.

.

.

.

.

.

.

.

Kamis, 12 Agustus 2010

Harmonica

Dia berdiri tepat di tengah deburan ombak, menyaksikan langit yang mulai membentuk lengkung jingga. Seorang lagi, pria tampak dari kejauhan berlari-lari kecil menghampiri sang gadis yang kini mulai mengangkat kedua tangannya hendak memainkan sebuah harmonica.

Melodi mengalun indah. Beradu dengan ombak yang pecah. Angin yang menyapu helaian rambut hitam itu, ikut membawa untaian demi untaian nada. Tepat membawanya pada seorang pria yang kini hanya berjarak 6 meter dari sang gadis. Langkah kaki yang tadinya berlari, perlahan menjadi langkah capat. Kemudian melambat, melambat, dan melambat, hingga akhirnya berhenti pada jarak yang hanya tersisa satu langkah.

Pria itu menatap sang gadis dari sudut pandang yang memang sempurna. Ia dapat melihat raut wajah yang ikut menjingga, kini memejamkan mata. Seakan gadis yang berada di hadapannya itu sedang terlelap. Namun tentu saja tidak, Sang gadis terus memainkan harmonicanya. Begitu menghayati atau bahkan ia ingin ikut terhempas angin bersama tiap-tiap alunannya.

Waktu jeda. Selama beberapa menit, tidak ada yang bicara. Pria it mengalihkan pandangannya pada panorama yang sudah sangat biasa. Namun entah mengapa kini terasa begitu luar biasa. Ada sesuatu yang terasa familiar.

Suasana dingin. Keduanya tampak menjadi siluet dari kejauhan. Pria itu menaruh kedua tangannya diatas pagar pembatas yang terbuat dari kayu. Meski sang gadis terlihat masih terhanyut dalam dunia hitam-putihnya sendiri, tapi ia yakin gadis itu menyadari keberadaannya.

Sampai pada akhirnya gadis itu berhenti memainkan harmonica. Dan dugaannya itu memang tepat. Tanpa menoleh, gadis itu berkata,

"Dia sangat menyukai ini," digenggamnya erat harmonica itu dengan kedua tangan.


***

"Dia sangat menyukai ini"

Gadis itu menyadari, kini pria yang berdiri disampingnya sedang menatapnya lekat. Tanpa menghiraukan ia pun lanjut berkata,

"Apakah aku tidak mengetahui apa-apa yang kau ketahui?"

Pria itu hanya tersenyum hambar. Tepat ia dapat melihat senyum itu. Entah pria itu ingin menjawab pertanyaannya atau tidak, yang jelas kini ia merasa bodoh telah bertanya seperti itu.

"Sudah, lupakan saja," sahutnya cepat.

Masih dengan posisinya, pria itu akhirnya angkat bicara,


"Tidak"

Pria itu menjawab pendek. Hanya dengan satu kata. Tentu saja gadis itu tidak puas dengan jawaban yang hanya satu tarikan nafas.

"Tidak? Hanya seperti itukah? Sederhana sekali," gadis itu menunduk menatap harmonica yang digenggamnya. Pandangannya seperti menerawang. Ia meraba dan memperhatikan setiap ditailnya.

"Harmonica ini, sudah lebih dari sepuluh tahun," Ia mengangkat kepala dan membiarkan sinar jingga kembali mendarat di wajahnya.

"Malam itu, aku tidak bisa tidur. Sedangkan orang tuaku, sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Aku memutuskan untuk pergi ke halaman depan. Entah untuk berdiam diri, memberi makan ikan atau sekedar melihat bintang. Tepat ketika itulah, seorang anak laki-laki, berbaring di atas rumput. Aku sempat panik karena mengira dia pingsan atau sakit. Tapi ternyata begitu aku mendekat, dia langsung bangkit. Dia bangkit dan mengajakku ke teras depan rumah. Aku berkata padanya aku tidak bisa tidur. Dan ternyata dia juga berkata padaku bahwa dia juga tidak bisa tidur. Kami berdua pun tertawa dan saling bercerita. Entahlah. Saat itu, aku merasa begitu nyaman. Aku benar-benar merasa ketenangan. Andai saja setiap hari begini, pikirku pada waktu itu. Setelah saling bercerita, dia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Harmonica ini. Tentu pada waktu itu aku tidak tahu benda ini adalah harmonica. Dia memegang harmonica ini dengan kedua tangannya, dan mulai memainkan sebuah lagu. Lagu yang sampai sekarang, aku sudah dewasa, masih terngiang-ngiang di kepalaku. Dia begitu mahir. Sampai pada akhirnya, aku pun terlelap."

Ia diam sejenak mengambil nafas. Sedangkan pria itu, tidak ada tanda-tanda darinya untuk membuka mulut dan ikut bicara. Membisu, dengan setia mendengarkan perkataan sang gadis. Apakah benar begitu? Entahlah... dia jelas terlihat diam, meski... mungkin hati dan pikirannya berkata. Menerawang kembali memorinya.

