.

.

.

.

.

.

.

.

Senin, 02 Agustus 2010

Orange Sky

“Sayang, ada apa? Ah.. ya ya tunggu sebentar!.. Hallo, sayang mama sedang sibuk. Sebentar lagi acara fashion show dimulai. Maaf ya sayang nanti mama akan menelponmu dagh! Love you!”

Tuuuuuut……

Sera mendengus kesal. Ia belum sempat mengucapkan satu patah kata pun, tapi wanita di seberang sana sudah memutuskan hubungan telepon. Mamanya selalu berkata seperti itu. Namun hingga malam tiba atau bahkan keesokan harinya ia terbangun, tetap tidak ada panggilan masuk di ponselnya.

Sera kembali memandang layar ponsel dan menekan beberapa digit angka.
“Halo pah---”
Suara Sera terhenti. Hanya terdengar nada sibuk. Sera menatap ponselnya tidak percaya. Padahal ia sudah kembali tinggal di Indonesia, tapi mengapa kedua orang tuanya belum juga bisa meluangkan waktu untuknya. Entahlah seharusnya Sera sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini.

Tidak ingin berlarut-larut, akhirnya Sera kembali melangkahkan kaki menuju komplek perumahan tempat ia tinggal seorang diri di Jakarta. Aneh memang, dulu saat ia masih kanak-kanak, rumah itu terlihat begitu damai, penuh kasih sayang dan canda tawa bahagia. 10 tahun sudah Sera meninggalkan rumah itu dan tinggal di Italia bersama kakek dan neneknya. Sekarang begitu ia kembali, ia sungguh tidak bisa percaya dengan bangunan yang sudah ia anggap seperti istananya sendiri. Ia sangat merindukannya. Ia berharap dapat menemukan kembali masa-masa indahnya dulu. Namun kini istana itu hanya sunyi dan sepi. Hanya ruang kosong. Setahun yang lalu ia kembali. Dan setahun yang lalu juga lah kedua orang tuanya meninggalkan rumah itu dan tinggal di Bali. Sera tetap bertahan meski ia merasa kepulangannya ini hanya sia-sia. Ia rela bertahan demi sesuatu yang sangat ia sayangi.

Langkah kakinya berhenti di sebuah taman yang tidak begitu ramai. Entah mengapa Sera menjadi tidak bersemangat untuk pulang. Ia memutuskan duduk di sebuah bangku panjang yang berada tepat di bawah pohon cemara. Sera menengokan kepala memperhatikan sekelilingnya sejenak. Hembusan angin bertiup cukup kencang terlebih lagi ia merasa sedang tidak enak badan. Sera membenarkan posisi topinya dan merapatkan syal bermotif garis-garis merah yang melilit di lehernya. Tiba-tiba terdengar bunyi nyaring. Ia merogoh tas selempangannya mencari sumber dari bunyi itu.

“Halo?”
“Kau sudah pulang?” Suara pria di seberang sana terdengar lembut.
“Sudah, tapi aku sedang tidak di rumah”
“Kau ada di mana?”
“Aku…. Di taman dekat kampus. Kau---“
“Tunggu aku di sana” Pria itu memutus hubungan telepon.

Sera memandangi ponselnya lalu menaruhnya kembali di dalam tas. Kenapa dia? Buru-buru sekali
Hari yang indah memang. Namun tidak seindah yang dibayangkan. Sera baru saja keluar dari ruangan yang kali ini justru membuat kepalanya berdenyut. Dan mungkin ia bisa sedikit bernafas lega karena tidak lagi berada di sana. Sambil menunggu, Sera pun memutuskan untuk membaca sebuah buku karya Naele Donald Walsch yang kemarin baru dibelinya.

“Nona Cavelly!”

Sera menoleh. Dilihatnya seorang pria yang sudah tidak asing lagi. Pria itu berderi di depan mobil spot berwarna hitam lalu melangkah mendekati Sera. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin. Kini wajah tampannya menyimpulkan seulas senyum melihat Sera yang sedang duduk di salah satu bangku taman.

“Ka Dava!” Sera bangkit dan melambaikan tangan memberi isyarat. “Sudah ku katakan, jangan panggil aku seperti itu!” meski suaranya terdengar ketus tapi ia tidak bisa menyembunyikan perasaan hatinya yang kini menjadi tenang..

Pria itu tersenyum riang mengelus kepala Sera hingga membuatnya menunduk
“Aah kaka hentikan!” Sera berusaha menurunkan tangan pria itu.
“Aku bebas memanggilmu apapun yang aku mau mengerti?” Pria itu duduk di bangku taman disusul Sera yang kini berada di sampingnya.
"Ka Dava ada apa mencariku?"
Pria itu menoleh, memandang Sera yang sibuk menaruh bukunya di dalam tas. Lalu pria itu mengangkat sebelah tangannya dan sontak Sera balas memandangnya. Pria itu menyentuh wajah Sera dengan lembut.

"Kau pucat"
Sera hanya terdiam dan tetap memandang pria itu.
"Sera, wajahmu pucat!"
"Oh" Sera mengalihkan pandangannya, "Iya, sepertinya aku tidak begitu enak badan, untung kaka cepat datang. Tapi aku tidak apa-apa"
Pria itu menurunkan tangannya.
"Mm, kaka, ada apa mencariku?" Sera kembali mengulang pertanyaannya.

Pria itu tidak langsung menjawab. Raut wajahnya seperti berpikir “Hmm ada apa ya? Mungkin aku hanya ingin melihatmu” terselip senyum jahil di wajahnya.
“Ah haha, benarkah?” Sera balas menatap pria itu heran dengan kening berkerut. Padahal tadi sepertinya ia sangat terburu-buru saat berbicara dengan Sera di telepon.
“Bagaimana kalau kaka mentraktirku? atau kita jalan-jalan saja?”
“Kenapa? Perasaanmu sedang tidak baik?” Pria itu menyandarkan punggungnya di bangku dan memandang langit.
“Entahlah” Suara Sera nyaris tidak terdengar. “Mm mungkin aku terlalu jenuh berada di rumah,” Ia menoleh dan menyadari kini pria itu sedang menatapnya. Tatapan yang begitu dalam hingga membuat Sera tidak sanggup untuk membalas.

“Kaka, jangan menatapku seperti itu,” Kini suaranya terdengar lirih.
"Padahal kau tadi bilang sedang tidak enak badan sekarang kau justru ingin jalan-jalan?"
“Kalau kaka tidak mau ya sudah” Sahut Sera cepat.

Pria itu mengalihkan pandangannya dan tersenyum puas melihat Sera yang kini menekuk wajah.
“Kau tahu? Langit jingga adalah yang paling indah”
“Apa?” Sera kembali menoleh. Ia tidak begitu menangkap perkataan yang tadi diucapkan pria itu. Namun pria itu hanya membalasnya dengan senyuman. Dan tiba-tiba saja telapak tangan Sera menjadi hangat.
“Ayo kita pergi!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar