.

.

.

.

.

.

.

.

Minggu, 02 Mei 2010

My Teddy Bear in Roma

Prolog

Torino Italy

Langkah kaki kecil menerbangkan segerombolan burung gereja. Tak peduli, rerumputanpun ikut bergoyang. Dikejauhan, nampak seorang gadis kecil yang berlari entah kemana. Gadis kecil itu, raut wajahnya mengisyaratkan kekecewaan. Seperti hendak melarikan diri. Kepalanya penuh dengan hal-hal yang seharusnya tidak ada. Sambil berlaripun, ia seakan-akan memasuki alam pikirannya. Tak peduli apapun yang ada di sekelilingnya. Tiba-tiba saja ,

DUK!

Gadis kecil itu terjatuh. Wajahnya tepat menyantuh tanah. Ia berusaha bangkit sebelum akhirnya ia meringis. Ternyata kakinya terluka. Raut wajah kekecewaan berubah menjadi kesakitan. Gadis kecil itu tidak dapat menahan lagi. Air mata yang sejak awal meluap, kini bergulir perlahan dari matanya.

“Hiks..Hiks..” Gadis kecil itu menangis. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Tertahan di tengah hamparan rumput yang sedari tadi bergoyang.

“Stupidi, setiap kali aku bertemu denganmu, kau selalu menangis.” Gadis itu sempat tersentak. Namun tangisnya tak berhenti. Gadis kecil itu tidak menghiraukan seorang anak laki-laki yang kini menghampirinya.

“Hei, sudah! jangan menangis. Lihat kakimu terluka. aspetta un attimo.” Anak laki-laki itu mengeluarkan sebuah saputangan biru muda dari dalam saku jaketnya. Ia membersihkan dan menutup luka gadis kecil itu dengan saputanagnnya.

Si gadis kecil hanya bisa terdiam. Ia menatap anak laki-laki yang ada di hadapannya. Sesaat ia tak lagi menangis.
“Nah, begini lebih baik. Ayo kita pulang. Naiklah kepunggungku. Kau pasti tidak bisa berjalan.”

Gadis kecil itu merasa ragu, namun ia tidak punya pilihan. Akhirnya ia menurut. Anak laki-laki itu pulang dengan menggendong dirinya. Kini gadis kecil itu merasa hangat. Seakan-akan rasa sakitnya telah hilang. Iapun tersenyum.

“Grazie. Kau telah menolongku. Mi chiamo Sisil.” Anak laki-laki itu tidak membalas. Seakan-akan menganggap perkataan Sisil angin lalu. “Come si chiama? Kau yang waktu itu mengejekku bukan?”

Anak laki-laki itu tidak menyangka Sisil langsung bertanya seperti itu. “Ah, benar. Kau masih ingat rupanya. Mi chiamo Fah….”, anak laki-laki itu menahan perkataannya. Ia berpikir sejenak.

“perché? Come si chiama?” Sisil mengulang pertanyaannya
“Oh yeah, non importa. Panggil saja aku Delva. Ya, Delva.”
“Mm.. Baiklah. Del-va. Piacere a conoscerti”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar