Aku sepertinya sering banget ngepost tentang "Pena dan Pensil". Itu suatu ungkapan aku pada seseorang.
Pena adalah orang pertama yang bisa mengisi hatiku. Sory sebelumnya karena aku ga bisa nyebut nama, so kita panggil ja "dia". Dia, aku bertemu dengan dia kira-kira 4 tahun yang lalu. Udah cukup lama memang. Tapi itu belum cukup lama untuk menghapus smua cerita dia dari diaryku atau bahkan hatiku.
Aku suka dia. Aku sering bareng sama dia. Sampai sekarang juga mungkin aku masih bersama dia. Tapi kebersamaan itu engga berarti apa-apa bagiku. Dia yang udah membuat aku termotivasi. Namun sama sekali engga merubah keadaan. Engga bisa dipungkiri memang, Pena tuh berbeda dengan Pensil. Sampai saat ini aku merasa engga bisa ngimbangin dia dengan motivasiku lagi. Aku pun jatuh.
Meskipun Pena dan pensil sering bersama, tapi Pena dan pensil engga bisa saling bantu. Pena dan Pensil engga saling membutuhkan. Pena dan Pensil saling mengganti, bukan saling melengkapi. Pena dan pensil masing-masing membutuhkan sosok lain.
Begitu juga dengan aku dan dia. Di saat aku rapuh, dia engga bisa berbuat apa-apa untk aku. Aku juga engga bisa berbuat apa-apa untuk dia. Aku lebih membutuhkan orang tua atau teman-teman aku untuk berkeluh kesah, untuk berbagi kerapuhan, untuk memberiku semangat dan dukungan. Mungkin Dia juga begitu. Dia engga butuh aku.
Kini dia sudah terlampau jauh, sepertinya aku udah engga sanggup lagi. Aku dan dia mempunyai tujuan dan cita-cita yang sama. Tujuan itu awal dari kisahku, dan sekarang aku udah engga sanggup mengejar lagi. Sedangkan dia terus berlari meraih. Hatiku berat untuk melepas, tapi memang kemampuan yang aku miliki engga sepadan dengan apa yang aku inginkan. Ya! mungkin itu bukan keberuntunganku.
Aku berharap semoga dia berhasil meraih semuanya, meraih tujuannya, mimpinya dan mimpiku.
Dan setelah itu, aku ingin dia kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar