Hahhh....!!
engga kerasa liburan gue yang dua minggu tinggal menghitung hari.
Selama itu gue full stay at home!!! Tapi engga masalah sih, gue tetep senang. Gue benar-beanr anak rumahan sejati.
Seperti yang pernah gue bilang, so selama liburan gue capcus writing. Gue lagi proyek bikin novel. Hualah! gaya ajah. Haha... Sejauh ini gue baru nulis empat bab. Itu juga gue hasilin dengan susah payah. Masih dengan masalah yang sama yaitu abank-abank gue yang jahil minta ampun! Gue sampe harus ngumpet-ngumpet buat nulis di buku tulis. Kalau abank gue dateng, gue langsung tutup buku. Terus kalau gue tidur, bukunya gue taruh di bawah bantal. Yang lebih parah kalau ceritanya mau gue ketik. Abank-abank gue udah berdiri aja di belakang nontonin gue yang duduk di depan computer kaya nunggu antrian. Aghh..!! mengganggu privasi.
Oh iya, sekarang saat ini juga gue posting, gue lagi sendirian di rumah, jadi bisa bebas. Horeee!!
Gara-gara sering baca novel, gue jadi kepingin nulis novel. Proyek penulisan novel gue masih dengan cerita yang udah gue posting dengan judul "My Teddy Bear In Roma". Tapi mungkin ada yang sedikit dirubah. Mm.. judulnya juga kayaknya bakalan gue rubah deh. Judul yang gue rasa tepat sekarang yaitu "Whatever Will be Will Be"
Gue mau kasih bocoran deh tentang ceritanya. Mungkin dari judulnya aja udah bisa ketebak kali. Binggo! Novel gue bercerita tentang gadis Indonesia bernama Sisildira yang pergi ke Italia tapi entah apa tujuannya. Dia tidak mengikuti kata hatinya. So, dia pergi ke Italia untuk menjadi orang lain yang tentunya sangat Ia sayangi. Dia mengabaikan impian-impian awalnya demi mewujudkan mimpi orang itu. Akhirnya ia bertemu dengan Rakheil pria Italia yang mampu mengisi hari-harinya. Rakheil juga membuat jantung Sisil berdebar dua kali lebih cepat ketika berada di dekatnya. Dan tanpa sadar Rakheil kini menjadi impiannya. Namun sayangnya, Sisil masih merasa ragu. Ia tetap bertahan meski hatinya sudah menejerit. Hingga akhirnya kejadian masa lalu itu terbongkar dan justru menyakiti orang yang kini ada di dekatnya hingga ia harus rela bahwa orang itu tidak akan lagi memanggil namanya. Dan setelah itu semua terjadi, Sisil tersadar sepertinya ia telah terlambat mengambil pilihan.
Hohoho.... gimana? Setelah kepala gue jungkir balik, akhirnya gue menemukan alur cerita di atas. Bodo amat ahh, yang penting jdi dulu. Yaa semoga cepat terselesaikan meski hari-hari di depan bakal penuh dengan hiruk pikuk suasana kelas baru.. Jengjeng!! Doa in aja cepet kelar deh.!!
Satu lagi yang sepertinya msih mengganjal. Yup! judul posting ini. Setelah dibaca-baca.... kok engga nyambung yaaa??!!
Haha.. iya sih engga nyambung. Jujur, selama gue proses menulis, akhirnya gue dapat mengerti apa itu hidup. Awalnya gue mau jadiin bahan buat novel gue, tapi malah gue sendiri yang terhipnotis dengan pikirang gue yang tiba-tiba aja mengatakan "Life Is Like a Piano".
Ya memang benar. Hidup itu bagaikan piano. Mungkin ada yang masih bingung dengan definisi gue tentang hidup. Tapi kalau kita cermati dalam-dalam, definisi gue itu emang benar. Sayang banget gue engga bisa menjelaskannya lebih dalam di blog ini karena masih menjadi privasi gue sendiri :))
Tidak ada komentar:
Posting Komentar