.

.

.

.

.

.

.

.

Minggu, 23 Maret 2014

Teardrops

Teardrops. Itu bukan air mata. Hanya sebuah judul instrument dari suatu film yang aku sendiri tidak tahu film-nya seperti apa. Malam, dan gelap. Dan Teardrops masih mengalun dengan sendunya. Aku bingung. Sekarang pun aku tertawa, menertawakan diriku sendiri yang masih saja menjadi sosok yang bingung. Rasanya benar-benar tak menentu, suram, aku kehilangan arah. Terkadang hati ini begitu sakit. Tapi aku enggak tahu, kenapa aku bisa merasa sakit seperti ini. Aku sedih. Tapi aku bingung, apa yang aku sedihkan? Aku ingin menangis. Tapi sepertinya aku terlalu malu untuk menangis. Malu pada diriku sendiri yang merasa seakan-akan aku ini begitu lemah. Aku juga tidak tahu apa yang harus aku tangisi. Aku merindukan sesuatu. Tapi aku  tidak tahu, sesuatu itu apa? Yang aku rindukan? Aku melihat, semua ini, kenyataan ini, penuh dengan tipu muslihat. Kesemuan yang memuakkan. Palsu. Dan juga aku merasa takut. Ketakutan yang sulit untuk dijelaskan. Otak ku, pikiranku, hatiku, semuanya seperti terpecah. Bahkan saat ini pun, aku menulis ini, aku merasa tidak nyaman, padahal hati ini seakan-akan menjerit. Tapi itu semua tidak bisa diterjemahkan oleh otak ku ini. Pikiranku kacau. Apa ini? Mengapa begitu sulit untuk mengungkapkannya? Aku, seperti kehilangan jati diri. Aku merindukan saat-saat dimana aku bisa menuliskan apa saja. Jujur dan apa adanya. Perasaan-perasaan itu, murni.  Kenapa? Ada apa dengan aku? Bahkan di saat malam tahun baru, aku tidak menulis satu kalimat pun, satu kata pun. Tidak ada ulasan apalagi harapan. Apa karena selama itu tidak ada satu pun yang berarti bagi ku? Tidak ada yang berarti? Lalu hati ini, untuk apa? Apa hati ini telah mati? Aku membutuhkan kemurnian itu.


Malam ini begitu sunyi. Dan terasa begitu ambigu. Dunia kecil dalam ruang. Dan aku masih tetap berada di dalamnya. Teardrops, selamat mengalun!