Aku membayangkan begitu banyak hal yang akan berubah, itulah yang
membuatku merasa kehilangan, dan jujur ini sungguh membuatku muak!
Bukan
berarti aku cemburu, hanya saja bayangan-bayangan itu kerap kali muncul
seperti cahaya proyektor yang jatuh pada sebuah layar. Ya, seperti itu,
aku dapat melihat itu.
Pada akhirnya yang harus aku lakukan
adalah hanya berdiri pada kedua kakiku sendiri. Tanpa aku perintahkan
pun, diri ini dengan sendirinya mulai bersiap akan hal itu. Rasa tidak
peduli perlahan mulai menyapa. Sekali lagi tanpa aku perintahkan!
ketidak pedulian ini membuatku menjadi lebih kuat meski pada akhirnya
aku tetap terhujam.
Sisi seperti ini, aku yang mulai kembali ke tempat asalku, Senandung Hujan.