Gadis itu kembali menarik nafas. Ia merenggangkan genggamannya. Harmonica itu terbuat dari logam dengan perpaduan warna perak dan merah hati. Pada sisi pinggirnya terdapat ukiran-ukiran not balok dan bunga ume yang semakin memperindah tampilannya. Di salah satu ujungnya juga terdapat sebuah lingkaran yang menghubungkan pada rantai panjang yang terbuat dari emas putih. Dan pada rantai itu, terdapat sebuah bandul liontin berbentuk butiran salju dengan warna senada.

Ditatapnya harmonica itu lekat. "Aku masih sangat ingat," lanjutnya dengan raut wajah berbinar. Diam sejenak, dan akhirnya kembali membuka mulut, lirih,


"When I was just a little girl, I asked my mother, "What will I be? Will I be pretty? Will I be rich?" Here's what she said to me. "Que sera, sera. Whatever will be, will be. The future's not ours to see. Que sera, sera. What will be, will be"

Gadis itu tersenyum pucat, "Benarkan?" Ia menoleh pada pria yang kini raut wajahnya juga berubah menjadi jingga.

"Apa yang kau cari?"

***

"Apa yang kau cari?" tanya pria itu. Dingin. Di pandangnya gadis itu yang hanya memakai piyama dan syal merah, tampak menikmati angin yang kini menutup sebagian wajahnya dengan helaian rambut.

Gadis itu masih tersenyum. I mengangkat kedua tangan dan mengalungkan harmonica itu di lehernya. "Aku seperti bermimpi. Atau bahkan, aku memang benar bermimpi. Mimpi yang tidak lagi ku ingat. Dan ketika aku terbangun, hanya harmonica ini yang tersisa, menggantung di leherku,"

"Kau hanya tidak memperhatikan apa-apa yang seharusnya sudah menjadi bagian dalam dirimu" ucap pria itu lalu terhembus angin.


"Entahlah... aku mencari sesuatu yang tidak aku ketahui. Maukah kau membantuku?"

"Buka matamu. Kau hanya perlu benar-benar melihatnya, apa yang kau temui selama ini"

"Ah.. ya, kau benar. Mungkin selama ini aku menutup mataku. Hanya melihat bayangan hiatm-putih pada sisiku sendiri"

"Kau belum melihat warna yang sesungguhnya. Kau hanya belum"

"Aku kira aku telah mengetahiu semuanya. Aku lebih tahu daripada dia. Tapi ternyata aku salah. Dialah yang jauh mengetahuiku, dan justru dia juga yang bersembunyi di belakangku"


Pria itu ragu sejenak. Entah, sepertinya ia ikut terseret arus. Tanpa ia sadari, dan tidak pernah terlintas di benaknya. Perkataan gadis itu, membuatnya kalah telak.

"Sosok yang baik"

"Bahkan aku tidak pernah tahu alasannya menyukai petang dan morning glory,"
gadis itu menengadah menatap langit yang mulai gelap. "Tapi aku berusaha untuk tidak menyesal"

Udara mulai terasa dingin, meski suasana dingin telah merebah sejak awal. Pria itu memasukan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana jeans yang dikenakannya,"Ya, kau tidak perlu menyesal"

Ada sesuatu yang sangat dirindukannya. Sama seperti saatnya yang mana ia berjalan di tengah salju. Kemudian beberapa ekor angsa gunung menghalangi langkahnya pada jalanan setapak yang mulai terselimuti salju. Hanya pikirannya saja. Pria itu mengangkat sebelah tangan dan membenarkan posisi kacamatanya,"Esok, benar aku akan meninggalkan tempat ini"

"Lagi"


Suaranya parau. Gadis itu kini mengubah posisinya. Ia berdiri menghadap pria itu. Meski tidak berdaya menatap wajahnya yang memutih bertatahkan sepasang bola mata biru gelap, gadis itu berusaha untuk tetap tegap dan melangkah mendekat. Ia melepaskan syal merahnya lalu berjinjit dan melilitkannya pada leher pria itu dengan gerakan lemah,

"Kau kedinginan,"ucapnya hampir berbisik.


Pria itu tidak bergerak, meski ia tahu gadis yang ada di hadapannya ini jauh lebih merasa kedinginan. Mata gadis itu yang bersinar, seakan-akan ia senang melakukannya.

Gadis itu membalikan badannya dan mulai menjauh. Satu langkah. Dua langkah. Pria itu tetap berdiri di tempat. Sulit sekali beginya untuk membuka mulut meski hanya mengeluarkan satu patah kata. Tiga langkah. Empat langkah. Lima langkah. Enam langkah...


"Ve!!"

Gadis itu berhenti. Ia membalikan badan dan kembali mengenggam harmonicanya,

"Harmonica ini... aku akan menyimpannya baik-baik. Harusnya aku tahu lebih awal. Lagu yang indah Jo, terimakasih,"
gadis itu tersenyum samar dengan seluruh sisa tenaganya. Ia pun kembali melangkah.

"London Eye!! Aku akan menunggumu di London Eye!" Pria itu setengah berteriak.

Sang gadis menoleh. raut wajahnya mulai gelap,

"Ya! London Eye. Jangan kecewakan aku lagi Jo"

"Percayalah padaku"


Gadis itu terus melangkah. Dan keduanya hilang di tengah hamparan bintang. Menanti dan menggiring mereka pada London Eye. Hanya waktu.

London Eye




Drizzlesweet :))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar