasi, sesuatu yang memang sulit gue terima. Gue masih berfikir dengan logika. Tapi sepertinya .. gue merasakan kejadian reinkarnasi itu. Ya benar!! Reinkarnasi!

Kucing gue dulu, sekarang kembali dengan reinkarnasinya... *Oh Gosh!!
Dulu gue punya kucing. Gue kasih nama Pussy. Engga lama, eh dia mati. Yaudah.... Lah sekarang, tepat benget hari ini. Gue pulang sekolah, capee banget! Eh engga tahunya di rumah gue ada kucing kecil. Lucu banget. Mirip kaya si Pussy. So, gue ambil asumsi bahwa, Si Pussy kembali! Dia berreinkarnasi! Hehe...

Ternyata itu kucing ibu gue yang nemuin, terus bilangnya mau dirawat ajah. Setelah gue sempet main, main, main, main dan main sama itu kucing, so gue ambil keputusan buat ngasih nama, "Snowflake"

Ok Snowflake! Wellcome!!
hoho....



Drizzlesweet :))

Kamis, 12 Agustus 2010

Harmonica

Dia berdiri tepat di tengah deburan ombak, menyaksikan langit yang mulai membentuk lengkung jingga. Seorang lagi, pria tampak dari kejauhan berlari-lari kecil menghampiri sang gadis yang kini mulai mengangkat kedua tangannya hendak memainkan sebuah harmonica.

Melodi mengalun indah. Beradu dengan ombak yang pecah. Angin yang menyapu helaian rambut hitam itu, ikut membawa untaian demi untaian nada. Tepat membawanya pada seorang pria yang kini hanya berjarak 6 meter dari sang gadis. Langkah kaki yang tadinya berlari, perlahan menjadi langkah capat. Kemudian melambat, melambat, dan melambat, hingga akhirnya berhenti pada jarak yang hanya tersisa satu langkah.

Pria itu menatap sang gadis dari sudut pandang yang memang sempurna. Ia dapat melihat raut wajah yang ikut menjingga, kini memejamkan mata. Seakan gadis yang berada di hadapannya itu sedang terlelap. Namun tentu saja tidak, Sang gadis terus memainkan harmonicanya. Begitu menghayati atau bahkan ia ingin ikut terhempas angin bersama tiap-tiap alunannya.

Waktu jeda. Selama beberapa menit, tidak ada yang bicara. Pria it mengalihkan pandangannya pada panorama yang sudah sangat biasa. Namun entah mengapa kini terasa begitu luar biasa. Ada sesuatu yang terasa familiar.

Suasana dingin. Keduanya tampak menjadi siluet dari kejauhan. Pria itu menaruh kedua tangannya diatas pagar pembatas yang terbuat dari kayu. Meski sang gadis terlihat masih terhanyut dalam dunia hitam-putihnya sendiri, tapi ia yakin gadis itu menyadari keberadaannya.

Sampai pada akhirnya gadis itu berhenti memainkan harmonica. Dan dugaannya itu memang tepat. Tanpa menoleh, gadis itu berkata,

"Dia sangat menyukai ini," digenggamnya erat harmonica itu dengan kedua tangan.


***

"Dia sangat menyukai ini"

Gadis itu menyadari, kini pria yang berdiri disampingnya sedang menatapnya lekat. Tanpa menghiraukan ia pun lanjut berkata,

"Apakah aku tidak mengetahui apa-apa yang kau ketahui?"

Pria itu hanya tersenyum hambar. Tepat ia dapat melihat senyum itu. Entah pria itu ingin menjawab pertanyaannya atau tidak, yang jelas kini ia merasa bodoh telah bertanya seperti itu.

"Sudah, lupakan saja," sahutnya cepat.

Masih dengan posisinya, pria itu akhirnya angkat bicara,


"Tidak"

Pria itu menjawab pendek. Hanya dengan satu kata. Tentu saja gadis itu tidak puas dengan jawaban yang hanya satu tarikan nafas.

"Tidak? Hanya seperti itukah? Sederhana sekali," gadis itu menunduk menatap harmonica yang digenggamnya. Pandangannya seperti menerawang. Ia meraba dan memperhatikan setiap ditailnya.

"Harmonica ini, sudah lebih dari sepuluh tahun," Ia mengangkat kepala dan membiarkan sinar jingga kembali mendarat di wajahnya.

"Malam itu, aku tidak bisa tidur. Sedangkan orang tuaku, sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Aku memutuskan untuk pergi ke halaman depan. Entah untuk berdiam diri, memberi makan ikan atau sekedar melihat bintang. Tepat ketika itulah, seorang anak laki-laki, berbaring di atas rumput. Aku sempat panik karena mengira dia pingsan atau sakit. Tapi ternyata begitu aku mendekat, dia langsung bangkit. Dia bangkit dan mengajakku ke teras depan rumah. Aku berkata padanya aku tidak bisa tidur. Dan ternyata dia juga berkata padaku bahwa dia juga tidak bisa tidur. Kami berdua pun tertawa dan saling bercerita. Entahlah. Saat itu, aku merasa begitu nyaman. Aku benar-benar merasa ketenangan. Andai saja setiap hari begini, pikirku pada waktu itu. Setelah saling bercerita, dia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Harmonica ini. Tentu pada waktu itu aku tidak tahu benda ini adalah harmonica. Dia memegang harmonica ini dengan kedua tangannya, dan mulai memainkan sebuah lagu. Lagu yang sampai sekarang, aku sudah dewasa, masih terngiang-ngiang di kepalaku. Dia begitu mahir. Sampai pada akhirnya, aku pun terlelap."

Ia diam sejenak mengambil nafas. Sedangkan pria itu, tidak ada tanda-tanda darinya untuk membuka mulut dan ikut bicara. Membisu, dengan setia mendengarkan perkataan sang gadis. Apakah benar begitu? Entahlah... dia jelas terlihat diam, meski... mungkin hati dan pikirannya berkata. Menerawang kembali memorinya.

Gadis itu kembali menarik nafas. Ia merenggangkan genggamannya. Harmonica itu terbuat dari logam dengan perpaduan warna perak dan merah hati. Pada sisi pinggirnya terdapat ukiran-ukiran not balok dan bunga ume yang semakin memperindah tampilannya. Di salah satu ujungnya juga terdapat sebuah lingkaran yang menghubungkan pada rantai panjang yang terbuat dari emas putih. Dan pada rantai itu, terdapat sebuah bandul liontin berbentuk butiran salju dengan warna senada.

Ditatapnya harmonica itu lekat. "Aku masih sangat ingat," lanjutnya dengan raut wajah berbinar. Diam sejenak, dan akhirnya kembali membuka mulut, lirih,


"When I was just a little girl, I asked my mother, "What will I be? Will I be pretty? Will I be rich?" Here's what she said to me. "Que sera, sera. Whatever will be, will be. The future's not ours to see. Que sera, sera. What will be, will be"

Gadis itu tersenyum pucat, "Benarkan?" Ia menoleh pada pria yang kini raut wajahnya juga berubah menjadi jingga.

"Apa yang kau cari?"

***

"Apa yang kau cari?" tanya pria itu. Dingin. Di pandangnya gadis itu yang hanya memakai piyama dan syal merah, tampak menikmati angin yang kini menutup sebagian wajahnya dengan helaian rambut.

Gadis itu masih tersenyum. I mengangkat kedua tangan dan mengalungkan harmonica itu di lehernya. "Aku seperti bermimpi. Atau bahkan, aku memang benar bermimpi. Mimpi yang tidak lagi ku ingat. Dan ketika aku terbangun, hanya harmonica ini yang tersisa, menggantung di leherku,"

"Kau hanya tidak memperhatikan apa-apa yang seharusnya sudah menjadi bagian dalam dirimu" ucap pria itu lalu terhembus angin.


"Entahlah... aku mencari sesuatu yang tidak aku ketahui. Maukah kau membantuku?"

"Buka matamu. Kau hanya perlu benar-benar melihatnya, apa yang kau temui selama ini"

"Ah.. ya, kau benar. Mungkin selama ini aku menutup mataku. Hanya melihat bayangan hiatm-putih pada sisiku sendiri"

"Kau belum melihat warna yang sesungguhnya. Kau hanya belum"

"Aku kira aku telah mengetahiu semuanya. Aku lebih tahu daripada dia. Tapi ternyata aku salah. Dialah yang jauh mengetahuiku, dan justru dia juga yang bersembunyi di belakangku"


Pria itu ragu sejenak. Entah, sepertinya ia ikut terseret arus. Tanpa ia sadari, dan tidak pernah terlintas di benaknya. Perkataan gadis itu, membuatnya kalah telak.

"Sosok yang baik"

"Bahkan aku tidak pernah tahu alasannya menyukai petang dan morning glory,"
gadis itu menengadah menatap langit yang mulai gelap. "Tapi aku berusaha untuk tidak menyesal"

Udara mulai terasa dingin, meski suasana dingin telah merebah sejak awal. Pria itu memasukan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana jeans yang dikenakannya,"Ya, kau tidak perlu menyesal"

Ada sesuatu yang sangat dirindukannya. Sama seperti saatnya yang mana ia berjalan di tengah salju. Kemudian beberapa ekor angsa gunung menghalangi langkahnya pada jalanan setapak yang mulai terselimuti salju. Hanya pikirannya saja. Pria itu mengangkat sebelah tangan dan membenarkan posisi kacamatanya,"Esok, benar aku akan meninggalkan tempat ini"

"Lagi"


Suaranya parau. Gadis itu kini mengubah posisinya. Ia berdiri menghadap pria itu. Meski tidak berdaya menatap wajahnya yang memutih bertatahkan sepasang bola mata biru gelap, gadis itu berusaha untuk tetap tegap dan melangkah mendekat. Ia melepaskan syal merahnya lalu berjinjit dan melilitkannya pada leher pria itu dengan gerakan lemah,

"Kau kedinginan,"ucapnya hampir berbisik.


Pria itu tidak bergerak, meski ia tahu gadis yang ada di hadapannya ini jauh lebih merasa kedinginan. Mata gadis itu yang bersinar, seakan-akan ia senang melakukannya.

Gadis itu membalikan badannya dan mulai menjauh. Satu langkah. Dua langkah. Pria itu tetap berdiri di tempat. Sulit sekali beginya untuk membuka mulut meski hanya mengeluarkan satu patah kata. Tiga langkah. Empat langkah. Lima langkah. Enam langkah...


"Ve!!"

Gadis itu berhenti. Ia membalikan badan dan kembali mengenggam harmonicanya,

"Harmonica ini... aku akan menyimpannya baik-baik. Harusnya aku tahu lebih awal. Lagu yang indah Jo, terimakasih,"
gadis itu tersenyum samar dengan seluruh sisa tenaganya. Ia pun kembali melangkah.

"London Eye!! Aku akan menunggumu di London Eye!" Pria itu setengah berteriak.

Sang gadis menoleh. raut wajahnya mulai gelap,

"Ya! London Eye. Jangan kecewakan aku lagi Jo"

"Percayalah padaku"


Gadis itu terus melangkah. Dan keduanya hilang di tengah hamparan bintang. Menanti dan menggiring mereka pada London Eye. Hanya waktu.

London Eye




Drizzlesweet :))

Senin, 09 Agustus 2010

Under The Rain

Drizzle, or whatever about rain. Can you see it? What a wonderful sky! Give some wet spots on to our face. Just feel it, and I love rain!

Rain gives me a beautiful song that can makes me calm. Rain is mysterious, yeah! and I can find it. It's so mysterious.



smile under the rain :))

drizzle sweet greetings!

Kamis, 05 Agustus 2010

Last Night

Wednesday, 4th August 2010
at 21:30 PM


Tepat! Malam ini gue hanya bisa berbincang dengan kesunyian yang mengisi setiap sudut ruang. Gue marah, kesal, bingung, menyesal, sedih dan bahagia?? ya setidaknya gue berbahagia karena gue masih bisa bernafas.

Something wrong!! Sejak awal, gue benar-benar merasa tidak biasa. Perasaan gue seperti berkata, berusaha mengungkapkan sesuatu. Keanehan. Pagi itu gue bertemu dengan seseorang. Orang yang udah sering gue lihat. Bahkan gue sudah mengenal kebiasaannya setiap pagi. Namun entah mengapa, gue justru merasakan sesuatu yang tidak pernah gue rasa sebelumnya. Pertemuan-pertemuan sebelum pagi itu. Layaknyai angin yang melihat hujan membasahi helaian-helaian daun.

Setelah gue tiba, seperti biasa gue berjalan seorang diri. Melewati ruang demi ruang yang tampak sepi. Entah apa yang membawa gue sejauh ini. Gue terus melangkah menelusuri bangunan berlantai dua itu. Dari bawah gue dapat melihat salah satu ruangan dengan pintu yang terbuka. Itu ruangan yang gue tuju. Langkah kaki gue tiba di barisan anak tangga yang berujung di samping ruangan itu. Gue mulai melangkahkan kaki, perlahan, menaiki satu demi satu anak tangga. Gue selalu merasakan sesuatu yang misterius setiap pagi gue melewati barisan anak tangga itu. Gelap dan sepi. Namun entah apa justru gue suka. Dan tepat ketika itu lah gue merasa ada seseorang ikut mengambil langkah. Gue menoleh ke belakang. Dan gue pun bertemu pandang dengan orang itu. Tak ada yang bicara, lalu kami berpisah di ujung barisan anak tangga itu. Untuk beberapa saat, gue merasa ada sesuatu yang kembali.

Sama seperti sebelumnya, gue merasa begitu ....... entahlah, sulit untuk diungkapkan. Bukan karena telah bertemu kedua orang tadi. Lebih jauh dari itu, perasaan gue itu bagaikan firasat. Sesuatu yang nampaknya tidak menyenangkan. Dan benar saja, perlahan tapi pasti akhirnya gue ditujukan pada suatu kenyataan pahit.

Malam ini, di tengah tekanan hiruk-pikuk dunia luar, gue harus benar-benar menyadari sesuatu. Kenyataan itu. Sungguh saat itu, gue bagaikan mati rasa. Tidak dapat merasakan apapun meski hanya bisikan angin. Gue bagai debu yang terhantam tetesan air. Gue benci, sesuatu yang kembali menyeret paksa, menampakan kaki di dinding langit, dan akhirnya terjatuh begitu saja.

"Sumpa! Gue engga ngerti dengan hidup gue. Bilangnya yang namanya kebetulan itu engga ada. Semua yang terjadi dalam hidup adalah pilihan yang kita ambil. Benarkah? Gue engga pernah memilih seperti ini, tapi mengapa justru ini yang terjadi? Sesuatu yang tidak gue harapkan dan inginkan, justru itu lah yang menjadi kenyataan"


Lalu apa yang gue lakukan?
Ya malam ini gue hanya merenung. Merenung bersama "Renungan". "Renungan" yang mengisahkan nada. Dan akhirnya membentuk goresan.

Ketika waktu mengantarkan cinta

Apakah


aku putuskan memilih dirimu?
Setitik rasa itu
Menetes dan semakin parah


Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang
memanggil rinduku padamu


Harusnya


kau seperti udara yang ku hela

Namun nyatanya kau tidak pernah ada
Dan semoga kau benar takan pernah ada


Dan ku mengerti sekarang
Ternyata kita


tidak


menyatu
Di dalam kasih yang suci
Aku


putuskan kau bukanlah cinta terakhir


Dalam "Renungan" pun gue menulis,

"Seseorang melangkah menelusuri jalanan berbatu
Indah
Aku tidak bisa mengatakannya indah
Harusnya hujan tidak turun
karena ini mempersulit langkahnya
Setidaknya hujan tidak membasahi
Jalanan berbatu yang sama
Yang dulu pernah dilaluinya

"Ia menyukai hujan
Hujan yang bersenandung
Memecah keheningan dengan sorakan dedaunan
Menetes, mengalir, menembus endapan debu
Hingga akhirnya melewati ruang langit
Dan kembali menjadi hujan

"Ia terbang bersama angin
Hendak lari dari takdirnya
Andai saja bisa
Lebih baik menjadi air langit
Yang pasti akan jatuh
Tanpa ada pilihan

"Dinamika kehidupan
Lagi-lagi ia terbentur untaian Ira Kusa
Keresahan yang menyelimuti salah satu untaiannya
Mereka saling berbisik bagai duri
Menciptakan batu penghujam
Dan tanpa sadar memuntahkan embun
Di teriknya mentari

"Ia berusaha mengalun bagai melodi
Menjadikan saat-saat layaknya musim gugur
Biarkanlah Ira Kusa itu tumbuh
Merebah dinding yang rapuh
Ia telah kembali melangkah dalam hujan
Dan aku?
Akan ikut bersamanya menembus waktu


drizzlesweet

Senin, 02 Agustus 2010

Orange Sky

“Sayang, ada apa? Ah.. ya ya tunggu sebentar!.. Hallo, sayang mama sedang sibuk. Sebentar lagi acara fashion show dimulai. Maaf ya sayang nanti mama akan menelponmu dagh! Love you!”

Tuuuuuut……

Sera mendengus kesal. Ia belum sempat mengucapkan satu patah kata pun, tapi wanita di seberang sana sudah memutuskan hubungan telepon. Mamanya selalu berkata seperti itu. Namun hingga malam tiba atau bahkan keesokan harinya ia terbangun, tetap tidak ada panggilan masuk di ponselnya.

Sera kembali memandang layar ponsel dan menekan beberapa digit angka.
“Halo pah---”
Suara Sera terhenti. Hanya terdengar nada sibuk. Sera menatap ponselnya tidak percaya. Padahal ia sudah kembali tinggal di Indonesia, tapi mengapa kedua orang tuanya belum juga bisa meluangkan waktu untuknya. Entahlah seharusnya Sera sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini.

Tidak ingin berlarut-larut, akhirnya Sera kembali melangkahkan kaki menuju komplek perumahan tempat ia tinggal seorang diri di Jakarta. Aneh memang, dulu saat ia masih kanak-kanak, rumah itu terlihat begitu damai, penuh kasih sayang dan canda tawa bahagia. 10 tahun sudah Sera meninggalkan rumah itu dan tinggal di Italia bersama kakek dan neneknya. Sekarang begitu ia kembali, ia sungguh tidak bisa percaya dengan bangunan yang sudah ia anggap seperti istananya sendiri. Ia sangat merindukannya. Ia berharap dapat menemukan kembali masa-masa indahnya dulu. Namun kini istana itu hanya sunyi dan sepi. Hanya ruang kosong. Setahun yang lalu ia kembali. Dan setahun yang lalu juga lah kedua orang tuanya meninggalkan rumah itu dan tinggal di Bali. Sera tetap bertahan meski ia merasa kepulangannya ini hanya sia-sia. Ia rela bertahan demi sesuatu yang sangat ia sayangi.

Langkah kakinya berhenti di sebuah taman yang tidak begitu ramai. Entah mengapa Sera menjadi tidak bersemangat untuk pulang. Ia memutuskan duduk di sebuah bangku panjang yang berada tepat di bawah pohon cemara. Sera menengokan kepala memperhatikan sekelilingnya sejenak. Hembusan angin bertiup cukup kencang terlebih lagi ia merasa sedang tidak enak badan. Sera membenarkan posisi topinya dan merapatkan syal bermotif garis-garis merah yang melilit di lehernya. Tiba-tiba terdengar bunyi nyaring. Ia merogoh tas selempangannya mencari sumber dari bunyi itu.

“Halo?”
“Kau sudah pulang?” Suara pria di seberang sana terdengar lembut.
“Sudah, tapi aku sedang tidak di rumah”
“Kau ada di mana?”
“Aku…. Di taman dekat kampus. Kau---“
“Tunggu aku di sana” Pria itu memutus hubungan telepon.

Sera memandangi ponselnya lalu menaruhnya kembali di dalam tas. Kenapa dia? Buru-buru sekali
Hari yang indah memang. Namun tidak seindah yang dibayangkan. Sera baru saja keluar dari ruangan yang kali ini justru membuat kepalanya berdenyut. Dan mungkin ia bisa sedikit bernafas lega karena tidak lagi berada di sana. Sambil menunggu, Sera pun memutuskan untuk membaca sebuah buku karya Naele Donald Walsch yang kemarin baru dibelinya.

“Nona Cavelly!”

Sera menoleh. Dilihatnya seorang pria yang sudah tidak asing lagi. Pria itu berderi di depan mobil spot berwarna hitam lalu melangkah mendekati Sera. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin. Kini wajah tampannya menyimpulkan seulas senyum melihat Sera yang sedang duduk di salah satu bangku taman.

“Ka Dava!” Sera bangkit dan melambaikan tangan memberi isyarat. “Sudah ku katakan, jangan panggil aku seperti itu!” meski suaranya terdengar ketus tapi ia tidak bisa menyembunyikan perasaan hatinya yang kini menjadi tenang..

Pria itu tersenyum riang mengelus kepala Sera hingga membuatnya menunduk
“Aah kaka hentikan!” Sera berusaha menurunkan tangan pria itu.
“Aku bebas memanggilmu apapun yang aku mau mengerti?” Pria itu duduk di bangku taman disusul Sera yang kini berada di sampingnya.
"Ka Dava ada apa mencariku?"
Pria itu menoleh, memandang Sera yang sibuk menaruh bukunya di dalam tas. Lalu pria itu mengangkat sebelah tangannya dan sontak Sera balas memandangnya. Pria itu menyentuh wajah Sera dengan lembut.

"Kau pucat"
Sera hanya terdiam dan tetap memandang pria itu.
"Sera, wajahmu pucat!"
"Oh" Sera mengalihkan pandangannya, "Iya, sepertinya aku tidak begitu enak badan, untung kaka cepat datang. Tapi aku tidak apa-apa"
Pria itu menurunkan tangannya.
"Mm, kaka, ada apa mencariku?" Sera kembali mengulang pertanyaannya.

Pria itu tidak langsung menjawab. Raut wajahnya seperti berpikir “Hmm ada apa ya? Mungkin aku hanya ingin melihatmu” terselip senyum jahil di wajahnya.
“Ah haha, benarkah?” Sera balas menatap pria itu heran dengan kening berkerut. Padahal tadi sepertinya ia sangat terburu-buru saat berbicara dengan Sera di telepon.
“Bagaimana kalau kaka mentraktirku? atau kita jalan-jalan saja?”
“Kenapa? Perasaanmu sedang tidak baik?” Pria itu menyandarkan punggungnya di bangku dan memandang langit.
“Entahlah” Suara Sera nyaris tidak terdengar. “Mm mungkin aku terlalu jenuh berada di rumah,” Ia menoleh dan menyadari kini pria itu sedang menatapnya. Tatapan yang begitu dalam hingga membuat Sera tidak sanggup untuk membalas.

“Kaka, jangan menatapku seperti itu,” Kini suaranya terdengar lirih.
"Padahal kau tadi bilang sedang tidak enak badan sekarang kau justru ingin jalan-jalan?"
“Kalau kaka tidak mau ya sudah” Sahut Sera cepat.

Pria itu mengalihkan pandangannya dan tersenyum puas melihat Sera yang kini menekuk wajah.
“Kau tahu? Langit jingga adalah yang paling indah”
“Apa?” Sera kembali menoleh. Ia tidak begitu menangkap perkataan yang tadi diucapkan pria itu. Namun pria itu hanya membalasnya dengan senyuman. Dan tiba-tiba saja telapak tangan Sera menjadi hangat.
“Ayo kita pergi!”

Selasa, 27 Juli 2010

Wet Spots

Air langit perlahan turun. Senandung angin saling berbisik menghias relung kalbu. Tampak biru dan kelabu. Sesuatu yang pecah dan menebarkan bau basah. Namun menghangatkan jiwa sang buah insan.

Entah apa yang sedang gue rasa sekarang ini. Gue sendiri benar-benar engga ngerti. Sepertinya gue sedang tidak kreatif. Gue hanya mengikuti semilir angin, guguran daun, deburan ombak dan rintikan hujan. Namun sayangnya setelah air langit itu jatuh ternyata dia mengalir ke tempat yang salah. Boleh jadi mungkin titik basah itu harusnya tidak mengalir, tapi meresap ke dalam tanah. Dan dapat menghidupi meski hanya setangkai kuncup dandelion.



This is one of my favorite song, can makes me fly.
"What a Wonderful World". :))

"Hidup itu indah!"
"Hidup itu indah?"
"Ya benar!"
"Ah, hhaha.. Kau benar. Lucu sekali"

I see trees of green, red roses too
I see them bloom for me and you
And I think to myself what a wonderful world.

I see skies of blue and clouds of white
The bright blessed day, the dark sacred night
And I think to myself what a wonderful world.

The colors of the rainbow so pretty in the sky
Are also on the faces of people going by
I see friends shaking hands saying how do you do
They're really saying I love you.

I hear babies crying, I watch them grow
They'll learn much more than I'll never know
And I think to myself what a wonderful world
Yes I think to myself what a wonderful world


What a wonderful world! :))

Minggu, 25 Juli 2010

Secret Of My Heart

"Donna kotoba ni kaete kimi ni tsutaerareru darou. Arekara ikutsumo no kisetsu ga. Toorisugita keredo itsumo soba de waratteru. Watashi nimo ienai koto ga mada hitotsu dake aru. Secret of my heart utagattemo nai ne. Itsu datte sukoshi no mirai ga areba. Shinjitsu wa te ni irerareru hazu. I can't say mou sukoshi dake. I'm waiting for a chance. Konna odayaka na toki motto tsunagatteitai. Subete o miseru no ga kowakute. Sukoshi hanarete aruku kimi no yokogao ga nazeka. Kowaresou de mamoritai motto chikazukitai yo. Secret of my heart wakattekureru yo ne. Dare datte nigetai toki mo aru kedo. Soredake ja nanimo hajimaranai. I can't say kitto kanarazu. I'm calling for a chance. Can I tell the truth? Sono kotoba iezu karamawari suru kuchibiru ni. Feel in my heart kakusenai kore ijou. 'Cause I love you. I will be with you. Wherever you are. Can you feel my heart? Can you feel my heart? Can't you see, you're my dream ushinaitakunai yo. Taisetsu na kimi to sugosu kono jikan. Akirameru kurai nara shinjite. I just wanna say mou mayowanai. Can't you see, you're my dream donna tsukurimono mo. Kantan ni kowareteshimau hi ga kuru. Dakedo mata itsumademo kawaranai. Secret of my heart Our future is forever."



if I were to change the words I say to you, do you suppose they would reach you? Since that time, many seasons have passed. But even though I always smiled at your side. There is still one thing I can't say.

Secret of my Heart, I have no doubt. If there will ever be a little bit of tomorrow. The truth ought to be placed in our hands. I can't say, just a little more. I'm waiting for a chance.

In this peaceful time, I want to connect a little more. I'm afraid to show you my soul. For a while, I walk apart from you, but why is it that your face. Looks about to break? I want to protect you, I want to be close to you.

Secret of my Heart, you understand, right? Everyone feels like they want to escape sometimes. But if that's all we do, then nothing can begin. I can't say, but surely, absolutely. I'm calling for a chance.

Can I tell the truth? These words I cannot speak hover around my lips. Feel in my Heart, I just can't hide any more than this, 'Cause I love you...

I will be with you
Wherever you are
Can you feel my heart?
Can you feel my heart?

Can't you see you're my Dream? I can't bear to lose. This precious time I have spent with you. When you feel ready to give up, just believe. I just wanna say, I'm not lost anymore. Can't you see you're my Dream? there will come a day. When all the lies will easily be broken apart and yet, things will never change. Secret of my Heart, Our future is forever...


:))

Rabu, 21 Juli 2010

The End Of an Old Story

Still remember about Pen and Pencil? Um, that's my story. No! exactly just my old story.

How's it going? Still continues or ,,, ?


asked my friend. Maybe She is the one who knows, and she makes me to write this.

OK guys! Now I want to tell, that there is not story about Pen and Pencil any more. That story had ended. THE END.

The end of Pen and Pencil. Have long time I want it. The story was too hurt for me. But before, I could not delete it, so difficult. I just could save, save, and save it on the paper. Pen was very meaningful for me. The first person that made me insomnia. The first person that made my days confused. The first person that made me look ridiculous and the first person that made me cry! Really I can not forget it.


The sentence which I said,

“Can you feel my heart?”


You are so kind. But however, I can not feel your kindness. Of course because the distance between us. The distance that can not be seen by you, me and the other people. I didn't know what did you feel or may be did you feel what I feel? Then create a wall between us? Both of us didn't give hope each other. But we know, ourselves want that hope.

And how about now? After I tried to continue to achieve, but still not successfully. I had stand alone, but you still didn't look back. And finally I decided to remove all because it was too hurt. Then suddenly you come back. Come back at the wrong moment.

Of course I want you to come back, but not this moment. I have written a lot of about you. And now, I just want to erase it. I can see you clearly, but my heart can't anymore.

Really I don't hate him. I just hate our story but not him . I hate "Pen and Pencil". I don't want it repeated. “Pen and Pencil” is my nightmare.

"Pencil and Eraser" this is my dream. Not "Pen and Pencil". I just want to change my story, our story. So I let you go. I'll set you free. And I hope someday there is a person that can be an eraser for me. And I will become an eraser too for him.


The last sentence from me,

"Thanks, nice have to know you! See yea!"


:))

Minggu, 18 Juli 2010

Decide to Post My Report Text

Confuse, confuse and confuse! Oh gosh! too much that I feel. I don't know how to share these, but I really want. Yeah my mood is not good, but I can not write everything. It's too long and too hurt. And of course because my busy time, a lot of task from school.

Because I don't know what will to write, so I decide to post my English task. Just to keep writing. Nghaha.. a silly girl x))

This is my Report Text "Seasons In Our Country"

Every place in the world has seasons. But kind and sum of the season are different in one place with the other place. For example, the countries that in cold climates, like Japan, Italy and USA have four seasons. They are spring, summer, autumn and winter. This is of course different with the countries in tropical climates. Indonesia is located in the equator, automatic is a tropical country that just has two seasons, rainy season and dry season.

in Indonesia, rainy season happen from Oct to march. It is because at that moment, West Munson Wind that blow from North Northwest contain a lot of steam water. So, Indonesia which passed by the wind, has a high rainfall

And dry season, happen from April to September. Because at that moment, East Munson Wind blow from South southeast, contain little of moisture. So in this season rarely rains. Even in some area, this condition causing drought and water crisis

And one more season that really influential in Indonesia, transition season or 'Pancaroba'. 'Pancaroba' is transition between two seasons. Rainy season and dry season usually occurs in April and May. Or between dry season and rainy season occurs in Oct and December. In this season, weather will often change. the high frequency of storms, very heavy rain accompanied by thunder, and wind blowing. beside that people must be careful because in this season many spread the disease.

D.F

Senin, 12 Juli 2010

More Practice With Bloging

Oh no!
Do you know? My English is not good enough. That is one of problems that I have. Especially for my study in school. Because my school is an international senior high school, so the student must have good speak in English. And how about me? Yeah I think I don't speak English smoothly. If my teacher ask to me in English, so I have to answer with English too, but I don't know why, my mouth was so difficult to open. Whereas I had got the answer in my head, but It is too difficult to said.

Now I'm going to the second grade in senior high school. Moreover I'm going to the science class. And all of the science lesson will use English. Yes or no, I have to raise my English speaking. I have a lot of friend that have good speaking in English. Sometime I feel jealous with them. But how? I don't take an English course. So my English is not better than my friends.

Did I give up? Yes, I have thought like that. But I really said thanks to my friend that gave me the spirit. She is also the same as me; have not well enough in speaking English. So we make a deal. We will use English for our conversation. At the first time, of course it is so funny. We just keep silent. Confused what will be discussed. And at the moment even we laugh each other.

Step by step, we start to make conversation. Whatever. We speak English each other. Although there were some mistakes, but we ignored it. Just for to be nerve to speak English. We talked about our teacher that we dislike, about the tasks, about our friends and about our favorite singer, Christian Bautista etc.

I know that English is an important language, but however I don't like it. May be I have got trauma with English. I'm sorry can not share it, but that moments really make me uncomfortable and depressed. So, I prefer Italiano.

I have got dream, one day I can go to Italy and learn the language there. That is my biggest dream! And I hope it isn't just a dream. I love Italy! Of course after Indonesia. lol xD. Oh gosh! Maybe I too nerve to dream.

It is my second posting which use English. Why? Whereas last, I say dislike with English. Yes Of course because my biggest dream! xD I realize, how I can learn Italian if my English is not good? How I can go to Italy if I can not speak English? Oh gosh!

Because that, I write this. Maybe I make a lot of mistakes. But what can I do? Because I’m an Indonesian that don't have English proficiency naturally. Because I don't take any English course. And because my friend doesn't with me again, so I just can more practice my English with writing. From this moment, I start to writing with English. Yeah good luck for me!! xD

Jumat, 09 Juli 2010

Life is Like a Piano

Hahhh....!!
engga kerasa liburan gue yang dua minggu tinggal menghitung hari.
Selama itu gue full stay at home!!! Tapi engga masalah sih, gue tetep senang. Gue benar-beanr anak rumahan sejati.

Seperti yang pernah gue bilang, so selama liburan gue capcus writing. Gue lagi proyek bikin novel. Hualah! gaya ajah. Haha... Sejauh ini gue baru nulis empat bab. Itu juga gue hasilin dengan susah payah. Masih dengan masalah yang sama yaitu abank-abank gue yang jahil minta ampun! Gue sampe harus ngumpet-ngumpet buat nulis di buku tulis. Kalau abank gue dateng, gue langsung tutup buku. Terus kalau gue tidur, bukunya gue taruh di bawah bantal. Yang lebih parah kalau ceritanya mau gue ketik. Abank-abank gue udah berdiri aja di belakang nontonin gue yang duduk di depan computer kaya nunggu antrian. Aghh..!! mengganggu privasi.

Oh iya, sekarang saat ini juga gue posting, gue lagi sendirian di rumah, jadi bisa bebas. Horeee!!

Gara-gara sering baca novel, gue jadi kepingin nulis novel. Proyek penulisan novel gue masih dengan cerita yang udah gue posting dengan judul "My Teddy Bear In Roma". Tapi mungkin ada yang sedikit dirubah. Mm.. judulnya juga kayaknya bakalan gue rubah deh. Judul yang gue rasa tepat sekarang yaitu "Whatever Will be Will Be"

Gue mau kasih bocoran deh tentang ceritanya. Mungkin dari judulnya aja udah bisa ketebak kali. Binggo! Novel gue bercerita tentang gadis Indonesia bernama Sisildira yang pergi ke Italia tapi entah apa tujuannya. Dia tidak mengikuti kata hatinya. So, dia pergi ke Italia untuk menjadi orang lain yang tentunya sangat Ia sayangi. Dia mengabaikan impian-impian awalnya demi mewujudkan mimpi orang itu. Akhirnya ia bertemu dengan Rakheil pria Italia yang mampu mengisi hari-harinya. Rakheil juga membuat jantung Sisil berdebar dua kali lebih cepat ketika berada di dekatnya. Dan tanpa sadar Rakheil kini menjadi impiannya. Namun sayangnya, Sisil masih merasa ragu. Ia tetap bertahan meski hatinya sudah menejerit. Hingga akhirnya kejadian masa lalu itu terbongkar dan justru menyakiti orang yang kini ada di dekatnya hingga ia harus rela bahwa orang itu tidak akan lagi memanggil namanya. Dan setelah itu semua terjadi, Sisil tersadar sepertinya ia telah terlambat mengambil pilihan.

Hohoho.... gimana? Setelah kepala gue jungkir balik, akhirnya gue menemukan alur cerita di atas. Bodo amat ahh, yang penting jdi dulu. Yaa semoga cepat terselesaikan meski hari-hari di depan bakal penuh dengan hiruk pikuk suasana kelas baru.. Jengjeng!! Doa in aja cepet kelar deh.!!

Satu lagi yang sepertinya msih mengganjal. Yup! judul posting ini. Setelah dibaca-baca.... kok engga nyambung yaaa??!!

Haha.. iya sih engga nyambung. Jujur, selama gue proses menulis, akhirnya gue dapat mengerti apa itu hidup. Awalnya gue mau jadiin bahan buat novel gue, tapi malah gue sendiri yang terhipnotis dengan pikirang gue yang tiba-tiba aja mengatakan "Life Is Like a Piano".
Ya memang benar. Hidup itu bagaikan piano. Mungkin ada yang masih bingung dengan definisi gue tentang hidup. Tapi kalau kita cermati dalam-dalam, definisi gue itu emang benar. Sayang banget gue engga bisa menjelaskannya lebih dalam di blog ini karena masih menjadi privasi gue sendiri :))

Sabtu, 26 Juni 2010

Just a Memory

Setelah gue kelimpungan setahun belakangn ini, akhirnya tiba juga lah TAKDIR! Apakah ini takdir?? Rasanya gue masih sulit untuk percaya. Sebelumnya gue juga merasa bimbang. Apa yang gue lakukan ini benar?? Satu hal yang gue rasa bodoh, pengalaman gue. Gue engga mau jatuh di lubang yang sama. Tapi, hal ini benar-benar sulit.

Belajar dari pengalaman gue sebelumnya, gue udah berusaha melakukan segala cara untuk mewujudkan harapan gue. Gue juga berdo'a, "God bantulah aku, beri aku kemudahan, wujudkanlah harapanku ini". Di saat seperti itu gue benar-benar merasa dekat. Ya mungkin, gue berhasil.

Dunia ini memang seperti roda, berputar. Dalam keadaan seperti inilah gue terhempas. Gue menyesali keberuntungan gue atau bahkan takdir!? Sesal!! Apa yang telah gue lakukan? Egois!! Gue memang orang yang egois! Gue malu pada diri gue sendiri.

Ya. Gue hanya manusia biasa, penuh dengan kesalahan. Dan tahukah? gue udah banyak melakukan kesalahan. Bahkan penyesalan gue, itu juga merupakan kesalahan yang gue lakukan. Memang bodoh.

Lupakan! Sudahlah, masa lalu tak mungkin kembali. Sia-sia. Hadapilah yang sekarang dan jangan menoleh kebelakang!

Setahun sudah, gue mulai merasakan lika-liku kehidupan. Dan tibalah saat dimana gue herus melakukan hal yang sama. Pikiran gue penuh dengan hal-hal konyol. Kebimbangan dan keresahan. God, tunjukanlah jalan yang terbaik. Gue engga mau menjadi sosok egois untuk yang kedua kalinya. Gue menarik nafas sebelum akhirnya hanya bisa berkata "Apapun yang terjadi, mungkin itu yang terbaik".

Yang terbaik. Gue berharap tidak akan timbul penyesalan lagi. Ya, karena ini yang terbaik. Yang terbaik ini mungkin takdir gue. Hidup gue. God, berikanlah aku kekuatan. jangan Engkau biarkan aku lelah. Gue harus siap dengan jalan yang akan gue laluin. Semoga benar gue tidak bersikap egois.

Satu lagi, gue melakukan kesalahan. Ternyara hidup gue engga benar-benar hanya sekedar lembaran kertas putih. Goresan hitam itu, memang benar adanya.

Kamis, 24 Juni 2010

Constellation

Suatu malam, langit bertaburkan permata bintang. Hening dan sunyi, Opa menyukainya. Beliau duduk di pekarangan rumah. Pijaran bohlam lampu memberikan pencahayaan membantu penglihatan Opa yang sedang membaca sebuah buku. Tercium aroma sedap secangkir kopi buatan Oma yang diletakkan di atas meja. Sesekali Opa menyesapnya. Aah… sungguh nikmat…..

“Opa! Opa!” Tiba-tiba terdengar langkah kaki kecil memecah keheningan. Opa tentu mengenali suara itu. Pandangannya pun beralih, Opa menaruh bukunya. Beliau mencoba menerawang kegelapan mencari sosok yang tadi memanggil.
“Dira?” Opa mendapati seorang gadis kecil berlari mendekat. “Dira kamu mau kemana? Hati-hati nanti kamu jatuh!” Opa bangkit dari duduknya.
Dira mendekap “Dira mau main sama Opa!”
“Dira mau main sama Opa? Sekarang sudah malam. Cucu Opa harus tidur.” Opa menggendong Dira dan memangkunya.
“Malam ini Dira tidur di rumah Opa ya?”
“Boleh, tapi Dira sudah bilang mamah?”
“Udah Opa. Mamah bilang boleh.”
“Ya sudah, sekarang ayo masuk. Cucu Opa tidur.” Opa menurunkan Dira dari pangkuannya dan menggandeng Dira masuk.
“Yah Opa. Masa langsung tidur? Dira kan belum ngantuk.” Dira menahan Opa. Terdengar nada kecewa.
“Dira, sekarang kan sudah malam, Tidak baik tidur larut malam.”
“Opa sendiri juga belum tidur. Opa curang!”
Opa menjelaskan, namun Dira tidak memperdulikan penjelasan Opa. Dira merasa kesal. Opa sangat menyayangi Dira, beliau tidak tega pada Dira. Opa akhirnya mengalah. Sekali tidak masalah pikirnya. “Ya sudah. bilang sama Oma bawakan selimut tebal. Opa tunggu disini.”
Mendengar perkataan Opa, raut wajah Dira tiba-tiba berubah cerah, “Asiiik!! Iya, Opa tunggu Dira ya.” Dira cepat berlari kedalam rumah menghampiri Oma. Dengan sekejap ia kembali sambil memeluk selimut tebal yang diberikan Oma.

Opa menggandeng tangan Dira. Langkahnya terhenti pada sebuah anak tangga. “Nah Dira, ayo naik. Hati-hati, sini selimutnya biar Opa yang pegang.”
Dira heran. Perlahan ia melangkahkan kaki kecilnya satu-persatu melewati anak tangga. Meskipun ia sering main ke rumah Opa, ini pertama kalinya Dira melewati anak tangga ini. Dira juga tidak tahu barisan anak tangga ini berujung dimana. “Opa, di atas anak tangga ini ada apa? ” Dira tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Opa tersenyum, “Dira akan tahu sendiri. Ini tempat kesukaan Opa waktu muda dulu. Dira juga pasti suka.”

Langkah kaki Dira terhenti di depan sebuah pintu. Ia tidak sabar ingin cepat-cepat mengetahui ada apa di balik pintu itu. Tangan Opa memegang knop pintu, perlahan-lahan membukanya. Kreeeeeek.! Pintu itu tidak kalah tuanya hingga menimbulkan bunyi yang tak sedap. Dira perlahan menengok. Apa yang ia lihat ternyata tidak sesuai dengan apa yang ia pikirkan.

***

Kreeeeeek!!

“Opa, ini tempat apa? Tidak ada apa-apa disini.” Dira mulai melangkahkan kakinya. Ia melihat sekeliling. Hanya terdapat sebuah bangunan kecil ya mungkin bisa disebut sebuah kamar karena terdapat tempat tidur dan sebuah meja kerja. Dira pun bertanya-tanya dalam hati ‘Ini tempat apa? Kenapa Opa menyukai tempat ini? Tidak ada yang menarik. Tempat ini kenapa? Sebuah ruangan di dalam ruangan? Ah bukan! Tepatnya apakah ini ruangan?’

Opa tersenyum melihat tingkah laku Dira. Beliau telah menduga cucunya akan merasa heran. Tapi tidak masalah, sebentar lagi Dira akan mengetahui apa yang Opa maksud. Opa mulai mengalihkan perhatiannya pada sebuah kotak besar yang ditaruh di bawah tempat tidur. Opa menarik dan membuka kotak itu. “Kalau tidak salah Opa menaruhnya di sini.”
Opa mengelurkan sebuah benda panjang yang ditutupi oleh kain putih. “Opa, itu benda apa?” Dira mendekat, penasaran dengan benda yang ada di tangan Opa..
Opa membuka kain putihnya perlahan. Raut wajahnya mencerminkan kerinduan. Tangan Opa meraba sebuah tulisan pada benda itu, 1956. “Yah, sudah lama sekali Opa tidak menyentuhnya.”

Dira ikut-ikutan menyentuh benda itu. “Waah… Benda apa ini Opa?”
Opa tidak langsung menjawab pertanyaan Dira. Beliau malah mengajak Dira keluar. “Nah Dira, sekarang kamu lihat ke langit malam ini.”
“Mm.. Indah Opa. Seperti kembang api.”
Opa memasang benda itu sedemikin rupa di atas sebuah kaki tiga yang sudah merupakan perlengkapan benda itu. Beliau juga mengatur ketinggian kaki tiga dengan tinggi Dira. Opa mendekatkan matanya pada lensa. “Dira coba lihat ini!”
“Apa? Opa lihat apa?” Dira mendekatkan matanya pada lensa. “Waaah… Cantiknya! Indah sekali Opa.” Dira terpesona.
“Benda ini adalah teleskop. Kalau Dira mau lihat bintang, Dira bisa menggunakan teleskop ini.”
“Teleskop yah… Benar-benar hebat.”
“Setiap bintang akan membentuk rasi bintang. Coba Dira lihat rasi bintang itu.” Opa menunjuk tangannya pada sebuah rasi bintang di langit utara.
“Ya. Dira lihat. Bentuknya seperti gayung, benarkan Opa?”
“Benar, cucu Opa pintar. Itu adalah rasi bintang Biduk.” Dira mengangguk-ngangguk.
“Opa lihat, rasi bintang itu berbentuk seperti huruf ‘w’.” Dira menoleh. Sepertinya ia mulai tertarik pada kegemaran Opa mengamati bintang.
“Huruf ‘w’ ya? Mm... Itu adalah rasi bintang Cassiopeia. Nah Dira lihat, bintang yang berjarak lima kali garis lurus dari kedua ujung huruf w dari bintang Cassiopeia yang ditarik mundur kemudian dihubungkan dengan bintang yang di bagian tengah.”
“Mm…. “ Dira berusaha mencerna perkataan Opa. Ia memutar otak dan kedua bola matanya mencari keberadaan bintang yang Opa maksud “Iya Opa, ketemu! Bintang itu, agak redup tapi sangat jelas.” Dira tersenyum cerah.
“Bintang itu adalah Polaris.”
“Polaris? Apa itu Opa?” Dira bertanya dengan wajah polos.
“Polaris adalah Bintang kutub utara. Di kutub utara Polaris digunakan sebagai penunjuk arah.” Opa menjelaskan.
“Begitu ya? Mm bagus…”

A Dreamer But Not Just Dream

Engga kerasa, udah satu tahun berlalu. Kehidupan gue setahun belakangan ini sungguh berbeda. Engga bisa gue sangka. Ya, kehidupan gue yang sesungguhnya. Menjadi penentu bagi diri gue sendiri. Sekali lagi gue ucapin thanks to Allah. Gue akhirnya bisa mengerti tentang kehidupan. I belong to Allah, I still life so I have a lot of problem. But I'm sure that Allah loves me. Setelah setahun ini gue bisa merasakan kasih sayang Allah sesungguhnya. Gue yakin, sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan. Dan gue benar-benar merasakan itu.

Mimpi. gue ingin mejadi seorang pemimpi. Gue engga boleh takut untuk bermimpi. Gue harus terus bermimpi. Mimpi adalah awal dari motivasi. Gue akan berusaha meraih mimpi itu. Allah ada bersama gue. Allah akan menuntun gue, memberikan jejak-jejak menuju mimpi itu.

Rabu, 16 Juni 2010

Tuesday, 05.01.10, 23:20

Udara yang menerpa tubuhku ringan
dibawah alunan melodi yang senantiasa merangkul tubuhku
ku taruh sesuatu diatas kepalaku saat terlelap
entah mengapa, itu membuatku nyaman

di tengah malam ini aku terhanyut
berusaha mencari duniaku sendiri
Pikiranku penuh dengan hal-hal konyol
sungguh membuatku muak!

ku dengar kembali alunan yang sangat pahit
benar-benar menyeret paksa tubuhku
alunan yang sangat sulit untuk diungkapkan
namun sangat menusuk!
memberikan rasa sakit atau bahkan kegembiraan

sendu air bergema
ku temukan saat yang damai
tak berkesan

"In The Middle Of Summer"
rasanya aku mendengar kalimat itu
kata-kata yang sekejap saja menghilang

kini aku kembali ke duniaku
seperti terseret arus yang kuat
namun aku tidak berusaha bangkit
arus itu memberi sesuatu dalam hatiku
yang selalu membuat tubuhku bergetar

hasrat yang bisa muncul denga tiba-tiba
hasrat untuk terhanyut dalam alunan mengungkapkan rasa
dan aku pun lelah

Tuesday, 05.01.10, 23:20

Senin, 14 Juni 2010

Pena.. Hate oR Love ??!

I love books, I love libraries, I love drawing, I love reading, I love classic, I love music, I love Muse, I love chocolate, I love ice cream, I love lollipop, I love lotus, I love autumn, I love snow, I love photography, I love Italy, I love clouds, I love rain, I love red, I love fireworks, I love games, I love anime, I love cartoon, I love dreams, I love peace, I love stories, I love writing, I love pencil, and I HATE PENA, don't I??

Happines is a Choice

Selama ini gue engga sadar kalau hidup gue ini just FLAT!!
Tapi gue bersyukur, GOD ngasih petunjuk pada gue. Beberapa hari yang lalu gue merasa hampa banget. Terlebih lagi ibu gue pergi ke Jakarta buat menghadiri acara wisuda S1. Gue benar-benar kosong. Apa yang ada pada hidup gue belakangan ini?? Gue tepat banget meneteskan air mata ketika gue baca tulisan-tulisan yang ada di diary gue. Gue baru sadar, sekarang ini hidup gue engga lebih dari hanya sekedar black and white. Gue engga menemukan lagi cerita-cerita di diary gue. JUST EMPTY PAGES!! Jauh dari kehidupan gue yang dulu, penuh kisah dan berwarna. But now, NOTHING!! Engga ada yang perlu dikenang, atau bahkan engga pantas untuk dikenang. GOD, gue sedih banget dengan kenyataan ini. Semua yang gue miliki dulu, sekarang engga berbekas sedikit pun. Hanya kepiluan yang hadir saat gue cuma bisa mengenangnya kembali. Waktu cepat sekali berlalu. Dan memang lebih baik cepat berlalu, kisah yang sepi tanpa arti.

Gue engga mau berlarut-larut. Sudahlah, gue engga perlu ngebutuhin apa yang engga ada. Kehidupan gue yang sebenarnya adalah kehidupan gue saat ini.

Let me tell. This is the time of my life. Now, I want to be a happy girl. Yeaaaah..!! I'm a happy girl.!! Just...

LIFE, DREAMS, AND PEACE. FIGHTING!!!


Thanks God for your kindness..

Minggu, 13 Juni 2010

New Account

Guys!! Haha.. gue baru bikin akun di Twitter. Gilak yaa.. NORAK!! hehe... Enggak apa-apa sih. Sebelumnya gue aktif banget di Facebook, tapi setelah gue tahu ternyata dibalik Facebook itu apa.... Huh! Bikin gue kesel!! Tapi gimana yaaa... Gue belum bisa delete akun facebook, so gue bertekad untuk pasif sama yang namanya FACEBOOK!!!!

Alasan gue belum bisa delete akun Facebook sederhana aja sih. Gue enggak takut bakalan dibilang enggak gaul, gaptek atau apalah, ketinggalan info dari teman-temanlah, aaagh.. I don't care!! So, apa alasan gue sebenarnya????!! JUST SIMPLE..

Gue belum bisa berhenti main game Facebook!!!
Haha.. Gue maniak game emang. Sumpah deh! Bener! Gue ngerasa nyaman kalau main game.

Ya. Final, gue mutusin buat bikin akun Twitter. Gue cuma pake Facebook buat main game. Ok!! Guys.. Ini akun Twitter gue

@nisakomaryah

Terserah sih mau follow atau enggak (Haha.. emangnya penting ya follow?). Enggak!! Enggak penting banget sumpah!!!

Yaudah deh, terserah ajah pokoknya mah. Tapi kalau follow, tenang aja, gue bakal follback kok...



Yup Guys!! Thanks..... :D

Sabtu, 12 Juni 2010

MIND WRITING

Hellow hellow hellow..!! Haha akhirnya gue bisa lnjutin posting gue lagi. Yup!! gue masih punya utang tentang buku MIND WRITING. Nah sekarang, ini baru posting tentang MIND WRITING yang sesungguhnya. Eh, tapi gimana yaa..?? Guys, gue belum selesai baca MIND WRITING, udah hampir dua minggu lebih,(Gilee!! setebel apa sih bukunya?). Enggak, enggak tebel, biasa aja kok, standar suerr! (Lah sih? haha.. so busy right?) No, no, no!! Haaah... gue ketagihan main game tau!! So, gue lebih sering ngegame daripada baca. I'm a gamer, haha..(autis!!)

Ok! ngalor ngidul lagi tuh kan?! Kembali ke tema, MIND WRITING!! GUe baru baca dua bab. Parah! Kerjaan gue akhir-akhir ini ya ngegame. Mm.. ga apa-apa deh, gue akan tetap ngasih tau apa aja yang udah gue dapet dari MIND WRITING.

First, gunakan teori 5W+1H untuk mengembangkan tema tulisan kita. (ya. ya. udah pernah diajarin sama guru bahasa Indonesia)

Second, Saat kita menulis, jangan pedulikan Omongan "Otak Kritis".
Mm... Apa ya maksudnya?? Buat kalian yang masih merasa bingung dengan pernyataan diatas, gue akan menjelaskan. Hal pertama "Otak Kritis", guys, benar banget setiap gue menulis pasti otak kritis gue bicara, dan kadang-kadang gue justru terpengaruh dengan otak kritis gue. Hal inilah yang ternyata kurang baik. Ok, sebenarnya apa sih otak kritis itu? Otak kritis adalah dorongan yang timbul dari otak kita untuk memperbaiki atau mengoreksi tulisan yang sedang kita kerjakan. Nah, inilah yang sering membuat kita untuk ragu dalam menulis. Otak kita mempunyai nalar atas kesalahan-kesalahan yang mungkin kita lakukan. Saat kita menulis sering kali kita membaca ulang tulisan kita, memikirkan penggunaan kata atau kalimat yang efektif atau bahkan dapat membuat kita berfikir ulang atas tema yang kita buat. Ya! Trouble maker. Olehkarena itu, saat menulis kita harus melakukannya satu-parsatu agar kita bisa konsisten. Selesaikan dulu tulisan kita, setelah itu baru kita koreksi. Abaikanlah otak kritis kita sejenak. Karena sesungguhnya dialah yang sering menghambat ide-ide yang muncul. Otak memang penting, tapi ada kalanya bagi dia untuk mengkritisi tulisan kita dan juga untuk kita istirahatkan.

Hal-hal diatas sangat membantu gue dalam menulis. Ternyata benar banget tentang si otak kritis itu. Yup! Untuk sementara kita abaikan otak kritis kita.

Next. Guys, ternyata buku MIND WRITING ini engga hanya memberikan teori pada kita sang pembaca, tapi juga langsung dengan praktik. Istilah lainnya, "TASK"

(Hah? Tugas? Ya ampuuun!)
Haha.. mungkin ada dari kalian yang langsung berkata seperti itu. Kalau kita mendengar kata tugas, kita biasanya langsung malas. Tapi "TASK" yang ada di MIND WRITING ini beda loh. Malah bikin kita penasaran untuk melakukannya. Mm... emang TASK yang ada di MIND WRITING apa aja sih?? Sejauh ini gue baru dapat tiga TASK (Yaiyalah, baru juga baca dua bab). Ok, langsung aja pada TASK pertama..

Pertama-tama, Gue disuruh untuk menyiapkan dua lembar kertas kosong ukuran folio atau kwarto, pulpen untuk tanda tangan, dan jam atau stop wacth. Setelah itu baru pemberian tugas.

Tugas Pertama. Pegang pulpen menggunakan tangan kanan. Tataplah kertas, atur stop wacth dan mulailah menggoreskan tanda tangan. Penuhi lembar pertama dengan tanda tanagan SECEPAT-CEPATNYA! Setelah selesai, lihat waktu yang diperlukan.

Tugas Kedua. Pegang pulpen menggunakan tangan kiri. Tataplah kertas, atur stop wacth dan mulailah menggoreskan tanda tangan. Penuhi lembar pertama dengan tanda tangan SECEPAT-CEPATNYA! Selesai? Maka segeralah kita lihat waktunya.

(Mm... Bingung??? Sebenarnya untuk apa sih tugas-tigas sepeti itu?)
Pertanyaan bagus guys!

Jumat, 11 Juni 2010

Test Test Test. How About Writing?

AAAaaaaaaaaagh!! gue engga tahan lagi, Udah lama banget gue absent nulis. huhuhu.. di sekolah gue lagi ada test kenaikan kelas, so konsentrasi gue terbagi. Gue jadi bingung. Banyak banget yang pingin gue tulis. Tapi gue mesti tahan, coz kalau udah nulis, gue bisa lupa diri, dibaca*Long.

Pokoknya buanyak, buanyak banget. Yah berhubung gue engga bisa ngepost yang panjang-panjang kaya posting-posting gue sebelumnya yang udah panjang bejibun, kali ini gue cuma pinging melampiaskan kerinduan gue akan menulis. Yaudah deh, segini ajah, jangan panjang-panjang. Pas liburan, baru gue capcus writing lagi :D

Oh iya.. semoga hsil test gue bagus dan gue bisa naik kelas dengan nilai yang bagus juga. Kan engga sia-sia selama ini gue absent nulis... Haha..!(garing)

Minggu, 30 Mei 2010

Looking For

Buku.. Buku.. Buku..
Gue suka buku, apalagi novel. Gue selalu bermimpi, suatu saat nanti ingin sekali rasanya membangun sebuah perpustakaan dan taman bacaan yang besaaar. Hobi gue sendiri mengoleksi buku. Gue juga sedang membuat mini library di kamar. Namanya juga mini jadi bukunya juga msih sedikit. Engga apa-apa deh nanti juga banyak.

Buku terakhir yang gue beli judulnya MIND WRITING karya Herien Priyono. Gue beli kalau engga salah tanggal 27 Mei 2010. Engga sengeja sih, awalnya gue ke Gramedia buat nyari novel karya Ilana Tan. Pas gue di sana, gue hampir-hampir frustasi nyari novelnya Ilana Tan. Huaalah..! Engga ketemu-ketemu. Gue kecewa banget. Padahal baru beberapa hari yang lalu gue ke Gramed novelnya masih ada. Tapi gue engga beli gara-gara..? biasa krisis ekonomi gitu. Giliran gue udah engga krisis ekonomi, eh malah novelnya keburu engga ada. "Haabis?" Gue bertanya sendiri setengah ga percaya. Yang bisa gue jawab dari pertanyaan gue sendiri cuma "Oh My God!". Sebel!! Udah lama banget gue pingin beli novel Ilana yang Spring in London dan Autumn in Paris. Gue pingin buletin koleksi novel Ilana. Yaah.. Rencana emang rencana, engga selamanya lancar. So, gue bengong, ngukur lantai Gramedia. Mondar-mandir kaya setrikaan. Ya udah gue pulang.

Beberapa hari kemudian.
Gue balik lagi ke Gremedia. Kali ini gue engga sendiri, gue pergi sama teman. Napa ya gue balik lagi??? Hahaha.. Gue masih penasarn rupanya. Gue engga bawa uang sama sekali kebetulan juga gue baru pulang sekolah. Gue cuma mau mastiin kali aja sekarang novelnya Ilana udah ada. Begitu sampai Gramed, gue langsung clingak-clinguk. Duh mana ya?? Kedua mata gue kerja rodi. Alhasil, gue compong untuk kedua kalinya. Hah? Engga ada juga? Busset dah!! Heran deh, padahal yang Spring in London kan baru rilis bulan Februarai, ko sekarng udah susah banget dicarinya? Apa saking larisnya gitu? Huhuhu... Gue kecewa banget. Gue pun berkomat-kamit dalam hati sebelum akhirnya gue benar-benar SHOCK!!! Gue melongo, COMPONG!!! Hah? yang benar aja? Hati gue seperti remuk. Ya! mata gue tepat nemuin kumpulan novelnya Ilana di atas meja Best Seller. Tapi bukannya bikin gue seneng, ini malah bikin gue.. Aaargh! Aaargh! Aaargh! Sial!! (HISTERIS!)!

Box Set Ilana Tan


Setengah sadar gue meringis dalam hati. Aaaargh sebel!! Ko novelnya dipaket-paketin gini?? Harus beli empat novel sekaligus?? Oh tidaak!! Haha..(garing) ni novel ngerjain gue banget deh. Gue kan udah punya yang Summer in Seoul dan Winter in Tokyo. Kalau beli yang paketan, masa gue beli lagi?? Huhuhu... Hati gue naik turun. Gue pun cari hiburan lain ikut teman gue ke bagian psikologi. Lumayan, hati gue lebih tenang. Gue baca beberapa buku psikologi. Pandangan gue beralih pada rak buku psikologi terapan. Nah! Tepat pada saat itu gue lihat buku yang judulnya MIND WRITING. Gue langsung ambil. Sedikit baca sinopsis cover belakang buku itu. Hati gue beregetar (jeng-jeeng). Gue langsung tertarik. Gue mau beli buku ini. Eh, tapi gue engga bawa uang cukup. Yah, mesti ditahan lagi deh. MIND WRITING, semoga kita berjodoh ya??

Seminggu kemudian
Yeaaaah!! Gue udah engga krisis ekonomi lagi nih. Gue bertekad untuk ke Gramedia beli MIND WRITING. Ok! Ternyata gue berjodoh ma buku ini. Meskipun ada sedikit anccident di Gramed yang lumayan bikin jantung gue BOOM!, akhirnya gue bisa beli juga. Horeeee.!!!

So far, MIND WRITING tepat banget buat gue yang seorang amatiran.
Di cover depannya ada tulisan yang berbunyi..


"Memotivasi seseorang untuk menulis lebih penting daripada belajar teori bahasa.."


Huwoow..! Keren!

Gue banyak mendapatkan pelajaran mengenai dunia kepenulisan. Awal gue baca, gue sempat deg-degan juga. Tapi menurut gue buku ini emang bagus. Gue jadi lebih termotivasi untuk menciptakan suatu karya. Ok, gue mau kasih tahu beberapa ilmu yang telah gue dapat dari buku ini.

Sabtu, 22 Mei 2010

MUSER

MUSE berdiri pada tahun 1994 di Devon Inggris. (Wah.. gue baru lahir tuh). Gue sangat suka MUSE.. Itu satu-satunya band yang gue suka. Namanya aja MUSE, kalau di Bahasa Indonesia artinya merenung. Pas banget sama gue yang suka merenung. Hehehe.. Gilak deh! MUSE itu memang keren banget. Dari lagu-laguny aja udah beda dari yang lain. Gue suka gaya musik MUSE yang rock, pop, clasic. Gue paling suka musik clasicnya MUSE. Bisa bikin gue terbang melayang (akh lebay).. Liriknys juga, oh AWESOME!!. Menurut gue benar-benar mengandung makna. Bahasa yang digunakan juga tinggi dan dalemm. Biasanya mengenai kehidupan, perjuangan, pertentangan, etc. Tapi ada juga kok yang tentang percintaan.. Nah disinilah yang membuat gue tambah ngebet. Meski tentang percintaan, lagunya MUSE tetap dalemm dan engga cengeng. Musikny juga unik, rock clasic yang muanteeep banget….. The best lah pokokny… Hehehe

Oh iya… plus satu lagi yang bikin gue "Wow AMAZING!".

Yupz!! Personelnya keren-keren banget kan.??? Memang sih personel MUSE sekarang mungkin udah engga muda ABG lagi, tapi tetap keren ahh!

Gue salut sama Matthew James Bellamy (Cambridge, 9 Juni 1978), atau yang sering kita sapa Matt sang vokalis. Matt multi talent banget. Dari pencipta lagu, vokalis, gitaris, pianis sampai komposer juga. Beeuuuuh.. Hebat lah!!! Padahal setahu gue, Matt adalah anak broken home. Sejak kecil Matt tinggal dengan neneknya. Neneknya lah yang mengajarkan Matt bermain piano. Baru saat berusia 14 tahun, Matt belajar bermain gitar. Selanjutnya Matt bergabung dengan Dominic diusia 16 tahun. Akhirnya bisa sukses deh!!!! Jhahaha

Terus Dominic Howard (Stockport, 7 Desember 1977), di MUSE dia sebagai drummer. Wuiiih.. Dominic keren banget saat bermain drum. Dominic mulai bermain drum di usia 12 tahun. Tabuhan drum Dominic kalau diperhatikan sangat unik. Yaiyalah.. Dominic kan drummer berkaki kidal.. Wah..wah.. Nilai plus!

Dan satu lagi personel MUSE, Chris Wolstenholme sang bassis (Rotherham, 2 Desember 1978). Chris personel MUSE yang terakhir. Sebelumnya Chris adalah seorang drummer. Awalnya juga Chris menolak ajakan Matt dan Dominic untuk bergabung dengan MUSE. Mm.. menurut gue sih udah takdir, Chris juga bakal ikut andil di kancah musik internasional bersama Matt dan Dominic. So, Chris yang tadinya menolak akhirnya menerima ajakan bergabung dengan MUSE. Sejak saat itu Chris mendalami gitar bass. Chris juga berperan sebagai keyboardist dan backing vocal. Oh iya.. Gue suka banget dengan petikan bassnya Chris pada lagu Unnatural Selection.

Ok! Karena gue seorang MUSER, gua beranggapan semua personel MUSE keren. Ketiganya juga yang sudah bikin heboh jagad musik dunia (huwaalah). Belum lagi aksi panggungnya MUSE yang benar-benar gilak! Bisa bikin mata kita melotot, hehehe..
Siip lah buat MUSE..!!


Album yang udah diluncurkan MUSE:
Showbiz 1999
Origin Of Symmetry 2001
Hullabaloo Soundtrack 2002
Absolution 2003
Black Holes And Revelations 2006
HAARP 2008
The Resistance 2009

Guys! Berikut ini adalah lagu-lagu MUSE yang ada di playlist gue:

Butterflies And Hurricanes, Endlessly, New Born, Bliss, Escape, City Of Delusion, Darkshines, Muscle Museum , Stockholm Syndrome, Map Of The problematique, Apocalypse Please, Knights Of Cydonia, Plug In Baby, Megalomania , Supermassive Blackhole, Space Dementia, Time Is Running Out, Thoughts Of A Dying Atheist, Resistance, United State Of Eurasia, MK Ultra, Uprising, Exogenesis, Unnatural Selection, Undisclosed Desires, I Belong to You

dan masih buanyak lagiii..! Engga bisa tulis semua :)

Buat kalian yang juga suka MUSE
Salam Muser..!!!

Jumat, 21 Mei 2010

Red is si Meraaah

Gue suka banget sama warna merah, sejak gue SMP. Padahal waktu kecil gue kontra banget, tapi ko sekarang jadi suka ea...????!

Yups...!!!! Gue ngrasa berjodoh sama merah. Gue suka nonton Detective Conan, dan warna kesukaan Shinichi Kudo juga meraah, haha. Tanpa gue sadari, ternyata banyak barang-barang gue yang warnanya merah.. minimal ada warna atau corak merahnya. Benar-benar engga gue sengaja >>>
Sepeda Ponix, Jacket, tas, celengan, seprei, selimut, sendal, handphone, flashdisk, kunci, Al-Quran, handuk, kimpul, jepit rambut, mainan, baju, dompet, bla, bli, blu, duerrrrh!!!

Guys, masih banyak lagi benda-benda gue yang berwarna merah. Saking banyaknya, gue engga bisa ceritain semua. So, gue cuma cerita tentang benda-benda merah gue yang, benar-benar punya kisah tersendiri dengan gue.

Celengan pinguin. Celengan ini dibeliin sama ortu, waktu itu gue sama ortu lagi jalan-jalan ke supermarket. Trus gue kepikiran mau nabung (wangsit mendadak). So, gue minta ke ortu buat beli celengan. Awalnya ortu gak setuju.

"Ahh, eneng beliin celengan buat apa? Kaya anak kecil aja."

Tapi gue engga nyerah mengeluarkan jurus bla.bla.bla ngerayu ortu. Final, gue menang... gue ke tempat celengan, and ternyata model clengannya cuma satu, Si Pinguin Merah. Mm... ya sudahlah... Dengannya, sampai saat ini gue memupuk harta yang pasti bakal gue butuhin suatu saat nanti.

Seprei Strawberry. Gue dapat dari ibu gue, awalnya gue engga suka coz menurut gue terlalu feminim dengan warnanya yang merah beradu putih, ditambah motifnya yang buah strawberry, deuuh..! Sedangkan, gue lebih suka motif kartun. Tapi sekrang malah jadi seprei favorit gue. Gue merasa jadi lebih rapih kalau pake seprei itu coz ukurannya pas banget sama tempat tidur.

Handphone. Gue pertama punya HP waktu kelas 6 SD. Haha... gaya banget ya?, tapi HP gue juga jadul ga kebayang. Cuma bertahan beberapa bulan aja. So, HP gue dilelang. Akhirnya gue bertekad nabung untuk beli HP lagi. Setelah tiga tahun baru kesampaian. Selama tiga tahun gue bela-belain engga jajan. Gue beli HP dengan uang hasil tabungan sendiri. Bangga. Gue beli HP tipe Sony Ericsson Z530i. Gue seneng banget. Yaaaah, emang engga jodoh karena warnanya yang silver (asumsi yang tak masuk akal), rumah gue kecolongan maling dan HP gue diembat. Aaaaaargh!! Gue sangat-sangat tidak ikhlas!! Baru aja dua minggu, pengorbanan gue selama tiga tahun musnah. Sial lo maling! Awas ja ya! Gue engga ikhlas!!!

Sempat terpuruk, gue pun cari hiburan dengan pinjem berjibun-jibun komik. Setiap pulang sekolah gue baca komik. Sebelum tidur gue baca komik. Nonton TV sambil baca komik. Sore-sore baca komik. Mau makan baca komik. Mau mandi baca komik. Di sekolah baca komik juga, Hehehe... Gue udah kaya jadi mahasiswi KOMIKOLOGI aja.

(KOMIKOLOGI, cabang ilmu yang mempelajari khusus mengenai seluk-beluk komik)

Rupanya karena kebiasaan gue yang selalu sarapan komik, ortu gue malah jadi was-was.

"Wah, enengnya masih SHOCK Bu!!" Asumsi bapak gue yang over.

Gue cuma bisa bilang "Hah? Apaan sih?". Ok! Gue jadi risih sendiri.
Tapi gue bersyukur juga, gara-gara itu bapak gue ngebeliin gue HP baru, Sony Ericsson K610i warna meraaah, haha. Gue manggilnya Si Merah (Gilaak dah! HP aja dikasih nama). Gue sayang banget sama si Merah tapi gue juga kadang jengkel banget. Usia si Merah yang udah hampir empat tahun ini, mulai sakit-sakitan. Kadang mati sendiri, baterainya yang sering lowbatt, sering kena virus, ampe si Meraah ini susah banget kalau dipasangin headset. Gue dan si Merah udah sering berpetualang. Sahabat, gue menganggap si Merah shabat gue. Gue juga akan terus mempertahankan si Merah, gue engga mau ganti-ganti HP. OK si Merah!! FIGHTING!!

Guys, seperti yang tadi gue bilang, engga bisa cerita semua, jadi mungkin segitu aja yang dapat gue ceritain tentang

Meraah..!!

Untuk yang lainnya gue usahain akan upload gambar-gambarnya aja. Ups! Ada yang ketinggalan guys, haha Flashdisk gue warnanya meraah juga. Untuk kisah tentang flash baca, Give Thanks to God.



So, mm.. meraah is my luck
Salam Meraah

Selasa, 18 Mei 2010

Writing... Writing... Writing...

Gue seorang cewe yang engga suka dengan hal yang berhura-hura. Di sekolah, di rumah, di mana aja, gue lebih suka ketenangan dan kesunyian. Banyak yang bilang kalau gue itu pendiam. Gue sendiri merasa enggak. Emang, gue engga suka banyk bicara, dan andaikan gue banyak bicara dengan seseorang, itu berarti gue merasa nyaman dengan orang itu. Masalahnya engga banyak orang yang bisa membuat gue nyaman, So begitulah gue dicap pendiam.

Engga tahu kenapa, sekarang ini gue hobi banget berimajinasi. Imajinasi itu, suka gue tulis sndiri. Akhirnya jadilah, selain berimajinasi gue juga hobi menulis. Menulis apa aja. Dari perasaan gue sendiri, kesenangan gw, curhatan-curhatan gw tentang Pena, imajinasi-imajinasi yg ada di kepala gue, sampai unek-unek gw tentang *(baca: Give Thanks to God). Gue berusaha untuk mengungkapkan itu semua dengan tulisan.

Salah satu hal yang membuat gue kegambringan menulis yaitu, novel. Gue suka banget novelnya Ilana Tan "Summer In Seoul". Novel itu bikin jantung gue dag-dig-dug SPUDAW!!! Sampai akhirnya gue selesai baca, dan gue langsung berdecak, wow! AWESOME.!! Gue jadi suka baca novel. Tapi engga sembarangan novel yang gue baca. Gue paling engga suka sama novel teenlit, coz menurut gue ceritanya monoton dan benar-benar bikin boring.

Sebenarnya novel pertama yang gue suka yaitu "AI" karya Winna Efendi. Sedangkan "Summer In Seoul" itu novel yang paling gue suka. Gue jadi mulai suka baca novel. Dari hobi baca itu, muncul keinginan gue untuk menulis cerita. Intinya gue juga ingin menciptakan bacaan, bukan cuma baca. Nah, dari situlah gue suka brimajinasi dan imajinasi itu gue tulis jadi cerita.




Belum banyak cerita yang gue tulis. Gue juga masih dibilang pemula *amatiran. Sejauh ini gue cuma corat-coret di buku tulis. Apa pun yang ada di kepala gue. Permasalahan muncul, pasalny mood gue kadang naik kadang juga turun lamaaaaaa banget. Kalau mood gue udah turun, gue bena-benar engga bisa menulis. Hasrat gue untuk menulis serasa hilang. Dan memang, inspirasi itu datangny engga diduga-duga. Pernah suatu malam gue insomnia sampai jam 12 malam. Eh engga tahu kenapa, tiba-tiba ada yang masuk ke otak gue *inspirasi. Otak gue seperti memerintah diri gue untuk menyiapkan buku tulis plus pensil. Jadilah gue menulis berba.. bi.. bu.. bla ria!! di tengah malam begitu... Alhasil, gue menulis puisi dan crita yang memang sedikit gaje and jayus, but it's ok!!

Selain itu, tulisan yang gue tulis juga msih belum terarah(menurut gue). Pasalnya gue menulis apa pun yang mau gue tulis. Gue engga menulis yang diperintahkan orang lain. Misal tugas sekolah B.Indonesia, menulis paragraf argumentasi lah, persuasi lah, apa lah, ini lah, itu lah, menulis cerita yang temany di tentuin lah. AAaahhh.. malah bkin gw bingung!!? Tapi bukan berarti gue menyerah. gue berusaha semaximal mungkin untuk mengerjakannya. Hanya saja, walaupun gue selalu dapat nilai yang bagus dari mengerjakan tugas-tugas tadi, gue engga merasakan kenikmatan saat gue menulis.

Menulis, setiap hari jemari gue merasa gerah kalau belum menulis. Gue merasa udah menyia-nyiakan waktu. Saat ini gue sedang proses menulis cerita, tapi belum kela-kelar juga. Setiap hari gue susah banget mencari waktu yang pas buat melanjutkan cerita yang gue tulis. Jadwal gue yang memang padat karena sekolah. Gue selalu pulang sore untuk menyelesaikan tugas-tugas di sekolah. Kalau malam gue di rumah, tapi beuuuuuh.. mata gue udah 5 watt. Belum lagi suasana rumah yang RIBUT and RIBET. Kakak gue yang sering banget mengganggu. Selain itu juga engga mau ngalah, bikin gue naik darah *emosi, gara-gara rebutan komputer. Akhirnya malah saling adu bahasa planet.

Hah!!! Lega gue bisa menulis tenang kaya gini. Coba serin-sering suasana kaya gini di rumah, gue jadi lebih konsen menulis.

Balik lagi ke tulis-menulis.

OK, gue sedang proses menulis cerita. Ceritanya udah gue posting dengan judul "My Teddy Bear in Roma". Engga tahu deh, gue ngasal nentuin judul. Cerita itu berawal dari kesukaan gue pada negara Italia. So, gue jadi membayangkan crita dengan latar Italia. Gua juga jadi rajin cari tahu tentang seluk-beluk Italia buat cerita gue. Ya, doa'in aja gue bisa menyelesaikan ceritanya dalam waktu dekat. Amiiin...

Gue berusaha, setiap hari gue menyempatkan menulis. Meskipun lagi engga ada inspirasi untuk menulis cerita. Gue usahakan untuk tetap menulis. Yup!!! Menulis diary.. Tapi sekarang gue udah jarang melakukan itu. Gue lebih suka menulis di blog atau tumblr. Tentang kejadia-kejadian yang menimpa gue, perasaan *curhat gw or everything. Gue sengaja karena kalau udah lama engga menulis, so engga mudah untuk memulainya lagi. Selain itu juga, dengan menulis diary atau *curhat, menurut gue itu bisa menjaga, melatih dan mengembangkan kreativitas menulis, sehingga kita bisa menciptakan kary-karya yang baik tentunya.

"My Teddy Bear In Roma", sebelumnya gue pernah menulis, "Jorendra Herfian Veolina Sereffa". Menurut gue sendiri, itu bukan cerita. Sebenarnya itu ungkapan prasaan gue. Mangkanya sampai sekarang cerita itu engga berlanjut. Seperti yang tadi gue bilang, *menulis diary or curhat. Kita engga usah takut untuk menulis curhat, yang sebagian besar orang khawatir nantinya diketahui orang lain. Kita bisa menuliskannya dengan aksen lain. Kita tulis curhatan kita menjadi crita. Tentu saja kita harus pintar-pintar memoles ceritanya supaya engga diketahui orang lain atau setidaknya orang lain engga sadar kalau itu curhatan kita.

Dan tulisan gue lain-lainny selain "Pena dan Pensil" yaitu "Berawal Dari Teng.. Teng.. Teng.. Gedubrak…!!!" Nah, itu cerita gaje yang datang tiba-tiba disaat gue engga bisa tidur. Benar-benar gaje dan jayus!! Untuk puisinya, Mm... gue belum bisa posting, karena menurut gue masih rancau.

Yaudah deh... Gue memang masih amatiran, Mm... Nessun problema!!

Ok! Tetap semangat!!

FIGHTING..!!!

Give Thanks to God

Gue benar-benar dapat ujian dan cobaan di Smanda. Dari awal gue udah frustasi dan depressi. Gimana jadinya gue yang hanya alumni SMPN 2 Cirebon (Spenda), bakal beradu otak dengan anak-anak X.1 di SMAN 2 Cirebon yang merupakan salah satu SMA bonafit di Cirebon. Gue engga bisa ngebayang gimana jadinya. Udah pasti gue engga bisa santai damai kaya di Spenda dulu. Apalagi dengan predikat Smanda yang RSBI, gue harus siap dengan capek pulang sore, belum lagi tugas yang segunung. Mungkin gue engga punya banyak waktu senggang kaya dulu lagi. Tapi sesungguhnya, jauh dari itu, pikiran yang pertama-tama terbesit di kepala gue yaitu, "Gue berasa seperti orang bodoh".

Baru aja beberapa minggu di Smanda, gue udah kena masalah. Gue kena razia. Novel gue, yang udah gue beli dengan susah payah, malah di razia sama anak DK.

"Engga usah bawa-bawa yang engga ada sangkut-pautnya sama pelajaran!"
Gue bengong kecuali Jantung gue yang malah merinding disko.
Paling bikin gue panas, novel itu baru gue beli sebulan yang lalu dan gue udah mengidam-idamkan novel itu sejak lama. Padahal gue engga pernah bawa novel atau komik sebelumnya. It’s the first time! Juga gue bawa karena ada temen gue yang mau pinjem. Tapi keberuntungan memang engga mihak gue. Gue hanya bisa berusaha ikhlas, semoga gue benar-benar ikhlas!


SMAN 2 Cirebon

Dalam pelajaran, engga tahu kenapa gue agak susah konsentrasi. Serasa Otak gue blank. Kalau di kelas gue merasa ngantuk banget. Sangat tidak konsen. Lalu apa yang gue lakuin? Nyontek? Gue dari dulu emang engga ahli dan bodoh dalam hal contek-menyontek. Dalam hal nyontek aja payah apalagi pelajaran???! OMG.. Semoga tidak!

KIMIA, pelajaran yang paling tidak bersahabat. Sepertinya gue belum bisa beradaptasi dengan normal di pelajaran Kimia. Gue kaget sama pelajaran Kimia di SMA, pasalnya waktu SMP materi Kimia itu gampang. Cuma beberapa Teori Atom, Unsur-unsur KIMIA, Zat Adiktif dan Zat Aditif, Zat Kimia Dalam Rumah Tangga, Asam dan Basa dll. Mm.. pokoknya menurut gue waktu SMP tuh pelajaran kimia gampang. Eh sekarang pas SMA, kepala gue udah jungkir balik ngeliat Tabel Periodik. Apalagi disuruh ngerjain soal Redox sama Stokiometri. Hualaaah.. gue bisa benar-benar componk kalau ulangan kimia.

Gue perlu waktu yang cukup lama hanya untuk nyalin pekerjaan LKS. Malahan gue dapat angka planet Bumi di LKS sejarah, ya Tuhan!!! Kenapa? Padahal gue udah mengisi soal essaynya, tapi kenapa yang dikoreksi malah soal PG yang belum gue isi??.. Itulah bodohnya gue. Teman gue juga sebenarnya banyak yang belum ngerjain LKS sejarah, tapi tangan mereka sama tangan gue tuh beda sih, mereka langsung nyalin isian PG dan essay dalam sekejap!!! Sedangkan gue malah ngisi essaynya dulu, alon-alon kaya putri keraton! Jadilah gue mencetak rekor di kelas… Aaaargh!!! Gue jadi sebel sendiri sama guru sejarah… Sebel.! Sebel!!! Enggak fear!! Masa yang dikoreksi PGny doang? essay enggak! Padahal temen gue banyak yang soal essayny masih suci, kinclong!!!! Tapi emang kayanya gue benar-benar engga beruntung!!! Gw hanya berharap bisa naik kelas nantinya.

Seputar pelajaran. Gue engga nyangka di semester 1 dapat ranking 9. Hah? Terimakasih Tuhan. Seperti yang tadi gue bilang, gue merasa bodoh! Teman-teman gue di kelas semua pada ikut les. Bahkan sampai malam les kimia, matematika, fisika dan pelajaran eksak lainnya. Wajar aja sih les sampai malam, secara Smanda pulangnya sore. Jadi punya waktu kapan lagi buat ikut les kalau bukan malam. Nah, ketidakwajaran ada di diri gue. Sangat berbanding terbalik dengan teman gue yang notabenen ikut les. Minimal les bahasa Inggris. Tapi gue, engga ikut les apapun sama sekali. Itu juga sih yang bikin gue merasa bodoh. Gue paling pengangguran di kelas. Orang tua gue sepertinya engga begitu tertarik dengan les. 'Kalau bisa otodidak, kenapa enggak?'. Dari kakak gue ampe gue aja, paling banter ikut bimbel itu juga kalau mau ujian.


Pusat Perhatian (x.1) 2009-2010 Smanda Cirebon

Ok. gue udah mulai bisa beradabtasi. Beruntungkah? Mimpi kalee..! Trouble is come back!! Gue kena razia untuk yg kedua kalinya, Oh tidaaak!!!!

Yup! Gue kena razia lagi, dan yang ini lebih parah. Jantung gue lagi-lagi merinding disko ketika flashdisk gue engga dikembaliin sama anak DK. Ya ampuun! Gue kenapa lagi? Bosen gue urusan sama DK. Tapi kali ini takdir gue emang harus berurusan lagi sama DK, bahkan sama ortu, wali kelas, guru BP dan yang terparah KEPSEK… Beuuuuh..!!!!!!

"Kalau ada benda kalian yang ditahan, itu berarti benda kalian bermasalah", kata salah satu anak DK.

Untungnya ada anak DK yang, mm.. lumayan baik. Dia ngasih tahu gue kenapa flashdisk gue diambil, dan alhasil… Gue udah benar-benar merasa melayang!! Badan gue lemas..

“Di flashdisk kamu ada video isinya film yang banyak adegan-adegan porno.”
Apa? Film? Porno? Ya Tuhan! Jangan lagi… Enggak! Gue engga pernah tahu ada yang begituan di flash gue! Gue bersih!!!

“Jangan takut dulu de, enggak, porno sii.. cuma vulgar.”
Yaaaaah.. sama aja mbak!!?? Bakalan tetap bikin gue ribet !!!

Di kelas, gue engga bisa nahan lagi. Mata gue udah panas serasa air mata gue meluap.
Hiks.. Hiks.. Gue nangis.

Gue harus gimana? Ternyata di flash gue ada film “Gossip Girl” dari teman gue setahun yang lalu.. Gue merasa benar-benar bodoh dan tolol. Kenapa? Padahal gue belum pernah nonton film itu sama sekali, gue seperti jatuh di kubangan lumpur yang engga gue gali. Gue cuma kena getahnya!!!

GAK ADIL!!! Gue teriak dalam hati. Gue cuma suka nonton kartun, boro-boro nonton film barat yang begituan. Bahkan pacaran aja gue engga. Tapi kenapa gue langsung dihujat saperti itu? Nama baik gue rusak!!

ORANG TUA. Apa yang mesti gue bilang ke ortu?

“Udah Nis, relain aja flash lo. Dari pada ortu lo marah.” Kata teman gue.
Gue juga sempat kepikiran, tapi apa semuany bakal selesai kalau gue nglakuin tindakan itu? Oke, gue bisa aman dari ortu, tapi gimana dengan sekolah? Apa gue bakal aman dari sekolah? Gimana kalau sekolah yang manggil ortu? Ini bakal lebih gawat.

Dengan ragu-ragu, gue akhirnya bilang ke ortu.
“Bu, kayanya eneng bakalan di skorsing deh.." Gue diam sejenak menarik nafas, "Flash Eneng dirazia.”
Ya Tuhan! Gimana reaksi ibu gue? Gue udah nyiapin mental kalau-kalau ortu marah.

“Dirazia lagi? Ah Eneng mah bikin masalah aja. Kenapa sih? Ya sudah, nanti besok flashnya diambil sama bapa aja."

Hening……

Hah? Udah? Segitu doang? ALLHAMDULILLAH… kalau aja waktu itu engga ada siapa-siapa, kayanya gue udah sujud syukur. Ortu gue engga semarah yang gue bayangkan. Eh.. Tapi malah kakak-kakak gue yang nyerocos udah kaya mercon…

“Bego!! Hari gini masih aja kena razia. Engga pinter-pinter. Flashdisk yang kecil gitu aja ampe kena razia. Payah!”
Untungnyan gue engga perlu nyumpel mulut mereka, karena gue sendiri udah kebal dihujat sama kakak gue.

Ya. Gue bersyukur reaksi ortu kayanya biasa aja sama kasus gue di skolah. Tapi gue mulai deg-degan lagi bagaimana dengan besok? Ortu gue bakal datang ke sekolah. Gue harus siap mental!!!

Besoknya di sekolah gue dipanggil BP. Di BP udah ada ortu gue, anak DK, guru BP dan kepsek..
“Nisa ibu mau tahu ceritanya, kenapa ini bisa ada sama kamu?”

Gue tarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya gue nyerocos argument. Bla bla bla..
Tapi emang guru BP engga mau ngalah dan terus mengintrogasi. Gue pun dihujat dengan segudang pertanyaan. Tapi gue juga berusaha agar tetap berbla.. bla.. bla.. ria untuk membela posisi gue sendiri. Meja hijau di sekolah! Pikir gue. Gue duduk di samping ortu. Di depan gue ada anak DK, guru BP dan Kepsek yang sorot matanya benar-benar bikin gue merinding. Sedangkan, ortu cuma manggut-manggut mendengar omongan guru BP. Akhirnya guru BP nasehatin gue.. Gue juga jadi ikutan manggut-manggut. Final, flashdisk gue dikembalikan..

Hah!! Akhirnya selesai juga. Gue sedikit lega. Gue berjalan kembali ke kelas.

Ternyata di kelas, gue belum benar-benar lega. Wali kelas gue masuk, wajahnya penuh dengan kekecewaan. Gue merasa malu dan bersalah karena udah merusak nama baik kelas. Wali kelas gue akhirnya angkat bicara dan meluapkan kekecewaannya pada anak sekelas. Wali kelas gue juga nyindir-nyindir gue. Beuuuh, hati gue seperti teriris, SAKIT! Tapi gue sadar dan mencoba mengerti, wali kelas gue bicara seperti itu karena beliau sayang dengan anak-anak didiknya.

SANKSI..!!!! Sanksi apa yang bakal gue terima? SKORSING??!

Baru kali ini lah gue merasa beruntung. Gue engga kena sanksi apa-apa, cuma peringatan dan membuat surat pernyataan. Setelah gue tanya ke BP, ternyata kesalahan gue cuma nyimpan dan engga mengkonsumsi atau menyebarluaskan, jadi gue engga diskorsing. Haaaaaah! Gue baru benar-benar bisa bernafas lega sekarang..


Gajebo Smanda

Yaaaah… Begitulah perjalanan gue di Smanda sampai sekarang ini. Semoga gue bisa mengambil banyak pelajaran dari kejadian-kejadian yang menimpa gue. Selain itu gue juga berharap, gue engga hanya merasakan pahitnya Smanda, tapi juga manisnya Smanda..

So, I just can say…..

thanks to ALLAH…. :D

Minggu, 16 Mei 2010

About Pena

Aku sepertinya sering banget ngepost tentang "Pena dan Pensil". Itu suatu ungkapan aku pada seseorang.
Pena adalah orang pertama yang bisa mengisi hatiku. Sory sebelumnya karena aku ga bisa nyebut nama, so kita panggil ja "dia". Dia, aku bertemu dengan dia kira-kira 4 tahun yang lalu. Udah cukup lama memang. Tapi itu belum cukup lama untuk menghapus smua cerita dia dari diaryku atau bahkan hatiku.

Aku suka dia. Aku sering bareng sama dia. Sampai sekarang juga mungkin aku masih bersama dia. Tapi kebersamaan itu engga berarti apa-apa bagiku. Dia yang udah membuat aku termotivasi. Namun sama sekali engga merubah keadaan. Engga bisa dipungkiri memang, Pena tuh berbeda dengan Pensil. Sampai saat ini aku merasa engga bisa ngimbangin dia dengan motivasiku lagi. Aku pun jatuh.

Meskipun Pena dan pensil sering bersama, tapi Pena dan pensil engga bisa saling bantu. Pena dan Pensil engga saling membutuhkan. Pena dan Pensil saling mengganti, bukan saling melengkapi. Pena dan pensil masing-masing membutuhkan sosok lain.

Begitu juga dengan aku dan dia. Di saat aku rapuh, dia engga bisa berbuat apa-apa untk aku. Aku juga engga bisa berbuat apa-apa untuk dia. Aku lebih membutuhkan orang tua atau teman-teman aku untuk berkeluh kesah, untuk berbagi kerapuhan, untuk memberiku semangat dan dukungan. Mungkin Dia juga begitu. Dia engga butuh aku.

Kini dia sudah terlampau jauh, sepertinya aku udah engga sanggup lagi. Aku dan dia mempunyai tujuan dan cita-cita yang sama. Tujuan itu awal dari kisahku, dan sekarang aku udah engga sanggup mengejar lagi. Sedangkan dia terus berlari meraih. Hatiku berat untuk melepas, tapi memang kemampuan yang aku miliki engga sepadan dengan apa yang aku inginkan. Ya! mungkin itu bukan keberuntunganku.

Aku berharap semoga dia berhasil meraih semuanya, meraih tujuannya, mimpinya dan mimpiku.
Dan setelah itu, aku ingin dia kembali.

Kamis, 13 Mei 2010

Che Bella....


huoooh...! I hope, I can go to Italy, find a lot of spectacular places and artistic buildings
Che Bella.....

Minggu, 02 Mei 2010

My Teddy Bear in Roma

Prolog

Torino Italy

Langkah kaki kecil menerbangkan segerombolan burung gereja. Tak peduli, rerumputanpun ikut bergoyang. Dikejauhan, nampak seorang gadis kecil yang berlari entah kemana. Gadis kecil itu, raut wajahnya mengisyaratkan kekecewaan. Seperti hendak melarikan diri. Kepalanya penuh dengan hal-hal yang seharusnya tidak ada. Sambil berlaripun, ia seakan-akan memasuki alam pikirannya. Tak peduli apapun yang ada di sekelilingnya. Tiba-tiba saja ,

DUK!

Gadis kecil itu terjatuh. Wajahnya tepat menyantuh tanah. Ia berusaha bangkit sebelum akhirnya ia meringis. Ternyata kakinya terluka. Raut wajah kekecewaan berubah menjadi kesakitan. Gadis kecil itu tidak dapat menahan lagi. Air mata yang sejak awal meluap, kini bergulir perlahan dari matanya.

“Hiks..Hiks..” Gadis kecil itu menangis. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Tertahan di tengah hamparan rumput yang sedari tadi bergoyang.

“Stupidi, setiap kali aku bertemu denganmu, kau selalu menangis.” Gadis itu sempat tersentak. Namun tangisnya tak berhenti. Gadis kecil itu tidak menghiraukan seorang anak laki-laki yang kini menghampirinya.

“Hei, sudah! jangan menangis. Lihat kakimu terluka. aspetta un attimo.” Anak laki-laki itu mengeluarkan sebuah saputangan biru muda dari dalam saku jaketnya. Ia membersihkan dan menutup luka gadis kecil itu dengan saputanagnnya.

Si gadis kecil hanya bisa terdiam. Ia menatap anak laki-laki yang ada di hadapannya. Sesaat ia tak lagi menangis.
“Nah, begini lebih baik. Ayo kita pulang. Naiklah kepunggungku. Kau pasti tidak bisa berjalan.”

Gadis kecil itu merasa ragu, namun ia tidak punya pilihan. Akhirnya ia menurut. Anak laki-laki itu pulang dengan menggendong dirinya. Kini gadis kecil itu merasa hangat. Seakan-akan rasa sakitnya telah hilang. Iapun tersenyum.

“Grazie. Kau telah menolongku. Mi chiamo Sisil.” Anak laki-laki itu tidak membalas. Seakan-akan menganggap perkataan Sisil angin lalu. “Come si chiama? Kau yang waktu itu mengejekku bukan?”

Anak laki-laki itu tidak menyangka Sisil langsung bertanya seperti itu. “Ah, benar. Kau masih ingat rupanya. Mi chiamo Fah….”, anak laki-laki itu menahan perkataannya. Ia berpikir sejenak.

“perché? Come si chiama?” Sisil mengulang pertanyaannya
“Oh yeah, non importa. Panggil saja aku Delva. Ya, Delva.”
“Mm.. Baiklah. Del-va. Piacere a conoscerti”

Minggu, 25 April 2010

Pencil's Song

So I'll let you go
I'll set you free
And when you see what you need to see
When you find you
Come back to me

And I hope you find everything that you need
I'll be right here waiting to see
You find you come back to me

(David Cook Come Back to Me)


"Jika kamu telah berhasil menggapai apa yang kamu cita-citakan, maka kembalilah padaku dan akupun akan kembali padamu"

:Pencil