.

.

.

.

.

.

.

.

Minggu, 23 Maret 2014

Ve's Diary

Suatu malam di musim kemarau, Ve duduk di halaman rumahnya yang hanya baralaskan rumput hijau. Masih di samping sebuah kolam dengan air mancur yang di dalamnya hidup beberapa ekor ikan mas koi. Tapi mahluk-mahluk air itu tidak lagi menjadi perhatian Ve. Kini Ve tampak begitu serius dengan buku dan penanya. Dengan hanya berbekal penerangan lampu taman, ia pun menulis.


Semesta alam memang sangatlah luas. Aku tahu, tangan ini tidak akan pernah sanggup untuk menggenggam semesta alam. Ada begitu banyak hal yang berada diluar kendaliku. Termasuk dengan perasaanku ini. Padahal setiap hari aku menikmati dan mengamati semesta alam. Namun justru ini semua menjadi ironi bagiku. Harusnya aku bisa memetik pelajaran dari semesta alam. Tapi nyatanya, kini aku terjerembab dalam kemelut emosiku sendiri. Kenapa genggaman hangat itu belum juga bisa mendamaikanku? Apakah aku ini sosok yang begitu haus? Harusnya aku bisa benar-benar melihat semesta alam. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik, bulan selalu setia menemani dan mengelilingi bumi. Tidak hanya itu, bahkan bulan pun ikut menemani bumi mengelilingi matahari. Bulan menyadari, dirinya hanyalah sebuah benda langit kecil yang justru berhutang budi pada matahari. Matahari yang menjadi pujaan bumi. Apa boleh buat, takdir memang menempatkan mereka seperti itu. Paling tidak bulan berterimakasih, karena berkat matahari, bulan bisa menjadi sosok yang terang, sosok yang bisa dilihat oleh bumi. Dan berkat matahari pula, hingga saat ini kehidupan masih menyelimuti bumi. Bulan selalu berusaha untuk tidak mengharapkan apapun dari bumi. Bumi memang harus tetap mengelilingi matahari, menciptakan musim panas, musim gugur, musim dingin dan musim semi. 


Tiba-tiba, dari belakang, telapak tangan hangat mendarat di kedua mata Ve. Gelap. Ve menghela nafas sebelum akhirnya berkata, “Jo!” Namun tidak ada respon apapun. Ve lanjut berkata, “Jo, aku tahu ini pasti kamu”
Tidak ada balasan. Pandangan Ve masih tetap gelap. “Jo!” ulang Ve. Lalu dengan cepat Ve melepas kedua tangan yang menutupi matanya dan berbalik. ZONK! Seketika Ve terdiam. Mematung. Sejujurnya Ve terkejut. Namun beruntung ia berhasil tidak menunjukan ekspresi apapun apalagi sampai berteriak.
“Konyol!” ucap Ve akhirnya sambil menarik topeng Chuky yang berada tepat di depan wajahnya.
Jo yang berada di balik topeng itu pun tidak bisa manahan tawa. “Hahaha..... Ve, Ve. Lucu banget”
“Lucu apanya? Aku sama sekali enggak takut. Aneh!”
“Hahaha..” Jo masih tetap tertawa. Sambil merapatkan kedua tangannya ia lanjut berkata, “Aduh, perut aku sampai sakit Ve”
“Yaudah, mending kamu pulang aja daripada nanti sekarat di sini, aku enggak mau tanggung jawab!” ucap Ve dongkol.
“Iya, iya.. Kan bercanda”


Sesaat Jo memperhatikan buku yang tadi dipegang Ve tergeletak begitu saja. Ia pun mengambil buku itu, “Tadi kamu nulis apa si?”
“Jangan!” Ve langsung merebut buku itu dari tangan Jo. Jo balas menatap Ve heran. “Aku enggak nulis apa-apa. Tadi aku cuma mau coba gambar ikan-ikan itu. Tapi hasilnya enggak bagus. Nanti kamu malah ketawa ngolok-ngolok aku” jelas Ve asal.
“Hahaha..... Ve, aku tahu dan enggak akan maksa. Jadi enggak usah bohong. Aku juga enggak ada minat buat baca curhatan-curhatan anak perempuan kayak gitu.” Jo mendekat ke kolam dan mencelupkan sebelah tangannya ke air. Seketika ikan-ikan mas koi mengerumuni tangan Jo, “Sejak kapan ya majikan kalian bisa gambar?”
Ve bengong. Dengan sangat berat, ia memaksakan seulas senyum datar, “Oke kali ini aku kalah telak”


Ve menghampiri Jo dan ikut menyelupkan sebelah tangannya ke air, “Jo, aku mau bertanya. Kenapa bumi cuma punya satu satelit, bulan? Padahal planet-planet lain ada yang mempunyai satelit lebih dari satu”
Jo mengangkat bahu, “Ya mungkin karena memang yang dibutuhkan bumi cukup satu satelit, bulan. Bumi itu sendiri kan hanya planet kecil jadi normal kalau satelitnya cuma ada satu. Berbeda dengan planet-planet Jovian seperti Jupiter, Saturnus, Uranus. Lagian coba bayangkan, kalau bumi punya satelit lebih dari satu, maka setiap malam akan ada lingkaran-lingkaran besar terang di langit, itu kan aneh. Coba lihat!” Jo mendongakkan kepalanya menatap langit malam, “Menurutku langit malam yang seperti ini sudah cukup untuk bumi. Hanya ada satu bulan yang berarti istimewa”
“Istimewa Jo?” Ve mengalihkan pandangannya.
“Ya, istimewa. Lagi pula, aku percaya segala apapun yang Tuhan berikan, itu semua adalah yang terbaik. Sama seperti apa yang Tuhan berikan pada bumi. Cukup dengan keberadaan bulan keseimbangan di bumi bisa terjaga”
“Mungkin enggak ya bumi dan bulan saling jatuh cinta?” Ve terbang dalam emosinya sendiri. Menatap bulan yang tersemat di langit. Akhirnya ia menyadari Jo belum juga menjawab pertanyaannya. Saat Ve menoleh, ia pun mendapati Jo sedang menatapnya. Kikuk.
“Pertanyaan kamu kayak anak kecil”
“Apa?”
Jo mengetuk-ngetuk kening Ve dengan jari telunjuknya. Ve yang masih heran pun hanya bisa diam. “Veolina Sereffa, coba tebak apa yang terjadi jika bumi dan bulan saling jatuh cinta? Kamu tahu?” Ve hanya mengangkat kedua bahunya. “Itu artinya gawat! Karena dunia akan kiamat!” Ucap Jo dengan nada mistis.


Ve tidak bereaksi. Jo mencoba untuk mengejutkan Ve dengan menunjukkan topeng Chuky itu lagi. Namun Ve langsung menepis tangan Jo, “Aku enggak takut dan enggak akan terkejut Jo!” Ve kembali mencelupkan tangannya ke air dan berkata lirih, “Kiamat?”
“Ya setidaknya menurut ilmu astronomi begitu. Selama ini terjadi keseimbangan antara gaya gravitasi bumi dan gaya gravitasi bulan. Lalu saat-saat dimana dunia ini akan kiamat, keadaan bumi dan bulan sudah tidak stabil. Bisa jadi dengan gaya gravitasi bumi yang lebih besar dari bulan, bulan bisa tertarik ke bumi. Kalau sudah begitu bumi dan bulan akan bertubrukan, mengerti?” jelas Jo.
Ve hanya mengangguk. “Jorendra Herfian, ternyata kamu pintar juga”
"Tapi Ve, suatu saat nanti, bumi dan bulan pasti akan saling jatuh cinta"
Ve termenung. "Dan itu akan menjadi saat-saat terakhir mereka"


(Sa)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar