Suatu malam, langit bertaburkan permata bintang. Hening dan sunyi, Opa menyukainya. Beliau duduk di pekarangan rumah. Pijaran bohlam lampu memberikan pencahayaan membantu penglihatan Opa yang sedang membaca sebuah buku. Tercium aroma sedap secangkir kopi buatan Oma yang diletakkan di atas meja. Sesekali Opa menyesapnya. Aah… sungguh nikmat…..
“Opa! Opa!” Tiba-tiba terdengar langkah kaki kecil memecah keheningan. Opa tentu mengenali suara itu. Pandangannya pun beralih, Opa menaruh bukunya. Beliau mencoba menerawang kegelapan mencari sosok yang tadi memanggil.
“Dira?” Opa mendapati seorang gadis kecil berlari mendekat. “Dira kamu mau kemana? Hati-hati nanti kamu jatuh!” Opa bangkit dari duduknya.
Dira mendekap “Dira mau main sama Opa!”
“Dira mau main sama Opa? Sekarang sudah malam. Cucu Opa harus tidur.” Opa menggendong Dira dan memangkunya.
“Malam ini Dira tidur di rumah Opa ya?”
“Boleh, tapi Dira sudah bilang mamah?”
“Udah Opa. Mamah bilang boleh.”
“Ya sudah, sekarang ayo masuk. Cucu Opa tidur.” Opa menurunkan Dira dari pangkuannya dan menggandeng Dira masuk.
“Yah Opa. Masa langsung tidur? Dira kan belum ngantuk.” Dira menahan Opa. Terdengar nada kecewa.
“Dira, sekarang kan sudah malam, Tidak baik tidur larut malam.”
“Opa sendiri juga belum tidur. Opa curang!”
Opa menjelaskan, namun Dira tidak memperdulikan penjelasan Opa. Dira merasa kesal. Opa sangat menyayangi Dira, beliau tidak tega pada Dira. Opa akhirnya mengalah. Sekali tidak masalah pikirnya. “Ya sudah. bilang sama Oma bawakan selimut tebal. Opa tunggu disini.”
Mendengar perkataan Opa, raut wajah Dira tiba-tiba berubah cerah, “Asiiik!! Iya, Opa tunggu Dira ya.” Dira cepat berlari kedalam rumah menghampiri Oma. Dengan sekejap ia kembali sambil memeluk selimut tebal yang diberikan Oma.
Opa menggandeng tangan Dira. Langkahnya terhenti pada sebuah anak tangga. “Nah Dira, ayo naik. Hati-hati, sini selimutnya biar Opa yang pegang.”
Dira heran. Perlahan ia melangkahkan kaki kecilnya satu-persatu melewati anak tangga. Meskipun ia sering main ke rumah Opa, ini pertama kalinya Dira melewati anak tangga ini. Dira juga tidak tahu barisan anak tangga ini berujung dimana. “Opa, di atas anak tangga ini ada apa? ” Dira tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Opa tersenyum, “Dira akan tahu sendiri. Ini tempat kesukaan Opa waktu muda dulu. Dira juga pasti suka.”
Langkah kaki Dira terhenti di depan sebuah pintu. Ia tidak sabar ingin cepat-cepat mengetahui ada apa di balik pintu itu. Tangan Opa memegang knop pintu, perlahan-lahan membukanya. Kreeeeeek.! Pintu itu tidak kalah tuanya hingga menimbulkan bunyi yang tak sedap. Dira perlahan menengok. Apa yang ia lihat ternyata tidak sesuai dengan apa yang ia pikirkan.
***
Kreeeeeek!!
“Opa, ini tempat apa? Tidak ada apa-apa disini.” Dira mulai melangkahkan kakinya. Ia melihat sekeliling. Hanya terdapat sebuah bangunan kecil ya mungkin bisa disebut sebuah kamar karena terdapat tempat tidur dan sebuah meja kerja. Dira pun bertanya-tanya dalam hati ‘Ini tempat apa? Kenapa Opa menyukai tempat ini? Tidak ada yang menarik. Tempat ini kenapa? Sebuah ruangan di dalam ruangan? Ah bukan! Tepatnya apakah ini ruangan?’
Opa tersenyum melihat tingkah laku Dira. Beliau telah menduga cucunya akan merasa heran. Tapi tidak masalah, sebentar lagi Dira akan mengetahui apa yang Opa maksud. Opa mulai mengalihkan perhatiannya pada sebuah kotak besar yang ditaruh di bawah tempat tidur. Opa menarik dan membuka kotak itu. “Kalau tidak salah Opa menaruhnya di sini.”
Opa mengelurkan sebuah benda panjang yang ditutupi oleh kain putih. “Opa, itu benda apa?” Dira mendekat, penasaran dengan benda yang ada di tangan Opa..
Opa membuka kain putihnya perlahan. Raut wajahnya mencerminkan kerinduan. Tangan Opa meraba sebuah tulisan pada benda itu, 1956. “Yah, sudah lama sekali Opa tidak menyentuhnya.”
Dira ikut-ikutan menyentuh benda itu. “Waah… Benda apa ini Opa?”
Opa tidak langsung menjawab pertanyaan Dira. Beliau malah mengajak Dira keluar. “Nah Dira, sekarang kamu lihat ke langit malam ini.”
“Mm.. Indah Opa. Seperti kembang api.”
Opa memasang benda itu sedemikin rupa di atas sebuah kaki tiga yang sudah merupakan perlengkapan benda itu. Beliau juga mengatur ketinggian kaki tiga dengan tinggi Dira. Opa mendekatkan matanya pada lensa. “Dira coba lihat ini!”
“Apa? Opa lihat apa?” Dira mendekatkan matanya pada lensa. “Waaah… Cantiknya! Indah sekali Opa.” Dira terpesona.
“Benda ini adalah teleskop. Kalau Dira mau lihat bintang, Dira bisa menggunakan teleskop ini.”
“Teleskop yah… Benar-benar hebat.”
“Setiap bintang akan membentuk rasi bintang. Coba Dira lihat rasi bintang itu.” Opa menunjuk tangannya pada sebuah rasi bintang di langit utara.
“Ya. Dira lihat. Bentuknya seperti gayung, benarkan Opa?”
“Benar, cucu Opa pintar. Itu adalah rasi bintang Biduk.” Dira mengangguk-ngangguk.
“Opa lihat, rasi bintang itu berbentuk seperti huruf ‘w’.” Dira menoleh. Sepertinya ia mulai tertarik pada kegemaran Opa mengamati bintang.
“Huruf ‘w’ ya? Mm... Itu adalah rasi bintang Cassiopeia. Nah Dira lihat, bintang yang berjarak lima kali garis lurus dari kedua ujung huruf w dari bintang Cassiopeia yang ditarik mundur kemudian dihubungkan dengan bintang yang di bagian tengah.”
“Mm…. “ Dira berusaha mencerna perkataan Opa. Ia memutar otak dan kedua bola matanya mencari keberadaan bintang yang Opa maksud “Iya Opa, ketemu! Bintang itu, agak redup tapi sangat jelas.” Dira tersenyum cerah.
“Bintang itu adalah Polaris.”
“Polaris? Apa itu Opa?” Dira bertanya dengan wajah polos.
“Polaris adalah Bintang kutub utara. Di kutub utara Polaris digunakan sebagai penunjuk arah.” Opa menjelaskan.
“Begitu ya? Mm bagus…”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar