Teardrops. Itu bukan air mata. Hanya sebuah judul instrument dari suatu
film yang aku sendiri tidak tahu film-nya seperti apa. Malam, dan gelap.
Dan Teardrops masih mengalun dengan sendunya. Aku bingung. Sekarang pun
aku tertawa, menertawakan diriku sendiri yang masih saja menjadi sosok
yang bingung. Rasanya benar-benar tak menentu, suram, aku kehilangan
arah. Terkadang hati ini begitu sakit. Tapi aku enggak tahu, kenapa aku
bisa merasa sakit seperti ini. Aku sedih. Tapi aku bingung, apa yang aku
sedihkan? Aku ingin menangis. Tapi sepertinya aku terlalu malu untuk
menangis. Malu pada diriku sendiri yang merasa seakan-akan aku ini
begitu lemah. Aku juga tidak tahu apa yang harus aku tangisi. Aku
merindukan sesuatu. Tapi aku tidak tahu, sesuatu itu apa? Yang aku
rindukan? Aku melihat, semua ini, kenyataan ini, penuh dengan tipu
muslihat. Kesemuan yang memuakkan. Palsu. Dan juga aku merasa takut.
Ketakutan yang sulit untuk dijelaskan. Otak ku, pikiranku, hatiku,
semuanya seperti terpecah. Bahkan saat ini pun, aku menulis ini, aku
merasa tidak nyaman, padahal hati ini seakan-akan menjerit. Tapi itu
semua tidak bisa diterjemahkan oleh otak ku ini. Pikiranku kacau. Apa
ini? Mengapa begitu sulit untuk mengungkapkannya? Aku, seperti
kehilangan jati diri. Aku merindukan saat-saat dimana aku bisa
menuliskan apa saja. Jujur dan apa adanya. Perasaan-perasaan itu,
murni. Kenapa? Ada apa dengan aku? Bahkan di saat malam tahun baru, aku
tidak menulis satu kalimat pun, satu kata pun. Tidak ada ulasan apalagi
harapan. Apa karena selama itu tidak ada satu pun yang berarti bagi ku?
Tidak ada yang berarti? Lalu hati ini, untuk apa? Apa hati ini telah
mati? Aku membutuhkan kemurnian itu.
Malam ini begitu sunyi. Dan terasa begitu ambigu. Dunia kecil dalam ruang. Dan aku masih tetap berada di dalamnya. Teardrops, selamat mengalun!