.

.

.

.

.

.

.

.

Minggu, 30 Maret 2014

I'm a blogger

Sebenernya akhir-akhir ini aku bingung ngurusin blog. Yup! karena saking banyaknya, bahkan lebih dari 5 lapak yang aku punya. Cish.. ya ampuun parah banget sih aku ini, punya lapak sebanyak itu buat apa ajaa? Mangkanya aku pun jadi kelimpungan. Kemarin-kemarin juga aku mutusin buat nengok blog-blog aku, dan masalahnya adalah, saking terlalu lamanya engga diurus alias dibuka, aku jadi lupa email dan password apa yang aku pake. LOL. Dan yang paling bikin pusing adalah waktu mau nemuin blog aku yang ngebahas tentang Chen. Udah email dan passwordnya aku lupa, ditambah alamat blogspotnya juga aku lupa!! Sumpah parah bangeeet~ akhirnya aku ingat-ingat aja di sana pernah posting apa, terus aku coba search di google, hahaha konyol banget, tapi untung akhirnya ketemu. Dan setelah ketemu, ternyata masalah belum berakhir. Aku engga bisa log in! Beneran lupa banget emailnya apa, sampe segala macem email yang aku punya aku coba dan tidak ada yang membuahkan hasil. Oke, stuck bangeeet!! Nyesel juga kenapa bikin blog tapi pake email yang lain. Dan karena memang terlalu berharga (mereun) posting-posting yang ada di sana (yaiyalah, kan tentang Chen) akhirnya aku tidak berputus asa. Yup! terus coba lagi. Coba lagi. Coba lagi. Dan yippe!! akhirnya aku bisa log in =D hehehe.. Faktanya, ternyata email yang aku pake di blog itu bukan yang dari yahoomail, tapi gmail -_- cish! ampun banget deh keterlaluannya aku ini, emang aku ini punya satu alamat di gmail dan rupanya aku jadiin email buat bikin blog.

OKE. Masalah pun terselesaikan. Sekarang aku pun memutuskan buat ngebenerin semua blog yang aku punya. Alias ngedelete. Eitss, tapi tenang dulu, engga semua blog aku hapus lah. Gila aja kalau semuanya, yaa walaupun kebanyakan tulisan-tulisan aku di blog itu nonsense tapi cukup layak lah buat jadi ukiran tinta(?) sejarah dan perjalanan hidupku (*eaaa... mulai lebay)

Intinya mah, aku kerepotan ngurusin banyak blog. Jadi ada blog yang aku hapus, tapi postingannya aku copy dulu ke blog yang akan survive alias blog ini.

So sekarang aku cuma punya dua blog di blogger Drizzle Sweet dan Sparks Fly
dan di tumblr ada Just WordsDelipictNisa Chepmunk dan HappyChenChen

ya ampuun, ko aku punya banyak banget tumblr yaa..? -_- haha apalagi engga kebayangkan waktu itu aku punya blog di blogger sampe empat dan dengan email yang berbeda, yaa gimana aku ga kewalahan -_-
tapi kalau tumblr mah engga bikin aku repot, cz semuanya emailnya sama, jadi sekali log in ya otomatis bisa log in ke semuanya juga hehe...

Yah begitulah kronologisnya.. mengapa tiba-tiba di blog ini banyak postingan-postingan baru yang rasa-rasanya nonsense alias gaje. Dan untuk sekarang, blog atau tumblr yang eksis aku urus yaitu masih tetep blog legendaris ini Drizzle Sweet dan Just Words

OK. That's all.. Thx.
(Sa)

Minggu, 23 Maret 2014

Neomu Neomu Kyeopta Namja

kkk~ saat seseorang ngejewer kupingnya sendiri. yaa~ pabo namja yaa~ !
temo, saranghanda~ 




kenapa aku merasa perih, setelah mengingat kembali apa yang selama ini aku alami. senyum itu, akankah aku bisa merasakannya lagi? ingin menangis, tapi mata ini terlalu kering hanya untuk mengeluarkan setets air mata saja. ataukah, aku yang memang terlalu sangsi untuk menangis? begitu beku sampai-sampai aku tidak mengerti. Perasaan apa ini? Mengapa dada ini sesak?

Panggung sandiwara yang selama ini aku pijak, kelak akan aku tinggalkan. Aku tidak menyangka akan merasa begitu beku saat melangkah untuk meninggalkannya. Pada akhirnya tanpa perlu aku perintahkan pun, dengan sendirinya waktu yang akan menyeretku jauh. Aku tidak rindu. Aku hanya tidak menyangka. Dan kini aku mulai merasa asing. Dingin yang begitu menyengat. Apa semua ini hanya sementara? Hanya sebuah momen yang umum dirasakan oleh sosok yang labil? Maka aku hanya perlu tidak mempedulikan perasaan ini, karena perlahan pasti akan menghilang.

Apapun itu. Bagaimanapun itu. Yang jelas aku mempertanyakan satu hal. Beginikah rasanya mengenang.
Di tengah keramaian ini aku begitu muak dengan banyak hal! Dalam hati aku menjerit, tolong, tolonglah aku! siapapun! cepat bawa aku pergi! Hentikan segera aku yang hanya menjadi kerikil di tempat seperti ini. Karena rasanya sungguh memuakan! Ku mohon, sebelum aku terlanjur membenci semuanya.
Aku membayangkan begitu banyak hal yang akan berubah, itulah yang membuatku merasa kehilangan, dan jujur ini sungguh membuatku muak!

Bukan berarti aku cemburu, hanya saja bayangan-bayangan itu kerap kali muncul seperti cahaya proyektor yang jatuh pada sebuah layar. Ya, seperti itu, aku dapat melihat itu.

Pada akhirnya yang harus aku lakukan adalah hanya berdiri pada kedua kakiku sendiri. Tanpa aku perintahkan pun, diri ini dengan sendirinya mulai bersiap akan hal itu. Rasa tidak peduli perlahan mulai menyapa. Sekali lagi tanpa aku perintahkan! ketidak pedulian ini membuatku menjadi lebih kuat meski pada akhirnya aku tetap terhujam.

Sisi seperti ini, aku yang mulai kembali ke tempat asalku, Senandung Hujan.
Apa kabar malam? Sudah lama aku tidak menyapamu. Masih seperti biasa, aku tetap sibuk dengan diriku sendiri. Duniaku sendiri. Kelut imajinasiku sendiri. Harapan dan angan. Cinta dan kehidupan. Aku ingin berkeliling kota. Mengendarai motor. Ke toko buku membeli semua novel dan komik yang aku suka. Beli DVD The Palace. Pergi ke bioskop dan karaoke. Mampir di Restaurant Ice Cream. Aku juga ingin pergi ke bangunan Selamat Jalan, melihat kota Cirebon dari ketinggian. apalagi kalau bisa teriak-teriak di sana terus nerbangin pesawat kertas. Hahaha.. kaya di film-film Indonesia banget yaa? Norak ah! Tapi enggak apa-apa, kalau emang ada kesempatan. Di tambah lagi pas sedang hujan. Hmmm....... pasti menyenangkan! Rintik hujan yang merdu. Aroma basah yang menyegarkan. Dan langit yang sendu. Aku suka! Jangan lupa aku juga bakal pakai jaket merah kesukaanku, biar tetap hangat hehe... Udah gitu si Merahnya diobatin biar bisa dipasang headset. Terus sambil dengerin instrument-instrument dari si Merah deh pake headphone. Aku bakal rentangin tangan lebar-lebar. Memejamkan mata dan haaaaah...... damaaai... Kapan ya aku bisa kayak gitu? Aku enggak suka film alias sinetron Indonesia. Huft! Terserah ah! Aku suka film Korea. Bukan apa-apa, aku suka latar-latar filmnya. Tempatnya bagus-bagus, cocok dengan aku yang ambigu ini untuuuuuk..... berperilaku ambigu? -_- Tau ah! Pokoknya aku suka tempat-tempatnya ^^ Coba di Cirebon ada tempat kayak gitu x( whuaaa... aku bakal seneng banget dan dijamin enggak akan jadi anak rumahan lagi!
Waah... Waah... tuh kan aku udah ambigu lagi. Mengkhayal! Tapi emang beginilah aku.... suka mengkhayal tentang apa yang aku suka. Tau ah! aku ini emang rancu. Udah mau ujian bukannya belajar yang rajin, malah tambah kacau. Yup! aku emang suka nulis-nulis ga jelas apalagi sambil dengerin instrument-instrument yang bikin melting. Aku merasa hidup dan tetap saja ambigu ^_^
Ya sudahlah.... haha...

Selamat malam Malam!

Teardrops

Teardrops. Itu bukan air mata. Hanya sebuah judul instrument dari suatu film yang aku sendiri tidak tahu film-nya seperti apa. Malam, dan gelap. Dan Teardrops masih mengalun dengan sendunya. Aku bingung. Sekarang pun aku tertawa, menertawakan diriku sendiri yang masih saja menjadi sosok yang bingung. Rasanya benar-benar tak menentu, suram, aku kehilangan arah. Terkadang hati ini begitu sakit. Tapi aku enggak tahu, kenapa aku bisa merasa sakit seperti ini. Aku sedih. Tapi aku bingung, apa yang aku sedihkan? Aku ingin menangis. Tapi sepertinya aku terlalu malu untuk menangis. Malu pada diriku sendiri yang merasa seakan-akan aku ini begitu lemah. Aku juga tidak tahu apa yang harus aku tangisi. Aku merindukan sesuatu. Tapi aku  tidak tahu, sesuatu itu apa? Yang aku rindukan? Aku melihat, semua ini, kenyataan ini, penuh dengan tipu muslihat. Kesemuan yang memuakkan. Palsu. Dan juga aku merasa takut. Ketakutan yang sulit untuk dijelaskan. Otak ku, pikiranku, hatiku, semuanya seperti terpecah. Bahkan saat ini pun, aku menulis ini, aku merasa tidak nyaman, padahal hati ini seakan-akan menjerit. Tapi itu semua tidak bisa diterjemahkan oleh otak ku ini. Pikiranku kacau. Apa ini? Mengapa begitu sulit untuk mengungkapkannya? Aku, seperti kehilangan jati diri. Aku merindukan saat-saat dimana aku bisa menuliskan apa saja. Jujur dan apa adanya. Perasaan-perasaan itu, murni.  Kenapa? Ada apa dengan aku? Bahkan di saat malam tahun baru, aku tidak menulis satu kalimat pun, satu kata pun. Tidak ada ulasan apalagi harapan. Apa karena selama itu tidak ada satu pun yang berarti bagi ku? Tidak ada yang berarti? Lalu hati ini, untuk apa? Apa hati ini telah mati? Aku membutuhkan kemurnian itu.


Malam ini begitu sunyi. Dan terasa begitu ambigu. Dunia kecil dalam ruang. Dan aku masih tetap berada di dalamnya. Teardrops, selamat mengalun!

Ira Kusa

Aku telah berteman dengan Ira Kusa
Perih itu, ku rasakan hangat
Bahkan, kini aku justru menumbuhkan duri
Yang dengan senang hati, ku tancap duri itu ke sebatang Kaktus
Namun, itu bukanlah suatu kesakitan yang berarti
Kaktus itu tetap hidup di tengah padang gersang, dengan panas dan teriknya Matahari
Menjadi sosok yang dipenuhi duri dan dijauhi
Apakah aku terbang bersama angin?
Ataukah aku justru meresap, mengalir, menguap, entah hilang?
Layaknya butir salju yang terberai
Putih pun hanya menyisakan gelap

Sa

081011

Perasaan apa ini?
Tiba-tiba mencekat
dan membuat dada ini sesak
Jangan berharap angin akan selalu membawamu ke Utara
Angin tak dapat kau lihat
Meski saat ini kau merasakan hembusannya
Ia hanya sekedar lewat 
Dan tak perlu kau menggenggamnya
Cukup pejamkan mata dan mencoba terlelap


Sa
Aku terlalu tidak peduli 
dengan hal-hal yang tidak penting untuk dipedulikan
Tapi kini aku mulai mendengar gemericik air
yang begitu liar
atau bahkan syahdu
Riak air itu menghipnotisku
Hingga saatnya, aku berada dalam naungan Libra
Kebijaksanaan untuk menentukan
Jauh atau dekat
Aman atau tantangan
Kepercayaan atau pengkhianatan
Sebagai proses kehidupan
Yang sarat dengan angan
Perkataan tak dapat dipegang
Karena ia dapat melukai setiap genggam
Apa yang kau renungkan?
Cuaca yang kerap kali mendung?
Atau benar seperti apa yang ku lihat?
Kau kedinginan dan kesepian
Kenapa?
Ruang ini tampak cocok denganmu
Dengan dirimu yang tak membutuhkan debu-debu itu
Kalau begitu kenapa kau tak mencoba untuk berpetualang?
Di tengah jalan, kau akan bertemu dengan banyak Kumbang
Kau juga bisa melihat pemandangan
Angin akan membawamu terbang
Dan kau akan merasa senang
Kau hanya diam?
Sampai kapan?
Apa kau bingung terhadap tujuan?
Atau rupanya kau justru sudah merasa nyaman?
Kau ini bodoh atau memang tak berpendirian?
Hampir saja membuatku terjungkal
Sungguh menyedihkan!
Bahkan kau tak memiliki ikatan dengan seseorang
Tapi kau kehilangan kebebasan


Sa
Hanya sesosok batu yang terkikis waktu
Diam, tak dipandang ataupun memandang
Paling dilihat lantas ditinggal
Bukan sosok yang benar-benar terbang
Bukan juga sosok yang tergila-gila akan kemerlip bintang
Bahkan jarang menyaksikan kunang-kunang
Terlalu kaku untuk bergerak
Terlalu bisu untuk berteriak
Muak tapi juga nikmat
Berhambur, menjadi satu dengan riak
Melalui satu alur menuju Utara
Tidak istimewa
Menanti perputaran cuaca
Menanti beruang besar menumpahkan air langit
Aroma kelabu bernaung dengan gema sendu
Tersenyum lantas berkata, "Betapa merdu!"
Dengan masih tetap terpejam
Tak peduli meski lampu-lampu berpendar menghias jalan
Terlalu sulit berada dalam keramaian
Terlalu enggan dengan suatu hubungan 
Terlalu muak dengan perhatian
Dan terlalu benci dengan belas kasihan


(Sa)

Ve's Diary

Suatu malam di musim kemarau, Ve duduk di halaman rumahnya yang hanya baralaskan rumput hijau. Masih di samping sebuah kolam dengan air mancur yang di dalamnya hidup beberapa ekor ikan mas koi. Tapi mahluk-mahluk air itu tidak lagi menjadi perhatian Ve. Kini Ve tampak begitu serius dengan buku dan penanya. Dengan hanya berbekal penerangan lampu taman, ia pun menulis.


Semesta alam memang sangatlah luas. Aku tahu, tangan ini tidak akan pernah sanggup untuk menggenggam semesta alam. Ada begitu banyak hal yang berada diluar kendaliku. Termasuk dengan perasaanku ini. Padahal setiap hari aku menikmati dan mengamati semesta alam. Namun justru ini semua menjadi ironi bagiku. Harusnya aku bisa memetik pelajaran dari semesta alam. Tapi nyatanya, kini aku terjerembab dalam kemelut emosiku sendiri. Kenapa genggaman hangat itu belum juga bisa mendamaikanku? Apakah aku ini sosok yang begitu haus? Harusnya aku bisa benar-benar melihat semesta alam. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik, bulan selalu setia menemani dan mengelilingi bumi. Tidak hanya itu, bahkan bulan pun ikut menemani bumi mengelilingi matahari. Bulan menyadari, dirinya hanyalah sebuah benda langit kecil yang justru berhutang budi pada matahari. Matahari yang menjadi pujaan bumi. Apa boleh buat, takdir memang menempatkan mereka seperti itu. Paling tidak bulan berterimakasih, karena berkat matahari, bulan bisa menjadi sosok yang terang, sosok yang bisa dilihat oleh bumi. Dan berkat matahari pula, hingga saat ini kehidupan masih menyelimuti bumi. Bulan selalu berusaha untuk tidak mengharapkan apapun dari bumi. Bumi memang harus tetap mengelilingi matahari, menciptakan musim panas, musim gugur, musim dingin dan musim semi. 


Tiba-tiba, dari belakang, telapak tangan hangat mendarat di kedua mata Ve. Gelap. Ve menghela nafas sebelum akhirnya berkata, “Jo!” Namun tidak ada respon apapun. Ve lanjut berkata, “Jo, aku tahu ini pasti kamu”
Tidak ada balasan. Pandangan Ve masih tetap gelap. “Jo!” ulang Ve. Lalu dengan cepat Ve melepas kedua tangan yang menutupi matanya dan berbalik. ZONK! Seketika Ve terdiam. Mematung. Sejujurnya Ve terkejut. Namun beruntung ia berhasil tidak menunjukan ekspresi apapun apalagi sampai berteriak.
“Konyol!” ucap Ve akhirnya sambil menarik topeng Chuky yang berada tepat di depan wajahnya.
Jo yang berada di balik topeng itu pun tidak bisa manahan tawa. “Hahaha..... Ve, Ve. Lucu banget”
“Lucu apanya? Aku sama sekali enggak takut. Aneh!”
“Hahaha..” Jo masih tetap tertawa. Sambil merapatkan kedua tangannya ia lanjut berkata, “Aduh, perut aku sampai sakit Ve”
“Yaudah, mending kamu pulang aja daripada nanti sekarat di sini, aku enggak mau tanggung jawab!” ucap Ve dongkol.
“Iya, iya.. Kan bercanda”


Sesaat Jo memperhatikan buku yang tadi dipegang Ve tergeletak begitu saja. Ia pun mengambil buku itu, “Tadi kamu nulis apa si?”
“Jangan!” Ve langsung merebut buku itu dari tangan Jo. Jo balas menatap Ve heran. “Aku enggak nulis apa-apa. Tadi aku cuma mau coba gambar ikan-ikan itu. Tapi hasilnya enggak bagus. Nanti kamu malah ketawa ngolok-ngolok aku” jelas Ve asal.
“Hahaha..... Ve, aku tahu dan enggak akan maksa. Jadi enggak usah bohong. Aku juga enggak ada minat buat baca curhatan-curhatan anak perempuan kayak gitu.” Jo mendekat ke kolam dan mencelupkan sebelah tangannya ke air. Seketika ikan-ikan mas koi mengerumuni tangan Jo, “Sejak kapan ya majikan kalian bisa gambar?”
Ve bengong. Dengan sangat berat, ia memaksakan seulas senyum datar, “Oke kali ini aku kalah telak”


Ve menghampiri Jo dan ikut menyelupkan sebelah tangannya ke air, “Jo, aku mau bertanya. Kenapa bumi cuma punya satu satelit, bulan? Padahal planet-planet lain ada yang mempunyai satelit lebih dari satu”
Jo mengangkat bahu, “Ya mungkin karena memang yang dibutuhkan bumi cukup satu satelit, bulan. Bumi itu sendiri kan hanya planet kecil jadi normal kalau satelitnya cuma ada satu. Berbeda dengan planet-planet Jovian seperti Jupiter, Saturnus, Uranus. Lagian coba bayangkan, kalau bumi punya satelit lebih dari satu, maka setiap malam akan ada lingkaran-lingkaran besar terang di langit, itu kan aneh. Coba lihat!” Jo mendongakkan kepalanya menatap langit malam, “Menurutku langit malam yang seperti ini sudah cukup untuk bumi. Hanya ada satu bulan yang berarti istimewa”
“Istimewa Jo?” Ve mengalihkan pandangannya.
“Ya, istimewa. Lagi pula, aku percaya segala apapun yang Tuhan berikan, itu semua adalah yang terbaik. Sama seperti apa yang Tuhan berikan pada bumi. Cukup dengan keberadaan bulan keseimbangan di bumi bisa terjaga”
“Mungkin enggak ya bumi dan bulan saling jatuh cinta?” Ve terbang dalam emosinya sendiri. Menatap bulan yang tersemat di langit. Akhirnya ia menyadari Jo belum juga menjawab pertanyaannya. Saat Ve menoleh, ia pun mendapati Jo sedang menatapnya. Kikuk.
“Pertanyaan kamu kayak anak kecil”
“Apa?”
Jo mengetuk-ngetuk kening Ve dengan jari telunjuknya. Ve yang masih heran pun hanya bisa diam. “Veolina Sereffa, coba tebak apa yang terjadi jika bumi dan bulan saling jatuh cinta? Kamu tahu?” Ve hanya mengangkat kedua bahunya. “Itu artinya gawat! Karena dunia akan kiamat!” Ucap Jo dengan nada mistis.


Ve tidak bereaksi. Jo mencoba untuk mengejutkan Ve dengan menunjukkan topeng Chuky itu lagi. Namun Ve langsung menepis tangan Jo, “Aku enggak takut dan enggak akan terkejut Jo!” Ve kembali mencelupkan tangannya ke air dan berkata lirih, “Kiamat?”
“Ya setidaknya menurut ilmu astronomi begitu. Selama ini terjadi keseimbangan antara gaya gravitasi bumi dan gaya gravitasi bulan. Lalu saat-saat dimana dunia ini akan kiamat, keadaan bumi dan bulan sudah tidak stabil. Bisa jadi dengan gaya gravitasi bumi yang lebih besar dari bulan, bulan bisa tertarik ke bumi. Kalau sudah begitu bumi dan bulan akan bertubrukan, mengerti?” jelas Jo.
Ve hanya mengangguk. “Jorendra Herfian, ternyata kamu pintar juga”
"Tapi Ve, suatu saat nanti, bumi dan bulan pasti akan saling jatuh cinta"
Ve termenung. "Dan itu akan menjadi saat-saat terakhir mereka"


(Sa)

Figure In The Song

stand on the gray sidewalk
feel the cold snow fall from the sky
sing a simply words
imagine be a figure in the song

a girl with no funtime
no adventure
and love
wish stay beyond the fortress
but no means be surrender

believe in hope
never stop effort to out from the dark
but if can't go
just be my own self
and I'll glow like fireflies
fly in the darkness

there could be my fate
trappe inside of case
wait isn't the one way can I take

the end of the song
not means same of the life
sheild the determinations
soon, the stone will change into the diamond
tomorrow is our decide
gratefulness

(Sa)

Blue Crystal

"Boleh ku tanyakan satu hal?"
"Umm"
"Apakah kau ... merindukan Blue Crystal?"
"Apa?!!"
"Yah, itu. Kau tidak merindukannya?"
"Merindukan apa katamu?"
"Putih .... dan hangat"
"Tunggu aku tidak mengerti"
"Kau .... tidak ingat?"
"Ahh .. sepertinya kau salah orang"
"Ahh, sepertinya kau benar-benar tidak ingat"
"Kau aneh"
"Kau sering mengatakan itu"
"Lupakan saja"
"Itu karena kau, dirimu ini terlalu normal"
"Apa? Terlalu normal?"
"Kau menyedihkan"
"Ohh .. hahaha .. terimakasih!!"
"Tidak perlu, aku tidak melakukan apapun untukmu. Tapi aku yakin kelak kau akan sadar"
"................"

Setelah itu, kau menghilang di tengah embun basah. Sedangkan aku, terlalu beku dengan keheranan ini, untuk memanggilmu. Semuanya dingin, begitu saja ......
Aku bodoh.

(Sa)