Setelah gue kelimpungan setahun belakangn ini, akhirnya tiba juga lah TAKDIR! Apakah ini takdir?? Rasanya gue masih sulit untuk percaya. Sebelumnya gue juga merasa bimbang. Apa yang gue lakukan ini benar?? Satu hal yang gue rasa bodoh, pengalaman gue. Gue engga mau jatuh di lubang yang sama. Tapi, hal ini benar-benar sulit.
Belajar dari pengalaman gue sebelumnya, gue udah berusaha melakukan segala cara untuk mewujudkan harapan gue. Gue juga berdo'a, "God bantulah aku, beri aku kemudahan, wujudkanlah harapanku ini". Di saat seperti itu gue benar-benar merasa dekat. Ya mungkin, gue berhasil.
Dunia ini memang seperti roda, berputar. Dalam keadaan seperti inilah gue terhempas. Gue menyesali keberuntungan gue atau bahkan takdir!? Sesal!! Apa yang telah gue lakukan? Egois!! Gue memang orang yang egois! Gue malu pada diri gue sendiri.
Ya. Gue hanya manusia biasa, penuh dengan kesalahan. Dan tahukah? gue udah banyak melakukan kesalahan. Bahkan penyesalan gue, itu juga merupakan kesalahan yang gue lakukan. Memang bodoh.
Lupakan! Sudahlah, masa lalu tak mungkin kembali. Sia-sia. Hadapilah yang sekarang dan jangan menoleh kebelakang!
Setahun sudah, gue mulai merasakan lika-liku kehidupan. Dan tibalah saat dimana gue herus melakukan hal yang sama. Pikiran gue penuh dengan hal-hal konyol. Kebimbangan dan keresahan. God, tunjukanlah jalan yang terbaik. Gue engga mau menjadi sosok egois untuk yang kedua kalinya. Gue menarik nafas sebelum akhirnya hanya bisa berkata "Apapun yang terjadi, mungkin itu yang terbaik".
Yang terbaik. Gue berharap tidak akan timbul penyesalan lagi. Ya, karena ini yang terbaik. Yang terbaik ini mungkin takdir gue. Hidup gue. God, berikanlah aku kekuatan. jangan Engkau biarkan aku lelah. Gue harus siap dengan jalan yang akan gue laluin. Semoga benar gue tidak bersikap egois.
Satu lagi, gue melakukan kesalahan. Ternyara hidup gue engga benar-benar hanya sekedar lembaran kertas putih. Goresan hitam itu, memang benar adanya.
.
.
.
.
Sabtu, 26 Juni 2010
Kamis, 24 Juni 2010
Constellation
Suatu malam, langit bertaburkan permata bintang. Hening dan sunyi, Opa menyukainya. Beliau duduk di pekarangan rumah. Pijaran bohlam lampu memberikan pencahayaan membantu penglihatan Opa yang sedang membaca sebuah buku. Tercium aroma sedap secangkir kopi buatan Oma yang diletakkan di atas meja. Sesekali Opa menyesapnya. Aah… sungguh nikmat…..
“Opa! Opa!” Tiba-tiba terdengar langkah kaki kecil memecah keheningan. Opa tentu mengenali suara itu. Pandangannya pun beralih, Opa menaruh bukunya. Beliau mencoba menerawang kegelapan mencari sosok yang tadi memanggil.
“Dira?” Opa mendapati seorang gadis kecil berlari mendekat. “Dira kamu mau kemana? Hati-hati nanti kamu jatuh!” Opa bangkit dari duduknya.
Dira mendekap “Dira mau main sama Opa!”
“Dira mau main sama Opa? Sekarang sudah malam. Cucu Opa harus tidur.” Opa menggendong Dira dan memangkunya.
“Malam ini Dira tidur di rumah Opa ya?”
“Boleh, tapi Dira sudah bilang mamah?”
“Udah Opa. Mamah bilang boleh.”
“Ya sudah, sekarang ayo masuk. Cucu Opa tidur.” Opa menurunkan Dira dari pangkuannya dan menggandeng Dira masuk.
“Yah Opa. Masa langsung tidur? Dira kan belum ngantuk.” Dira menahan Opa. Terdengar nada kecewa.
“Dira, sekarang kan sudah malam, Tidak baik tidur larut malam.”
“Opa sendiri juga belum tidur. Opa curang!”
Opa menjelaskan, namun Dira tidak memperdulikan penjelasan Opa. Dira merasa kesal. Opa sangat menyayangi Dira, beliau tidak tega pada Dira. Opa akhirnya mengalah. Sekali tidak masalah pikirnya. “Ya sudah. bilang sama Oma bawakan selimut tebal. Opa tunggu disini.”
Mendengar perkataan Opa, raut wajah Dira tiba-tiba berubah cerah, “Asiiik!! Iya, Opa tunggu Dira ya.” Dira cepat berlari kedalam rumah menghampiri Oma. Dengan sekejap ia kembali sambil memeluk selimut tebal yang diberikan Oma.
Opa menggandeng tangan Dira. Langkahnya terhenti pada sebuah anak tangga. “Nah Dira, ayo naik. Hati-hati, sini selimutnya biar Opa yang pegang.”
Dira heran. Perlahan ia melangkahkan kaki kecilnya satu-persatu melewati anak tangga. Meskipun ia sering main ke rumah Opa, ini pertama kalinya Dira melewati anak tangga ini. Dira juga tidak tahu barisan anak tangga ini berujung dimana. “Opa, di atas anak tangga ini ada apa? ” Dira tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Opa tersenyum, “Dira akan tahu sendiri. Ini tempat kesukaan Opa waktu muda dulu. Dira juga pasti suka.”
Langkah kaki Dira terhenti di depan sebuah pintu. Ia tidak sabar ingin cepat-cepat mengetahui ada apa di balik pintu itu. Tangan Opa memegang knop pintu, perlahan-lahan membukanya. Kreeeeeek.! Pintu itu tidak kalah tuanya hingga menimbulkan bunyi yang tak sedap. Dira perlahan menengok. Apa yang ia lihat ternyata tidak sesuai dengan apa yang ia pikirkan.
***
Kreeeeeek!!
“Opa, ini tempat apa? Tidak ada apa-apa disini.” Dira mulai melangkahkan kakinya. Ia melihat sekeliling. Hanya terdapat sebuah bangunan kecil ya mungkin bisa disebut sebuah kamar karena terdapat tempat tidur dan sebuah meja kerja. Dira pun bertanya-tanya dalam hati ‘Ini tempat apa? Kenapa Opa menyukai tempat ini? Tidak ada yang menarik. Tempat ini kenapa? Sebuah ruangan di dalam ruangan? Ah bukan! Tepatnya apakah ini ruangan?’
Opa tersenyum melihat tingkah laku Dira. Beliau telah menduga cucunya akan merasa heran. Tapi tidak masalah, sebentar lagi Dira akan mengetahui apa yang Opa maksud. Opa mulai mengalihkan perhatiannya pada sebuah kotak besar yang ditaruh di bawah tempat tidur. Opa menarik dan membuka kotak itu. “Kalau tidak salah Opa menaruhnya di sini.”
Opa mengelurkan sebuah benda panjang yang ditutupi oleh kain putih. “Opa, itu benda apa?” Dira mendekat, penasaran dengan benda yang ada di tangan Opa..
Opa membuka kain putihnya perlahan. Raut wajahnya mencerminkan kerinduan. Tangan Opa meraba sebuah tulisan pada benda itu, 1956. “Yah, sudah lama sekali Opa tidak menyentuhnya.”
Dira ikut-ikutan menyentuh benda itu. “Waah… Benda apa ini Opa?”
Opa tidak langsung menjawab pertanyaan Dira. Beliau malah mengajak Dira keluar. “Nah Dira, sekarang kamu lihat ke langit malam ini.”
“Mm.. Indah Opa. Seperti kembang api.”
Opa memasang benda itu sedemikin rupa di atas sebuah kaki tiga yang sudah merupakan perlengkapan benda itu. Beliau juga mengatur ketinggian kaki tiga dengan tinggi Dira. Opa mendekatkan matanya pada lensa. “Dira coba lihat ini!”
“Apa? Opa lihat apa?” Dira mendekatkan matanya pada lensa. “Waaah… Cantiknya! Indah sekali Opa.” Dira terpesona.
“Benda ini adalah teleskop. Kalau Dira mau lihat bintang, Dira bisa menggunakan teleskop ini.”
“Teleskop yah… Benar-benar hebat.”
“Setiap bintang akan membentuk rasi bintang. Coba Dira lihat rasi bintang itu.” Opa menunjuk tangannya pada sebuah rasi bintang di langit utara.
“Ya. Dira lihat. Bentuknya seperti gayung, benarkan Opa?”
“Benar, cucu Opa pintar. Itu adalah rasi bintang Biduk.” Dira mengangguk-ngangguk.
“Opa lihat, rasi bintang itu berbentuk seperti huruf ‘w’.” Dira menoleh. Sepertinya ia mulai tertarik pada kegemaran Opa mengamati bintang.
“Huruf ‘w’ ya? Mm... Itu adalah rasi bintang Cassiopeia. Nah Dira lihat, bintang yang berjarak lima kali garis lurus dari kedua ujung huruf w dari bintang Cassiopeia yang ditarik mundur kemudian dihubungkan dengan bintang yang di bagian tengah.”
“Mm…. “ Dira berusaha mencerna perkataan Opa. Ia memutar otak dan kedua bola matanya mencari keberadaan bintang yang Opa maksud “Iya Opa, ketemu! Bintang itu, agak redup tapi sangat jelas.” Dira tersenyum cerah.
“Bintang itu adalah Polaris.”
“Polaris? Apa itu Opa?” Dira bertanya dengan wajah polos.
“Polaris adalah Bintang kutub utara. Di kutub utara Polaris digunakan sebagai penunjuk arah.” Opa menjelaskan.
“Begitu ya? Mm bagus…”
“Opa! Opa!” Tiba-tiba terdengar langkah kaki kecil memecah keheningan. Opa tentu mengenali suara itu. Pandangannya pun beralih, Opa menaruh bukunya. Beliau mencoba menerawang kegelapan mencari sosok yang tadi memanggil.
“Dira?” Opa mendapati seorang gadis kecil berlari mendekat. “Dira kamu mau kemana? Hati-hati nanti kamu jatuh!” Opa bangkit dari duduknya.
Dira mendekap “Dira mau main sama Opa!”
“Dira mau main sama Opa? Sekarang sudah malam. Cucu Opa harus tidur.” Opa menggendong Dira dan memangkunya.
“Malam ini Dira tidur di rumah Opa ya?”
“Boleh, tapi Dira sudah bilang mamah?”
“Udah Opa. Mamah bilang boleh.”
“Ya sudah, sekarang ayo masuk. Cucu Opa tidur.” Opa menurunkan Dira dari pangkuannya dan menggandeng Dira masuk.
“Yah Opa. Masa langsung tidur? Dira kan belum ngantuk.” Dira menahan Opa. Terdengar nada kecewa.
“Dira, sekarang kan sudah malam, Tidak baik tidur larut malam.”
“Opa sendiri juga belum tidur. Opa curang!”
Opa menjelaskan, namun Dira tidak memperdulikan penjelasan Opa. Dira merasa kesal. Opa sangat menyayangi Dira, beliau tidak tega pada Dira. Opa akhirnya mengalah. Sekali tidak masalah pikirnya. “Ya sudah. bilang sama Oma bawakan selimut tebal. Opa tunggu disini.”
Mendengar perkataan Opa, raut wajah Dira tiba-tiba berubah cerah, “Asiiik!! Iya, Opa tunggu Dira ya.” Dira cepat berlari kedalam rumah menghampiri Oma. Dengan sekejap ia kembali sambil memeluk selimut tebal yang diberikan Oma.
Opa menggandeng tangan Dira. Langkahnya terhenti pada sebuah anak tangga. “Nah Dira, ayo naik. Hati-hati, sini selimutnya biar Opa yang pegang.”
Dira heran. Perlahan ia melangkahkan kaki kecilnya satu-persatu melewati anak tangga. Meskipun ia sering main ke rumah Opa, ini pertama kalinya Dira melewati anak tangga ini. Dira juga tidak tahu barisan anak tangga ini berujung dimana. “Opa, di atas anak tangga ini ada apa? ” Dira tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Opa tersenyum, “Dira akan tahu sendiri. Ini tempat kesukaan Opa waktu muda dulu. Dira juga pasti suka.”
Langkah kaki Dira terhenti di depan sebuah pintu. Ia tidak sabar ingin cepat-cepat mengetahui ada apa di balik pintu itu. Tangan Opa memegang knop pintu, perlahan-lahan membukanya. Kreeeeeek.! Pintu itu tidak kalah tuanya hingga menimbulkan bunyi yang tak sedap. Dira perlahan menengok. Apa yang ia lihat ternyata tidak sesuai dengan apa yang ia pikirkan.
***
Kreeeeeek!!
“Opa, ini tempat apa? Tidak ada apa-apa disini.” Dira mulai melangkahkan kakinya. Ia melihat sekeliling. Hanya terdapat sebuah bangunan kecil ya mungkin bisa disebut sebuah kamar karena terdapat tempat tidur dan sebuah meja kerja. Dira pun bertanya-tanya dalam hati ‘Ini tempat apa? Kenapa Opa menyukai tempat ini? Tidak ada yang menarik. Tempat ini kenapa? Sebuah ruangan di dalam ruangan? Ah bukan! Tepatnya apakah ini ruangan?’
Opa tersenyum melihat tingkah laku Dira. Beliau telah menduga cucunya akan merasa heran. Tapi tidak masalah, sebentar lagi Dira akan mengetahui apa yang Opa maksud. Opa mulai mengalihkan perhatiannya pada sebuah kotak besar yang ditaruh di bawah tempat tidur. Opa menarik dan membuka kotak itu. “Kalau tidak salah Opa menaruhnya di sini.”
Opa mengelurkan sebuah benda panjang yang ditutupi oleh kain putih. “Opa, itu benda apa?” Dira mendekat, penasaran dengan benda yang ada di tangan Opa..
Opa membuka kain putihnya perlahan. Raut wajahnya mencerminkan kerinduan. Tangan Opa meraba sebuah tulisan pada benda itu, 1956. “Yah, sudah lama sekali Opa tidak menyentuhnya.”
Dira ikut-ikutan menyentuh benda itu. “Waah… Benda apa ini Opa?”
Opa tidak langsung menjawab pertanyaan Dira. Beliau malah mengajak Dira keluar. “Nah Dira, sekarang kamu lihat ke langit malam ini.”
“Mm.. Indah Opa. Seperti kembang api.”
Opa memasang benda itu sedemikin rupa di atas sebuah kaki tiga yang sudah merupakan perlengkapan benda itu. Beliau juga mengatur ketinggian kaki tiga dengan tinggi Dira. Opa mendekatkan matanya pada lensa. “Dira coba lihat ini!”
“Apa? Opa lihat apa?” Dira mendekatkan matanya pada lensa. “Waaah… Cantiknya! Indah sekali Opa.” Dira terpesona.
“Benda ini adalah teleskop. Kalau Dira mau lihat bintang, Dira bisa menggunakan teleskop ini.”
“Teleskop yah… Benar-benar hebat.”
“Setiap bintang akan membentuk rasi bintang. Coba Dira lihat rasi bintang itu.” Opa menunjuk tangannya pada sebuah rasi bintang di langit utara.
“Ya. Dira lihat. Bentuknya seperti gayung, benarkan Opa?”
“Benar, cucu Opa pintar. Itu adalah rasi bintang Biduk.” Dira mengangguk-ngangguk.
“Opa lihat, rasi bintang itu berbentuk seperti huruf ‘w’.” Dira menoleh. Sepertinya ia mulai tertarik pada kegemaran Opa mengamati bintang.
“Huruf ‘w’ ya? Mm... Itu adalah rasi bintang Cassiopeia. Nah Dira lihat, bintang yang berjarak lima kali garis lurus dari kedua ujung huruf w dari bintang Cassiopeia yang ditarik mundur kemudian dihubungkan dengan bintang yang di bagian tengah.”
“Mm…. “ Dira berusaha mencerna perkataan Opa. Ia memutar otak dan kedua bola matanya mencari keberadaan bintang yang Opa maksud “Iya Opa, ketemu! Bintang itu, agak redup tapi sangat jelas.” Dira tersenyum cerah.
“Bintang itu adalah Polaris.”
“Polaris? Apa itu Opa?” Dira bertanya dengan wajah polos.
“Polaris adalah Bintang kutub utara. Di kutub utara Polaris digunakan sebagai penunjuk arah.” Opa menjelaskan.
“Begitu ya? Mm bagus…”
A Dreamer But Not Just Dream
Engga kerasa, udah satu tahun berlalu. Kehidupan gue setahun belakangan ini sungguh berbeda. Engga bisa gue sangka. Ya, kehidupan gue yang sesungguhnya. Menjadi penentu bagi diri gue sendiri. Sekali lagi gue ucapin thanks to Allah. Gue akhirnya bisa mengerti tentang kehidupan. I belong to Allah, I still life so I have a lot of problem. But I'm sure that Allah loves me. Setelah setahun ini gue bisa merasakan kasih sayang Allah sesungguhnya. Gue yakin, sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan. Dan gue benar-benar merasakan itu.
Mimpi. gue ingin mejadi seorang pemimpi. Gue engga boleh takut untuk bermimpi. Gue harus terus bermimpi. Mimpi adalah awal dari motivasi. Gue akan berusaha meraih mimpi itu. Allah ada bersama gue. Allah akan menuntun gue, memberikan jejak-jejak menuju mimpi itu.
Mimpi. gue ingin mejadi seorang pemimpi. Gue engga boleh takut untuk bermimpi. Gue harus terus bermimpi. Mimpi adalah awal dari motivasi. Gue akan berusaha meraih mimpi itu. Allah ada bersama gue. Allah akan menuntun gue, memberikan jejak-jejak menuju mimpi itu.
Rabu, 16 Juni 2010
Tuesday, 05.01.10, 23:20
Udara yang menerpa tubuhku ringan
dibawah alunan melodi yang senantiasa merangkul tubuhku
ku taruh sesuatu diatas kepalaku saat terlelap
entah mengapa, itu membuatku nyaman
di tengah malam ini aku terhanyut
berusaha mencari duniaku sendiri
Pikiranku penuh dengan hal-hal konyol
sungguh membuatku muak!
ku dengar kembali alunan yang sangat pahit
benar-benar menyeret paksa tubuhku
alunan yang sangat sulit untuk diungkapkan
namun sangat menusuk!
memberikan rasa sakit atau bahkan kegembiraan
sendu air bergema
ku temukan saat yang damai
tak berkesan
"In The Middle Of Summer"
rasanya aku mendengar kalimat itu
kata-kata yang sekejap saja menghilang
kini aku kembali ke duniaku
seperti terseret arus yang kuat
namun aku tidak berusaha bangkit
arus itu memberi sesuatu dalam hatiku
yang selalu membuat tubuhku bergetar
hasrat yang bisa muncul denga tiba-tiba
hasrat untuk terhanyut dalam alunan mengungkapkan rasa
dan aku pun lelah
Tuesday, 05.01.10, 23:20
dibawah alunan melodi yang senantiasa merangkul tubuhku
ku taruh sesuatu diatas kepalaku saat terlelap
entah mengapa, itu membuatku nyaman
di tengah malam ini aku terhanyut
berusaha mencari duniaku sendiri
Pikiranku penuh dengan hal-hal konyol
sungguh membuatku muak!
ku dengar kembali alunan yang sangat pahit
benar-benar menyeret paksa tubuhku
alunan yang sangat sulit untuk diungkapkan
namun sangat menusuk!
memberikan rasa sakit atau bahkan kegembiraan
sendu air bergema
ku temukan saat yang damai
tak berkesan
"In The Middle Of Summer"
rasanya aku mendengar kalimat itu
kata-kata yang sekejap saja menghilang
kini aku kembali ke duniaku
seperti terseret arus yang kuat
namun aku tidak berusaha bangkit
arus itu memberi sesuatu dalam hatiku
yang selalu membuat tubuhku bergetar
hasrat yang bisa muncul denga tiba-tiba
hasrat untuk terhanyut dalam alunan mengungkapkan rasa
dan aku pun lelah
Tuesday, 05.01.10, 23:20
Senin, 14 Juni 2010
Pena.. Hate oR Love ??!
I love books, I love libraries, I love drawing, I love reading, I love classic, I love music, I love Muse, I love chocolate, I love ice cream, I love lollipop, I love lotus, I love autumn, I love snow, I love photography, I love Italy, I love clouds, I love rain, I love red, I love fireworks, I love games, I love anime, I love cartoon, I love dreams, I love peace, I love stories, I love writing, I love pencil, and I HATE PENA, don't I??
Happines is a Choice
Selama ini gue engga sadar kalau hidup gue ini just FLAT!!
Tapi gue bersyukur, GOD ngasih petunjuk pada gue. Beberapa hari yang lalu gue merasa hampa banget. Terlebih lagi ibu gue pergi ke Jakarta buat menghadiri acara wisuda S1. Gue benar-benar kosong. Apa yang ada pada hidup gue belakangan ini?? Gue tepat banget meneteskan air mata ketika gue baca tulisan-tulisan yang ada di diary gue. Gue baru sadar, sekarang ini hidup gue engga lebih dari hanya sekedar black and white. Gue engga menemukan lagi cerita-cerita di diary gue. JUST EMPTY PAGES!! Jauh dari kehidupan gue yang dulu, penuh kisah dan berwarna. But now, NOTHING!! Engga ada yang perlu dikenang, atau bahkan engga pantas untuk dikenang. GOD, gue sedih banget dengan kenyataan ini. Semua yang gue miliki dulu, sekarang engga berbekas sedikit pun. Hanya kepiluan yang hadir saat gue cuma bisa mengenangnya kembali. Waktu cepat sekali berlalu. Dan memang lebih baik cepat berlalu, kisah yang sepi tanpa arti.
Gue engga mau berlarut-larut. Sudahlah, gue engga perlu ngebutuhin apa yang engga ada. Kehidupan gue yang sebenarnya adalah kehidupan gue saat ini.
Let me tell. This is the time of my life. Now, I want to be a happy girl. Yeaaaah..!! I'm a happy girl.!! Just...
Thanks God for your kindness..
Tapi gue bersyukur, GOD ngasih petunjuk pada gue. Beberapa hari yang lalu gue merasa hampa banget. Terlebih lagi ibu gue pergi ke Jakarta buat menghadiri acara wisuda S1. Gue benar-benar kosong. Apa yang ada pada hidup gue belakangan ini?? Gue tepat banget meneteskan air mata ketika gue baca tulisan-tulisan yang ada di diary gue. Gue baru sadar, sekarang ini hidup gue engga lebih dari hanya sekedar black and white. Gue engga menemukan lagi cerita-cerita di diary gue. JUST EMPTY PAGES!! Jauh dari kehidupan gue yang dulu, penuh kisah dan berwarna. But now, NOTHING!! Engga ada yang perlu dikenang, atau bahkan engga pantas untuk dikenang. GOD, gue sedih banget dengan kenyataan ini. Semua yang gue miliki dulu, sekarang engga berbekas sedikit pun. Hanya kepiluan yang hadir saat gue cuma bisa mengenangnya kembali. Waktu cepat sekali berlalu. Dan memang lebih baik cepat berlalu, kisah yang sepi tanpa arti.
Gue engga mau berlarut-larut. Sudahlah, gue engga perlu ngebutuhin apa yang engga ada. Kehidupan gue yang sebenarnya adalah kehidupan gue saat ini.
Let me tell. This is the time of my life. Now, I want to be a happy girl. Yeaaaah..!! I'm a happy girl.!! Just...
Thanks God for your kindness..
Minggu, 13 Juni 2010
New Account
Guys!! Haha.. gue baru bikin akun di Twitter. Gilak yaa.. NORAK!! hehe... Enggak apa-apa sih. Sebelumnya gue aktif banget di Facebook, tapi setelah gue tahu ternyata dibalik Facebook itu apa.... Huh! Bikin gue kesel!! Tapi gimana yaaa... Gue belum bisa delete akun facebook, so gue bertekad untuk pasif sama yang namanya FACEBOOK!!!!
Alasan gue belum bisa delete akun Facebook sederhana aja sih. Gue enggak takut bakalan dibilang enggak gaul, gaptek atau apalah, ketinggalan info dari teman-temanlah, aaagh.. I don't care!! So, apa alasan gue sebenarnya????!! JUST SIMPLE..
Gue belum bisa berhenti main game Facebook!!!
Haha.. Gue maniak game emang. Sumpah deh! Bener! Gue ngerasa nyaman kalau main game.
Ya. Final, gue mutusin buat bikin akun Twitter. Gue cuma pake Facebook buat main game. Ok!! Guys.. Ini akun Twitter gue
Yaudah deh, terserah ajah pokoknya mah. Tapi kalau follow, tenang aja, gue bakal follback kok...

Yup Guys!! Thanks..... :D
Alasan gue belum bisa delete akun Facebook sederhana aja sih. Gue enggak takut bakalan dibilang enggak gaul, gaptek atau apalah, ketinggalan info dari teman-temanlah, aaagh.. I don't care!! So, apa alasan gue sebenarnya????!! JUST SIMPLE..
Gue belum bisa berhenti main game Facebook!!!
Haha.. Gue maniak game emang. Sumpah deh! Bener! Gue ngerasa nyaman kalau main game.
Ya. Final, gue mutusin buat bikin akun Twitter. Gue cuma pake Facebook buat main game. Ok!! Guys.. Ini akun Twitter gue
@nisakomaryah
Terserah sih mau follow atau enggak (Haha.. emangnya penting ya follow?). Enggak!! Enggak penting banget sumpah!!!Yaudah deh, terserah ajah pokoknya mah. Tapi kalau follow, tenang aja, gue bakal follback kok...

Yup Guys!! Thanks..... :D
Sabtu, 12 Juni 2010
MIND WRITING
Hellow hellow hellow..!! Haha akhirnya gue bisa lnjutin posting gue lagi. Yup!! gue masih punya utang tentang buku MIND WRITING. Nah sekarang, ini baru posting tentang MIND WRITING yang sesungguhnya. Eh, tapi gimana yaa..?? Guys, gue belum selesai baca MIND WRITING, udah hampir dua minggu lebih,(Gilee!! setebel apa sih bukunya?). Enggak, enggak tebel, biasa aja kok, standar suerr! (Lah sih? haha.. so busy right?) No, no, no!! Haaah... gue ketagihan main game tau!! So, gue lebih sering ngegame daripada baca. I'm a gamer, haha..(autis!!)
Ok! ngalor ngidul lagi tuh kan?! Kembali ke tema, MIND WRITING!! GUe baru baca dua bab. Parah! Kerjaan gue akhir-akhir ini ya ngegame. Mm.. ga apa-apa deh, gue akan tetap ngasih tau apa aja yang udah gue dapet dari MIND WRITING.
First, gunakan teori 5W+1H untuk mengembangkan tema tulisan kita. (ya. ya. udah pernah diajarin sama guru bahasa Indonesia)
Second, Saat kita menulis, jangan pedulikan Omongan "Otak Kritis".
Mm... Apa ya maksudnya?? Buat kalian yang masih merasa bingung dengan pernyataan diatas, gue akan menjelaskan. Hal pertama "Otak Kritis", guys, benar banget setiap gue menulis pasti otak kritis gue bicara, dan kadang-kadang gue justru terpengaruh dengan otak kritis gue. Hal inilah yang ternyata kurang baik. Ok, sebenarnya apa sih otak kritis itu? Otak kritis adalah dorongan yang timbul dari otak kita untuk memperbaiki atau mengoreksi tulisan yang sedang kita kerjakan. Nah, inilah yang sering membuat kita untuk ragu dalam menulis. Otak kita mempunyai nalar atas kesalahan-kesalahan yang mungkin kita lakukan. Saat kita menulis sering kali kita membaca ulang tulisan kita, memikirkan penggunaan kata atau kalimat yang efektif atau bahkan dapat membuat kita berfikir ulang atas tema yang kita buat. Ya! Trouble maker. Olehkarena itu, saat menulis kita harus melakukannya satu-parsatu agar kita bisa konsisten. Selesaikan dulu tulisan kita, setelah itu baru kita koreksi. Abaikanlah otak kritis kita sejenak. Karena sesungguhnya dialah yang sering menghambat ide-ide yang muncul. Otak memang penting, tapi ada kalanya bagi dia untuk mengkritisi tulisan kita dan juga untuk kita istirahatkan.
Hal-hal diatas sangat membantu gue dalam menulis. Ternyata benar banget tentang si otak kritis itu. Yup! Untuk sementara kita abaikan otak kritis kita.
Next. Guys, ternyata buku MIND WRITING ini engga hanya memberikan teori pada kita sang pembaca, tapi juga langsung dengan praktik. Istilah lainnya, "TASK"
(Hah? Tugas? Ya ampuuun!)
Haha.. mungkin ada dari kalian yang langsung berkata seperti itu. Kalau kita mendengar kata tugas, kita biasanya langsung malas. Tapi "TASK" yang ada di MIND WRITING ini beda loh. Malah bikin kita penasaran untuk melakukannya. Mm... emang TASK yang ada di MIND WRITING apa aja sih?? Sejauh ini gue baru dapat tiga TASK (Yaiyalah, baru juga baca dua bab). Ok, langsung aja pada TASK pertama..
Pertama-tama, Gue disuruh untuk menyiapkan dua lembar kertas kosong ukuran folio atau kwarto, pulpen untuk tanda tangan, dan jam atau stop wacth. Setelah itu baru pemberian tugas.
Tugas Pertama. Pegang pulpen menggunakan tangan kanan. Tataplah kertas, atur stop wacth dan mulailah menggoreskan tanda tangan. Penuhi lembar pertama dengan tanda tanagan SECEPAT-CEPATNYA! Setelah selesai, lihat waktu yang diperlukan.
Tugas Kedua. Pegang pulpen menggunakan tangan kiri. Tataplah kertas, atur stop wacth dan mulailah menggoreskan tanda tangan. Penuhi lembar pertama dengan tanda tangan SECEPAT-CEPATNYA! Selesai? Maka segeralah kita lihat waktunya.
(Mm... Bingung??? Sebenarnya untuk apa sih tugas-tigas sepeti itu?)
Pertanyaan bagus guys!
Ok! ngalor ngidul lagi tuh kan?! Kembali ke tema, MIND WRITING!! GUe baru baca dua bab. Parah! Kerjaan gue akhir-akhir ini ya ngegame. Mm.. ga apa-apa deh, gue akan tetap ngasih tau apa aja yang udah gue dapet dari MIND WRITING.
First, gunakan teori 5W+1H untuk mengembangkan tema tulisan kita. (ya. ya. udah pernah diajarin sama guru bahasa Indonesia)
Second, Saat kita menulis, jangan pedulikan Omongan "Otak Kritis".
Mm... Apa ya maksudnya?? Buat kalian yang masih merasa bingung dengan pernyataan diatas, gue akan menjelaskan. Hal pertama "Otak Kritis", guys, benar banget setiap gue menulis pasti otak kritis gue bicara, dan kadang-kadang gue justru terpengaruh dengan otak kritis gue. Hal inilah yang ternyata kurang baik. Ok, sebenarnya apa sih otak kritis itu? Otak kritis adalah dorongan yang timbul dari otak kita untuk memperbaiki atau mengoreksi tulisan yang sedang kita kerjakan. Nah, inilah yang sering membuat kita untuk ragu dalam menulis. Otak kita mempunyai nalar atas kesalahan-kesalahan yang mungkin kita lakukan. Saat kita menulis sering kali kita membaca ulang tulisan kita, memikirkan penggunaan kata atau kalimat yang efektif atau bahkan dapat membuat kita berfikir ulang atas tema yang kita buat. Ya! Trouble maker. Olehkarena itu, saat menulis kita harus melakukannya satu-parsatu agar kita bisa konsisten. Selesaikan dulu tulisan kita, setelah itu baru kita koreksi. Abaikanlah otak kritis kita sejenak. Karena sesungguhnya dialah yang sering menghambat ide-ide yang muncul. Otak memang penting, tapi ada kalanya bagi dia untuk mengkritisi tulisan kita dan juga untuk kita istirahatkan.
Hal-hal diatas sangat membantu gue dalam menulis. Ternyata benar banget tentang si otak kritis itu. Yup! Untuk sementara kita abaikan otak kritis kita.
Next. Guys, ternyata buku MIND WRITING ini engga hanya memberikan teori pada kita sang pembaca, tapi juga langsung dengan praktik. Istilah lainnya, "TASK"
(Hah? Tugas? Ya ampuuun!)
Haha.. mungkin ada dari kalian yang langsung berkata seperti itu. Kalau kita mendengar kata tugas, kita biasanya langsung malas. Tapi "TASK" yang ada di MIND WRITING ini beda loh. Malah bikin kita penasaran untuk melakukannya. Mm... emang TASK yang ada di MIND WRITING apa aja sih?? Sejauh ini gue baru dapat tiga TASK (Yaiyalah, baru juga baca dua bab). Ok, langsung aja pada TASK pertama..
Pertama-tama, Gue disuruh untuk menyiapkan dua lembar kertas kosong ukuran folio atau kwarto, pulpen untuk tanda tangan, dan jam atau stop wacth. Setelah itu baru pemberian tugas.
Tugas Pertama. Pegang pulpen menggunakan tangan kanan. Tataplah kertas, atur stop wacth dan mulailah menggoreskan tanda tangan. Penuhi lembar pertama dengan tanda tanagan SECEPAT-CEPATNYA! Setelah selesai, lihat waktu yang diperlukan.
Tugas Kedua. Pegang pulpen menggunakan tangan kiri. Tataplah kertas, atur stop wacth dan mulailah menggoreskan tanda tangan. Penuhi lembar pertama dengan tanda tangan SECEPAT-CEPATNYA! Selesai? Maka segeralah kita lihat waktunya.
(Mm... Bingung??? Sebenarnya untuk apa sih tugas-tigas sepeti itu?)
Pertanyaan bagus guys!
Jumat, 11 Juni 2010
Test Test Test. How About Writing?
AAAaaaaaaaaagh!! gue engga tahan lagi, Udah lama banget gue absent nulis. huhuhu.. di sekolah gue lagi ada test kenaikan kelas, so konsentrasi gue terbagi. Gue jadi bingung. Banyak banget yang pingin gue tulis. Tapi gue mesti tahan, coz kalau udah nulis, gue bisa lupa diri, dibaca*Long.
Pokoknya buanyak, buanyak banget. Yah berhubung gue engga bisa ngepost yang panjang-panjang kaya posting-posting gue sebelumnya yang udah panjang bejibun, kali ini gue cuma pinging melampiaskan kerinduan gue akan menulis. Yaudah deh, segini ajah, jangan panjang-panjang. Pas liburan, baru gue capcus writing lagi :D
Oh iya.. semoga hsil test gue bagus dan gue bisa naik kelas dengan nilai yang bagus juga. Kan engga sia-sia selama ini gue absent nulis... Haha..!(garing)
Pokoknya buanyak, buanyak banget. Yah berhubung gue engga bisa ngepost yang panjang-panjang kaya posting-posting gue sebelumnya yang udah panjang bejibun, kali ini gue cuma pinging melampiaskan kerinduan gue akan menulis. Yaudah deh, segini ajah, jangan panjang-panjang. Pas liburan, baru gue capcus writing lagi :D
Oh iya.. semoga hsil test gue bagus dan gue bisa naik kelas dengan nilai yang bagus juga. Kan engga sia-sia selama ini gue absent nulis... Haha..!(garing)
Langganan:
Postingan (Atom)