.

.

.

.

.

.

.

.

Rabu, 27 Oktober 2010

Hey! Posting on My ponsel

Whehehe... Bisa juga. Setelah ketar-ketir gimana caranya oll dari HP, yup! sekarang aku udah bisa ! XD

Seneng..? engga juga sih. Biasa aja ahh. Tapi aku ngerasa PUAS!! banget! *weew..!

ok, dari pada aku bingung mau nulis apa. Engga jelas ngalor ngidul nulis apa. Mending aku nyanyi aja deh! xD *pura2 lupa suara jelek

1.. 2.. 3..
In my heart in my soul
In my mind in my day
I wannabe a supergirl
I wannabe like that !

Oh GOSh! hoho i wannabe a supergirl ! xD
xoxoxo

Wighting!


Ya.ya.ya..
Engga nulis, engga nyanyi, ko rasa-rasany gaje?? iya gaje banget deh.. o.o'

yaudah deh. segini ja postingny, dari pada keterusan gaje. padahal tadinya aku mau posting di blog fs. tapi ga bisa-bisa. akhirnya posting di sini.

haduuh.. iya, udah, udah. ngalor- ngidul lg, tangan aku sampe pegel nih. -.-'

Sabtu, 09 Oktober 2010

Teddy Bear

All of about the Teddy Bears. Cute and sweet !!!
Let me tell about someone.

A lonely boy. He was trapped but nothing one knows. He said...

"My grandpa gave the teddy Alfred to me when I really hold the responsibility that should not mine. He said to me, teddy Alfred would be my close friend. whatever I feel, teddy Alfred will always be there and listen to me"

Yeah.... He really love the teddy Alfred because he really love his grandpa. He is so cold. But I can see the other side of him. Purity, gentleness and honesty in his eyes.



A cold boy at the first time.



Together in a strange and annoying moment.




Bring us to care each other and make a sweet part




You are the loneliest boy I have ever meet in the world
And I love the Teddy Bear too......

Drizzlesweet :)

Kamis, 07 Oktober 2010

Hate!!

Kehidupan itu memang seperti bola, berputar. Menyenangkan juga menyedihkan. Begitu juga dengan perasaan gue. Di saat gue menyukai (love) something (someone), disaat itu juga gue hate something (someone).

Ok, so intinya sekarang gue lagi love and hate with two different guys. Dan gue bersyukur banget karena itu, not the same guy. :P

Dan sekarang gue lagi kepingin ngeluarin unek-unek gue yang hate someone. Yups! berpahit-pahit dahulu, bermanis-manis kemudian. Nghaha.....

Gue tulis dengan inisial Yth aja yah..

to Yth

Ya! Tidak seperti yang kau kira
Kau salah besar!
Aku muak dengan semua ilusi-ilusi ini!
Seperti rasanya ingin terjun dari tebing curam yang sangat tinggi
Ahh!
Sungguh menjijikan!
Duniaku, duniamu
Kau hanya melihat dari sisimu sendiri
Kau tidak mengenalku
Dan kau tidak pernah benar-benar melihat
Karena kau memang tidak ingin melihat
Tidak akan pernah!


Kau memang sangat-sangat luar biasa!!
Selamat atas tinta emasmu itu!!

One more....
I hate people know nothing about me, but talk about me!!

Semoga itu jadi kalimat terakhir dari gue untuk lo...

Kamis, 09 September 2010

Takbir Night

Can you hear? Now is Takbir Night. Every Muslim wait it. It is very special, because tomorrow is Idul Fitri Day.

Suasana malam takbir memang ramai. Termasuk suasana di tempat tinggal gue. Gema takbir terdengar dimana-mana. Belum lagi bunyi letupan-letupan petasan dan kembang api. Bisa dibayangkan suasana begitu meriah. Semua orang bersuka cita, kecuali gue.......

This night, I feel so lonely. Do you know? Now I'm alone. My mom is sleeping.,My dad is in the mosque and my brothers, they have their own affairs.

How about me? I Just sit in front of my comp in one of room in my home. Since two years ago, I spent the Takbir night with this. Lonely.....

I spent the night with my own.

Ehm, this is my hands art last year in Takbir night....


19 September 2009

Gema takbir berkumandang
di penghujung Ramadhan
Pilu kurasakan
meninggalkan segala kenikmatan
menuju kemenangan
Tuhan beri lagi aku kesempatan
di masa yang akan datang

Happy Idul Fitri Day 1430 H
Minalaizin walfaizin mohon maaf lahir batin

Anisa

Sama seperti tahun kemarin, tahun sekarang gue juga ngerasa sedih. Gue masih sangat ingat, 19 September 2009, malam itu gue benar-benar merasa takut. Hati gue engga tenang. Akhirnya gue masuk kamar. Gue berbaring di bawah selimut dengan suasana kamar gue yang redup karena hanya diterangi dengan lampu belajar gue. Disaat itulah gue semakin merasa meinding. Ya, gue takut meninggalkan bulan Ramadhan. Dan gue hanya bisa menulis.

Drizzlesweet :))

Senin, 06 September 2010

Look at This !!

Still remember? About............. ehm, Snowflake!?

Yup, udah hampir satu bulan dan..... itu benar-benar jadi saingan gue! *O_o"
Nghaha.... Enggak lah! Gila aja, masa gue saingan ama kucing???

Kucing malang yang sekarang malah jadi kucing manja, nglunjak, autis, anarkis, and dahsyat banget frontalnya!! itu, gue kasih nama Snowflake. Tapi berhubung tuh nama kepanjangan alias boros huruf and terlalu bagus, so yang tadinya gue manggil dia Cino (*dan ternyata masih kebagusan juga)

Sebenarnya dia punya banyak nama. Nih gue jelasin asal muasal nama Cino

Snowflake - senoflake - senoplek - cenoplek - cnoplek - Ceno - Cino

*Mimpi apa ya gue semalam, ngasih nama kucing aja ribet! Akhirnya gue putusin buat manggil dia dengan

EMPOSHH......! EMPOSHH......!

Lain gue, lain kakak gue. Kakak gue malah ngasih nama Cemenk.
Nah yang lebih ajaib, bapak and ibu gue. Mereka malah manggilnya "si Bungsu" & "Bocah Cilik"

Hadooh.. Hadooh.. >.<"

Tapi nih yaa, orang-orang rumah kayanya emang udah sayang ma si EMPOSHH, termasuk gue. Dan justru yang buat bapak & kakak-kakak gue suka ma si EMPOSSH, gara-gara emang si EMPOSHH itu kucing autis!! Autis banget!

Ehm, ni da beberapa gambar si EMPOSHH yang gue shoot sendiri :



Gue paling suka ma photo yang ini. Liat deh wajahnya si EMPOSHH, polos banget. Hihihi





Gaya bobonya si EMPOSHH, hahaha telentang!!






Hihihi... udah ah, segitu aja. si EMPOSHH kucing autis!!


"EMPOSHH.....! EMPOSHH.....! sini lo gue cincang! " :P


Drizzlesweet :))

Jumat, 03 September 2010

Bring Me to Fly

Ehmmm....
I miss..... yeah....


That would be a very, very wonderful ....!
Ok. let me tell. After passing a lot of vast ocean with strong winds, then dragging me and we see the sunrise together. Removing shoes and run, run, run! I wear your white coat. Make some videos and take our picture with your camera. Everything is white. And we are tired. I lay facing the sky. You just sit beside me with your camera and I know you take my picture secretly.
I ignore, then I say....

"You like the wind that breathed the fresh air"

And you just smile at me.




Look at the picture guys!? Yeah it's a poor dandelion.
But do you know? Dandelion is my favorite.
Because...... It can fly!

Fly, Fly, Fly.
Like a whisper.
Devil or Angle?

It's of to you!!



Drizzlesweet :))

Minggu, 22 Agustus 2010

Changes, Get Up, Go ahead and Shout!

Since three days ago, I felt so annoyed. Oh God! This feeling has often come in my self. And really, my heart is always trembling. What else?

At the night, as usual, I stayed in my bedroom, prepared my books. I had some homework. So I started to open my book, just tried to answer some questions. After that.... Argh! there were some that I could not answer. What this... But I was so curious. I turn on my computer, connected the internet and started browsing. Oh gosh! What viruses are attacking me!!?

I don't know

Quite late et night. My mother was still awake. When I tried to browsing, hm...... maybe there were some devil whispers. Fly, fly, fly and came in my ears. OK, I was tired. I didn't get the answer. So..... yeah, I'm just an ordinary student. I changed the web pages then going to playing games and blogging xD. Just to looked around.

Fuuuih......! I blew these whispers. Damn it! After that I watched TV with my mom until the middle of the night. Gosh! Maybe I didn't blow the whispers far away. Yeah, whatever, but I enjoyed it.

The opening a lengthy, rambling and waste the time.... LOL Yup, to the point ajah Gue punya cerita. Tentang.......... hmm, it just comes in my head. A strange story, yeah I hope no one understand it. Just me!! Let me tell some in Indonesian

Ist Chapter
There is a red nose, from Far Far Away Country. Aku tinggal di Negeri Sang Serikat Tikus-Tikus. Ah, mereka tinggal di saluran air, lorong-lorong bangunan di bukit. Dengan pemimpin mereka bernama Craz yaitu seekor anjing bodoh dan hina.

Sudah belasan tahun aku tinggal bersama keluarga tikus Daz. Suatu hari aku berjalan beriringan bersama Daz di sebuah jalan setapak kecil. Dua meter dari sana tampak aliran air yang saat ini sedang surut. Aku dapat melihat sebuah batu besar yang berdiri kokoh. Ah, padahal biasanya batu itu tidak terlihat. Musim panas kali ini memang dahsyat.

Baru saja aku mengembalikan pandanganku ke jalanan, tiba-tiba saja Daz mengerang. Aku tersentak, kemudian disusul dengan bunyi mengkerik. Ada sebuah dahan pohon yang menghalangi jalan. Daz yang berada lebih depan kini sedang menggerogoti dahan itu. Aneh pikirku, kenapa ia tidak langsung meloncatinya saja. Entahlah, ia terlihat begitu asik. Parutan-parutan kayu kini bertengger di moncongnya.

"Sudah lama aku tidak seperti ini," ucapnya lalu langsung kembali menggerogoti kayu. Aku hanya diam tidak tahu ingin melakukan apa. Hanya melihat saja atau ikut membantu? Ah tapi itu tidak mungkin.

"Pegang ini," Daz melepas dan menyerahkan kacamatanya padaku. Aku langsung meraih dan membersihkannya dari debu kayu. Setidaknya hanya itu yang bisa aku lakukan.

Tidak lama ia telah berhasil membentuk lorong pada dahan itu. Aku cukup takjub melihatnya. Ekornya bergerak-gerak membersihkan parutan kayu yang tersisa di punggungnya.

"Ini," aku mengulurkan tangan mengembalikan kacamatanya.
"Ya terimakasih," ia menyambut tanganku, memakai kacamatanya dan kembali berjalan.
Aku ikut berjalan di sampingnya. "Apa kau selalu memakai itu?" tanyaku.
Sesaat ia tampak heran, namun akhirnya ia sadar dan mengenduskan hidungnya. "Ini? ya begitulah. Setidaknya penglihatanku masih lebih baik dibanding si barbar Craz!"

Tepat sekali aku mendengar nada tinggi di akhir perkataannya. Aku samasekali tidak heran, karen sejak dulu aku tahu Daz sangat membenci Craz Sang Pemimpin.

Aku tidak berniat untuk menanggapi ucapannya. Hal mengenai negeri ini, para tikus, pemerintahan, pemberontak, sekutu dan Craz bukanlah urusanku.

Kami terus berjalan. Suasana sunyi sepi tidak dapat dielakan lagi. Aku bermaksud kembali memulai topik pembicaraan. Namun tiba-tiba saja suasana menjadi pecah. Suara itu berasal dari sisi sebelah kanan kami.

"Heeeeei!! Aku ingin menjadi si Hidung Merah!"

Kami berdua menoleh dan kami mendapati dua orang tikus. Tikus yang satu bertubuh besar dan yang satunya lagi, tikus yang tadi berteriak bertubuh lebih kecil. Tikus yang lebih besar itu mencoba menyeret tikus yang lebih kecil dari atas batu yang tidak kalah besar dari batu yang tadi aku lihat. Sekonyong-konyong ia menyeretnya namun tikus bertubuh kecil itu samasekali tidak bangkit.

"Enyah kau! Ayo ikut! Angkat kakimu!" Tikus bertubuh besar itu mulai memanas. Sedangkan tikus bertubuh kecil itu hanya diam menunduk. Sesekali hidungnya bergerak seperti balon.

"Kau tidak elaknya dari para mahluk manja itu! Kau seperti batu!!"

Aku sangat yakin dengan apa yang aku dengar. Sangat tidak harmonis. Tikus bertubuh besar itu lekas menghilang di tengah semak belukar. Sedangkan Daz, sedari tadi ia tidak membuka mulut. Seperti tidak peduli Daz kembali melangkahkan kaki. Aku menoleh, tikus bertubuh kecil itu masih berdiri di atas batu. Apa yang ada di pikirannya, ia terlihat seperti hendak melawan dunia.

"Ya benar! Aku adalah batu!! Batu yang keras!! Sangat keras bahkan melebihi intan!"

Daz menoleh dan melihatku yang masih berada di tempat.
"Lekaslah!"
Aku sontak tersadar dan langsung mengambil langkah mengikutinya. Aku sempat ragu dan mengkhawatirkan tikus bertubuh kecil itu. Namun........... Ah, sudahlah!

Setelah beberapa langkah, aku kemblai mendengarnya. Meski samar-samar karena jarak yang tidak sedekat tadi, tapi aku masih bisa mendengarnya. Triakan itu, dengan sangat jelas!

"Dengarlah aku! Aku ingin menjadi sang pembawa kedamaian dari sebrang!!"

Dan aku yakin, Daz juga mendengarnya.


***

Ya, itu cerita gue. Aneh. Semoga cuma gue yang ngerti
Drizzlesweet :))

Senin, 16 Agustus 2010

Snowflakes

Uum... satu lagi yang gue suka, sangat suka!

Sama seperti hujan, gue suka salju yang merupakan hasil dari siklus air. Tapi bedanya....? Udah pasti bedalah. Prosesnya yang lebih panajng dan rumit. Tapi andai saja kita tahu, sebenarnya salju itu indah. Indah banget.

Gue pengen banget benar-benar merasakan salju (bukan es). Salju itu unik. Tiap-tiap butirnya, bagaikan sidik jari pada manusia, berbeda satu sama lain. Coba bayangkan! Berjuta-juta butir putih itu turun, menyelimuti tiap-tiap atap rumah, ranting-ranting pohon, bebatuan. Namun sayangnya, jarang sekali diantara kita yang mengetahui keindahan itu.

Memang sayang ya... Setahu gue, saat air berubah menjadi es di dalam awan, terjadi reaksi (atau apalah) antar elektron-elektron, sehingga terjadilah gerakan. Es di dalam awan saling bergesekan sehingga membentuk segi enam dan segi delapan. Sama seperti hujan, ketika awan itu telah jenuh maka butir-butir salju pun jatuh. Dan setelah jatuh, kemudian tidak lama akan pecah. Bahkan sebelum sempat sampai ke tanah. Malangnya....


Kadang kita menutup mata dengan apa yang ada di hadapan kita. Kita tidak mengetahui bahwa ada sisi istimewa pada sesuatu yang berada di depan mata. Sebaliknya, kita justru membuka mata lebar-lebar demi melihat apa yang tidak terjangkau oleh kita, meski memang terlihat indah. Sangat indah bahkan. Namun kita tidak tahu bahwa sesuatu yang jauh itu sebenarnya adalah titik panas yang justru dapat membakar dan menghanguskan.

*********----*********----*********

Oh iya! satu lagi, tentang judul post ini "Snowflakes"
Sebelumnya, gue ingin ngebahas sedikit tentang.... Reinkarnasi *oke ga nyambung!

Yup! Reinkarnasi, ada orang yang percaya banget. Tapi ada juga orang yang bilang... ahh bulshit!
gue sendiri? fifty-fifty kali. *loooh?!

Reinkarnasi, sesuatu yang memang sulit gue terima. Gue masih berfikir dengan logika. Tapi sepertinya .. gue merasakan kejadian reinkarnasi itu. Ya benar!! Reinkarnasi!

Kucing gue dulu, sekarang kembali dengan reinkarnasinya... *Oh Gosh!!
Dulu gue punya kucing. Gue kasih nama Pussy. Engga lama, eh dia mati. Yaudah.... Lah sekarang, tepat benget hari ini. Gue pulang sekolah, capee banget! Eh engga tahunya di rumah gue ada kucing kecil. Lucu banget. Mirip kaya si Pussy. So, gue ambil asumsi bahwa, Si Pussy kembali! Dia berreinkarnasi! Hehe...

Ternyata itu kucing ibu gue yang nemuin, terus bilangnya mau dirawat ajah. Setelah gue sempet main, main, main, main dan main sama itu kucing, so gue ambil keputusan buat ngasih nama, "Snowflake"

Ok Snowflake! Wellcome!!
hoho....



Drizzlesweet :))

Kamis, 12 Agustus 2010

Harmonica

Dia berdiri tepat di tengah deburan ombak, menyaksikan langit yang mulai membentuk lengkung jingga. Seorang lagi, pria tampak dari kejauhan berlari-lari kecil menghampiri sang gadis yang kini mulai mengangkat kedua tangannya hendak memainkan sebuah harmonica.

Melodi mengalun indah. Beradu dengan ombak yang pecah. Angin yang menyapu helaian rambut hitam itu, ikut membawa untaian demi untaian nada. Tepat membawanya pada seorang pria yang kini hanya berjarak 6 meter dari sang gadis. Langkah kaki yang tadinya berlari, perlahan menjadi langkah capat. Kemudian melambat, melambat, dan melambat, hingga akhirnya berhenti pada jarak yang hanya tersisa satu langkah.

Pria itu menatap sang gadis dari sudut pandang yang memang sempurna. Ia dapat melihat raut wajah yang ikut menjingga, kini memejamkan mata. Seakan gadis yang berada di hadapannya itu sedang terlelap. Namun tentu saja tidak, Sang gadis terus memainkan harmonicanya. Begitu menghayati atau bahkan ia ingin ikut terhempas angin bersama tiap-tiap alunannya.

Waktu jeda. Selama beberapa menit, tidak ada yang bicara. Pria it mengalihkan pandangannya pada panorama yang sudah sangat biasa. Namun entah mengapa kini terasa begitu luar biasa. Ada sesuatu yang terasa familiar.

Suasana dingin. Keduanya tampak menjadi siluet dari kejauhan. Pria itu menaruh kedua tangannya diatas pagar pembatas yang terbuat dari kayu. Meski sang gadis terlihat masih terhanyut dalam dunia hitam-putihnya sendiri, tapi ia yakin gadis itu menyadari keberadaannya.

Sampai pada akhirnya gadis itu berhenti memainkan harmonica. Dan dugaannya itu memang tepat. Tanpa menoleh, gadis itu berkata,

"Dia sangat menyukai ini," digenggamnya erat harmonica itu dengan kedua tangan.


***

"Dia sangat menyukai ini"

Gadis itu menyadari, kini pria yang berdiri disampingnya sedang menatapnya lekat. Tanpa menghiraukan ia pun lanjut berkata,

"Apakah aku tidak mengetahui apa-apa yang kau ketahui?"

Pria itu hanya tersenyum hambar. Tepat ia dapat melihat senyum itu. Entah pria itu ingin menjawab pertanyaannya atau tidak, yang jelas kini ia merasa bodoh telah bertanya seperti itu.

"Sudah, lupakan saja," sahutnya cepat.

Masih dengan posisinya, pria itu akhirnya angkat bicara,


"Tidak"

Pria itu menjawab pendek. Hanya dengan satu kata. Tentu saja gadis itu tidak puas dengan jawaban yang hanya satu tarikan nafas.

"Tidak? Hanya seperti itukah? Sederhana sekali," gadis itu menunduk menatap harmonica yang digenggamnya. Pandangannya seperti menerawang. Ia meraba dan memperhatikan setiap ditailnya.

"Harmonica ini, sudah lebih dari sepuluh tahun," Ia mengangkat kepala dan membiarkan sinar jingga kembali mendarat di wajahnya.

"Malam itu, aku tidak bisa tidur. Sedangkan orang tuaku, sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Aku memutuskan untuk pergi ke halaman depan. Entah untuk berdiam diri, memberi makan ikan atau sekedar melihat bintang. Tepat ketika itulah, seorang anak laki-laki, berbaring di atas rumput. Aku sempat panik karena mengira dia pingsan atau sakit. Tapi ternyata begitu aku mendekat, dia langsung bangkit. Dia bangkit dan mengajakku ke teras depan rumah. Aku berkata padanya aku tidak bisa tidur. Dan ternyata dia juga berkata padaku bahwa dia juga tidak bisa tidur. Kami berdua pun tertawa dan saling bercerita. Entahlah. Saat itu, aku merasa begitu nyaman. Aku benar-benar merasa ketenangan. Andai saja setiap hari begini, pikirku pada waktu itu. Setelah saling bercerita, dia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Harmonica ini. Tentu pada waktu itu aku tidak tahu benda ini adalah harmonica. Dia memegang harmonica ini dengan kedua tangannya, dan mulai memainkan sebuah lagu. Lagu yang sampai sekarang, aku sudah dewasa, masih terngiang-ngiang di kepalaku. Dia begitu mahir. Sampai pada akhirnya, aku pun terlelap."

Ia diam sejenak mengambil nafas. Sedangkan pria itu, tidak ada tanda-tanda darinya untuk membuka mulut dan ikut bicara. Membisu, dengan setia mendengarkan perkataan sang gadis. Apakah benar begitu? Entahlah... dia jelas terlihat diam, meski... mungkin hati dan pikirannya berkata. Menerawang kembali memorinya.

Gadis itu kembali menarik nafas. Ia merenggangkan genggamannya. Harmonica itu terbuat dari logam dengan perpaduan warna perak dan merah hati. Pada sisi pinggirnya terdapat ukiran-ukiran not balok dan bunga ume yang semakin memperindah tampilannya. Di salah satu ujungnya juga terdapat sebuah lingkaran yang menghubungkan pada rantai panjang yang terbuat dari emas putih. Dan pada rantai itu, terdapat sebuah bandul liontin berbentuk butiran salju dengan warna senada.

Ditatapnya harmonica itu lekat. "Aku masih sangat ingat," lanjutnya dengan raut wajah berbinar. Diam sejenak, dan akhirnya kembali membuka mulut, lirih,


"When I was just a little girl, I asked my mother, "What will I be? Will I be pretty? Will I be rich?" Here's what she said to me. "Que sera, sera. Whatever will be, will be. The future's not ours to see. Que sera, sera. What will be, will be"

Gadis itu tersenyum pucat, "Benarkan?" Ia menoleh pada pria yang kini raut wajahnya juga berubah menjadi jingga.

"Apa yang kau cari?"

***

"Apa yang kau cari?" tanya pria itu. Dingin. Di pandangnya gadis itu yang hanya memakai piyama dan syal merah, tampak menikmati angin yang kini menutup sebagian wajahnya dengan helaian rambut.

Gadis itu masih tersenyum. I mengangkat kedua tangan dan mengalungkan harmonica itu di lehernya. "Aku seperti bermimpi. Atau bahkan, aku memang benar bermimpi. Mimpi yang tidak lagi ku ingat. Dan ketika aku terbangun, hanya harmonica ini yang tersisa, menggantung di leherku,"

"Kau hanya tidak memperhatikan apa-apa yang seharusnya sudah menjadi bagian dalam dirimu" ucap pria itu lalu terhembus angin.


"Entahlah... aku mencari sesuatu yang tidak aku ketahui. Maukah kau membantuku?"

"Buka matamu. Kau hanya perlu benar-benar melihatnya, apa yang kau temui selama ini"

"Ah.. ya, kau benar. Mungkin selama ini aku menutup mataku. Hanya melihat bayangan hiatm-putih pada sisiku sendiri"

"Kau belum melihat warna yang sesungguhnya. Kau hanya belum"

"Aku kira aku telah mengetahiu semuanya. Aku lebih tahu daripada dia. Tapi ternyata aku salah. Dialah yang jauh mengetahuiku, dan justru dia juga yang bersembunyi di belakangku"


Pria itu ragu sejenak. Entah, sepertinya ia ikut terseret arus. Tanpa ia sadari, dan tidak pernah terlintas di benaknya. Perkataan gadis itu, membuatnya kalah telak.

"Sosok yang baik"

"Bahkan aku tidak pernah tahu alasannya menyukai petang dan morning glory,"
gadis itu menengadah menatap langit yang mulai gelap. "Tapi aku berusaha untuk tidak menyesal"

Udara mulai terasa dingin, meski suasana dingin telah merebah sejak awal. Pria itu memasukan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana jeans yang dikenakannya,"Ya, kau tidak perlu menyesal"

Ada sesuatu yang sangat dirindukannya. Sama seperti saatnya yang mana ia berjalan di tengah salju. Kemudian beberapa ekor angsa gunung menghalangi langkahnya pada jalanan setapak yang mulai terselimuti salju. Hanya pikirannya saja. Pria itu mengangkat sebelah tangan dan membenarkan posisi kacamatanya,"Esok, benar aku akan meninggalkan tempat ini"

"Lagi"


Suaranya parau. Gadis itu kini mengubah posisinya. Ia berdiri menghadap pria itu. Meski tidak berdaya menatap wajahnya yang memutih bertatahkan sepasang bola mata biru gelap, gadis itu berusaha untuk tetap tegap dan melangkah mendekat. Ia melepaskan syal merahnya lalu berjinjit dan melilitkannya pada leher pria itu dengan gerakan lemah,

"Kau kedinginan,"ucapnya hampir berbisik.


Pria itu tidak bergerak, meski ia tahu gadis yang ada di hadapannya ini jauh lebih merasa kedinginan. Mata gadis itu yang bersinar, seakan-akan ia senang melakukannya.

Gadis itu membalikan badannya dan mulai menjauh. Satu langkah. Dua langkah. Pria itu tetap berdiri di tempat. Sulit sekali beginya untuk membuka mulut meski hanya mengeluarkan satu patah kata. Tiga langkah. Empat langkah. Lima langkah. Enam langkah...


"Ve!!"

Gadis itu berhenti. Ia membalikan badan dan kembali mengenggam harmonicanya,

"Harmonica ini... aku akan menyimpannya baik-baik. Harusnya aku tahu lebih awal. Lagu yang indah Jo, terimakasih,"
gadis itu tersenyum samar dengan seluruh sisa tenaganya. Ia pun kembali melangkah.

"London Eye!! Aku akan menunggumu di London Eye!" Pria itu setengah berteriak.

Sang gadis menoleh. raut wajahnya mulai gelap,

"Ya! London Eye. Jangan kecewakan aku lagi Jo"

"Percayalah padaku"


Gadis itu terus melangkah. Dan keduanya hilang di tengah hamparan bintang. Menanti dan menggiring mereka pada London Eye. Hanya waktu.

London Eye




Drizzlesweet :))

Senin, 09 Agustus 2010

Under The Rain

Drizzle, or whatever about rain. Can you see it? What a wonderful sky! Give some wet spots on to our face. Just feel it, and I love rain!

Rain gives me a beautiful song that can makes me calm. Rain is mysterious, yeah! and I can find it. It's so mysterious.



smile under the rain :))

drizzle sweet greetings!

Kamis, 05 Agustus 2010

Last Night

Wednesday, 4th August 2010
at 21:30 PM


Tepat! Malam ini gue hanya bisa berbincang dengan kesunyian yang mengisi setiap sudut ruang. Gue marah, kesal, bingung, menyesal, sedih dan bahagia?? ya setidaknya gue berbahagia karena gue masih bisa bernafas.

Something wrong!! Sejak awal, gue benar-benar merasa tidak biasa. Perasaan gue seperti berkata, berusaha mengungkapkan sesuatu. Keanehan. Pagi itu gue bertemu dengan seseorang. Orang yang udah sering gue lihat. Bahkan gue sudah mengenal kebiasaannya setiap pagi. Namun entah mengapa, gue justru merasakan sesuatu yang tidak pernah gue rasa sebelumnya. Pertemuan-pertemuan sebelum pagi itu. Layaknyai angin yang melihat hujan membasahi helaian-helaian daun.

Setelah gue tiba, seperti biasa gue berjalan seorang diri. Melewati ruang demi ruang yang tampak sepi. Entah apa yang membawa gue sejauh ini. Gue terus melangkah menelusuri bangunan berlantai dua itu. Dari bawah gue dapat melihat salah satu ruangan dengan pintu yang terbuka. Itu ruangan yang gue tuju. Langkah kaki gue tiba di barisan anak tangga yang berujung di samping ruangan itu. Gue mulai melangkahkan kaki, perlahan, menaiki satu demi satu anak tangga. Gue selalu merasakan sesuatu yang misterius setiap pagi gue melewati barisan anak tangga itu. Gelap dan sepi. Namun entah apa justru gue suka. Dan tepat ketika itu lah gue merasa ada seseorang ikut mengambil langkah. Gue menoleh ke belakang. Dan gue pun bertemu pandang dengan orang itu. Tak ada yang bicara, lalu kami berpisah di ujung barisan anak tangga itu. Untuk beberapa saat, gue merasa ada sesuatu yang kembali.

Sama seperti sebelumnya, gue merasa begitu ....... entahlah, sulit untuk diungkapkan. Bukan karena telah bertemu kedua orang tadi. Lebih jauh dari itu, perasaan gue itu bagaikan firasat. Sesuatu yang nampaknya tidak menyenangkan. Dan benar saja, perlahan tapi pasti akhirnya gue ditujukan pada suatu kenyataan pahit.

Malam ini, di tengah tekanan hiruk-pikuk dunia luar, gue harus benar-benar menyadari sesuatu. Kenyataan itu. Sungguh saat itu, gue bagaikan mati rasa. Tidak dapat merasakan apapun meski hanya bisikan angin. Gue bagai debu yang terhantam tetesan air. Gue benci, sesuatu yang kembali menyeret paksa, menampakan kaki di dinding langit, dan akhirnya terjatuh begitu saja.

"Sumpa! Gue engga ngerti dengan hidup gue. Bilangnya yang namanya kebetulan itu engga ada. Semua yang terjadi dalam hidup adalah pilihan yang kita ambil. Benarkah? Gue engga pernah memilih seperti ini, tapi mengapa justru ini yang terjadi? Sesuatu yang tidak gue harapkan dan inginkan, justru itu lah yang menjadi kenyataan"


Lalu apa yang gue lakukan?
Ya malam ini gue hanya merenung. Merenung bersama "Renungan". "Renungan" yang mengisahkan nada. Dan akhirnya membentuk goresan.

Ketika waktu mengantarkan cinta

Apakah


aku putuskan memilih dirimu?
Setitik rasa itu
Menetes dan semakin parah


Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang
memanggil rinduku padamu


Harusnya


kau seperti udara yang ku hela

Namun nyatanya kau tidak pernah ada
Dan semoga kau benar takan pernah ada


Dan ku mengerti sekarang
Ternyata kita


tidak


menyatu
Di dalam kasih yang suci
Aku


putuskan kau bukanlah cinta terakhir


Dalam "Renungan" pun gue menulis,

"Seseorang melangkah menelusuri jalanan berbatu
Indah
Aku tidak bisa mengatakannya indah
Harusnya hujan tidak turun
karena ini mempersulit langkahnya
Setidaknya hujan tidak membasahi
Jalanan berbatu yang sama
Yang dulu pernah dilaluinya

"Ia menyukai hujan
Hujan yang bersenandung
Memecah keheningan dengan sorakan dedaunan
Menetes, mengalir, menembus endapan debu
Hingga akhirnya melewati ruang langit
Dan kembali menjadi hujan

"Ia terbang bersama angin
Hendak lari dari takdirnya
Andai saja bisa
Lebih baik menjadi air langit
Yang pasti akan jatuh
Tanpa ada pilihan

"Dinamika kehidupan
Lagi-lagi ia terbentur untaian Ira Kusa
Keresahan yang menyelimuti salah satu untaiannya
Mereka saling berbisik bagai duri
Menciptakan batu penghujam
Dan tanpa sadar memuntahkan embun
Di teriknya mentari

"Ia berusaha mengalun bagai melodi
Menjadikan saat-saat layaknya musim gugur
Biarkanlah Ira Kusa itu tumbuh
Merebah dinding yang rapuh
Ia telah kembali melangkah dalam hujan
Dan aku?
Akan ikut bersamanya menembus waktu


drizzlesweet

Senin, 02 Agustus 2010

Orange Sky

“Sayang, ada apa? Ah.. ya ya tunggu sebentar!.. Hallo, sayang mama sedang sibuk. Sebentar lagi acara fashion show dimulai. Maaf ya sayang nanti mama akan menelponmu dagh! Love you!”

Tuuuuuut……

Sera mendengus kesal. Ia belum sempat mengucapkan satu patah kata pun, tapi wanita di seberang sana sudah memutuskan hubungan telepon. Mamanya selalu berkata seperti itu. Namun hingga malam tiba atau bahkan keesokan harinya ia terbangun, tetap tidak ada panggilan masuk di ponselnya.

Sera kembali memandang layar ponsel dan menekan beberapa digit angka.
“Halo pah---”
Suara Sera terhenti. Hanya terdengar nada sibuk. Sera menatap ponselnya tidak percaya. Padahal ia sudah kembali tinggal di Indonesia, tapi mengapa kedua orang tuanya belum juga bisa meluangkan waktu untuknya. Entahlah seharusnya Sera sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini.

Tidak ingin berlarut-larut, akhirnya Sera kembali melangkahkan kaki menuju komplek perumahan tempat ia tinggal seorang diri di Jakarta. Aneh memang, dulu saat ia masih kanak-kanak, rumah itu terlihat begitu damai, penuh kasih sayang dan canda tawa bahagia. 10 tahun sudah Sera meninggalkan rumah itu dan tinggal di Italia bersama kakek dan neneknya. Sekarang begitu ia kembali, ia sungguh tidak bisa percaya dengan bangunan yang sudah ia anggap seperti istananya sendiri. Ia sangat merindukannya. Ia berharap dapat menemukan kembali masa-masa indahnya dulu. Namun kini istana itu hanya sunyi dan sepi. Hanya ruang kosong. Setahun yang lalu ia kembali. Dan setahun yang lalu juga lah kedua orang tuanya meninggalkan rumah itu dan tinggal di Bali. Sera tetap bertahan meski ia merasa kepulangannya ini hanya sia-sia. Ia rela bertahan demi sesuatu yang sangat ia sayangi.

Langkah kakinya berhenti di sebuah taman yang tidak begitu ramai. Entah mengapa Sera menjadi tidak bersemangat untuk pulang. Ia memutuskan duduk di sebuah bangku panjang yang berada tepat di bawah pohon cemara. Sera menengokan kepala memperhatikan sekelilingnya sejenak. Hembusan angin bertiup cukup kencang terlebih lagi ia merasa sedang tidak enak badan. Sera membenarkan posisi topinya dan merapatkan syal bermotif garis-garis merah yang melilit di lehernya. Tiba-tiba terdengar bunyi nyaring. Ia merogoh tas selempangannya mencari sumber dari bunyi itu.

“Halo?”
“Kau sudah pulang?” Suara pria di seberang sana terdengar lembut.
“Sudah, tapi aku sedang tidak di rumah”
“Kau ada di mana?”
“Aku…. Di taman dekat kampus. Kau---“
“Tunggu aku di sana” Pria itu memutus hubungan telepon.

Sera memandangi ponselnya lalu menaruhnya kembali di dalam tas. Kenapa dia? Buru-buru sekali
Hari yang indah memang. Namun tidak seindah yang dibayangkan. Sera baru saja keluar dari ruangan yang kali ini justru membuat kepalanya berdenyut. Dan mungkin ia bisa sedikit bernafas lega karena tidak lagi berada di sana. Sambil menunggu, Sera pun memutuskan untuk membaca sebuah buku karya Naele Donald Walsch yang kemarin baru dibelinya.

“Nona Cavelly!”

Sera menoleh. Dilihatnya seorang pria yang sudah tidak asing lagi. Pria itu berderi di depan mobil spot berwarna hitam lalu melangkah mendekati Sera. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin. Kini wajah tampannya menyimpulkan seulas senyum melihat Sera yang sedang duduk di salah satu bangku taman.

“Ka Dava!” Sera bangkit dan melambaikan tangan memberi isyarat. “Sudah ku katakan, jangan panggil aku seperti itu!” meski suaranya terdengar ketus tapi ia tidak bisa menyembunyikan perasaan hatinya yang kini menjadi tenang..

Pria itu tersenyum riang mengelus kepala Sera hingga membuatnya menunduk
“Aah kaka hentikan!” Sera berusaha menurunkan tangan pria itu.
“Aku bebas memanggilmu apapun yang aku mau mengerti?” Pria itu duduk di bangku taman disusul Sera yang kini berada di sampingnya.
"Ka Dava ada apa mencariku?"
Pria itu menoleh, memandang Sera yang sibuk menaruh bukunya di dalam tas. Lalu pria itu mengangkat sebelah tangannya dan sontak Sera balas memandangnya. Pria itu menyentuh wajah Sera dengan lembut.

"Kau pucat"
Sera hanya terdiam dan tetap memandang pria itu.
"Sera, wajahmu pucat!"
"Oh" Sera mengalihkan pandangannya, "Iya, sepertinya aku tidak begitu enak badan, untung kaka cepat datang. Tapi aku tidak apa-apa"
Pria itu menurunkan tangannya.
"Mm, kaka, ada apa mencariku?" Sera kembali mengulang pertanyaannya.

Pria itu tidak langsung menjawab. Raut wajahnya seperti berpikir “Hmm ada apa ya? Mungkin aku hanya ingin melihatmu” terselip senyum jahil di wajahnya.
“Ah haha, benarkah?” Sera balas menatap pria itu heran dengan kening berkerut. Padahal tadi sepertinya ia sangat terburu-buru saat berbicara dengan Sera di telepon.
“Bagaimana kalau kaka mentraktirku? atau kita jalan-jalan saja?”
“Kenapa? Perasaanmu sedang tidak baik?” Pria itu menyandarkan punggungnya di bangku dan memandang langit.
“Entahlah” Suara Sera nyaris tidak terdengar. “Mm mungkin aku terlalu jenuh berada di rumah,” Ia menoleh dan menyadari kini pria itu sedang menatapnya. Tatapan yang begitu dalam hingga membuat Sera tidak sanggup untuk membalas.

“Kaka, jangan menatapku seperti itu,” Kini suaranya terdengar lirih.
"Padahal kau tadi bilang sedang tidak enak badan sekarang kau justru ingin jalan-jalan?"
“Kalau kaka tidak mau ya sudah” Sahut Sera cepat.

Pria itu mengalihkan pandangannya dan tersenyum puas melihat Sera yang kini menekuk wajah.
“Kau tahu? Langit jingga adalah yang paling indah”
“Apa?” Sera kembali menoleh. Ia tidak begitu menangkap perkataan yang tadi diucapkan pria itu. Namun pria itu hanya membalasnya dengan senyuman. Dan tiba-tiba saja telapak tangan Sera menjadi hangat.
“Ayo kita pergi!”

Selasa, 27 Juli 2010

Wet Spots

Air langit perlahan turun. Senandung angin saling berbisik menghias relung kalbu. Tampak biru dan kelabu. Sesuatu yang pecah dan menebarkan bau basah. Namun menghangatkan jiwa sang buah insan.

Entah apa yang sedang gue rasa sekarang ini. Gue sendiri benar-benar engga ngerti. Sepertinya gue sedang tidak kreatif. Gue hanya mengikuti semilir angin, guguran daun, deburan ombak dan rintikan hujan. Namun sayangnya setelah air langit itu jatuh ternyata dia mengalir ke tempat yang salah. Boleh jadi mungkin titik basah itu harusnya tidak mengalir, tapi meresap ke dalam tanah. Dan dapat menghidupi meski hanya setangkai kuncup dandelion.



This is one of my favorite song, can makes me fly.
"What a Wonderful World". :))

"Hidup itu indah!"
"Hidup itu indah?"
"Ya benar!"
"Ah, hhaha.. Kau benar. Lucu sekali"

I see trees of green, red roses too
I see them bloom for me and you
And I think to myself what a wonderful world.

I see skies of blue and clouds of white
The bright blessed day, the dark sacred night
And I think to myself what a wonderful world.

The colors of the rainbow so pretty in the sky
Are also on the faces of people going by
I see friends shaking hands saying how do you do
They're really saying I love you.

I hear babies crying, I watch them grow
They'll learn much more than I'll never know
And I think to myself what a wonderful world
Yes I think to myself what a wonderful world


What a wonderful world! :))

Minggu, 25 Juli 2010

Secret Of My Heart

"Donna kotoba ni kaete kimi ni tsutaerareru darou. Arekara ikutsumo no kisetsu ga. Toorisugita keredo itsumo soba de waratteru. Watashi nimo ienai koto ga mada hitotsu dake aru. Secret of my heart utagattemo nai ne. Itsu datte sukoshi no mirai ga areba. Shinjitsu wa te ni irerareru hazu. I can't say mou sukoshi dake. I'm waiting for a chance. Konna odayaka na toki motto tsunagatteitai. Subete o miseru no ga kowakute. Sukoshi hanarete aruku kimi no yokogao ga nazeka. Kowaresou de mamoritai motto chikazukitai yo. Secret of my heart wakattekureru yo ne. Dare datte nigetai toki mo aru kedo. Soredake ja nanimo hajimaranai. I can't say kitto kanarazu. I'm calling for a chance. Can I tell the truth? Sono kotoba iezu karamawari suru kuchibiru ni. Feel in my heart kakusenai kore ijou. 'Cause I love you. I will be with you. Wherever you are. Can you feel my heart? Can you feel my heart? Can't you see, you're my dream ushinaitakunai yo. Taisetsu na kimi to sugosu kono jikan. Akirameru kurai nara shinjite. I just wanna say mou mayowanai. Can't you see, you're my dream donna tsukurimono mo. Kantan ni kowareteshimau hi ga kuru. Dakedo mata itsumademo kawaranai. Secret of my heart Our future is forever."



if I were to change the words I say to you, do you suppose they would reach you? Since that time, many seasons have passed. But even though I always smiled at your side. There is still one thing I can't say.

Secret of my Heart, I have no doubt. If there will ever be a little bit of tomorrow. The truth ought to be placed in our hands. I can't say, just a little more. I'm waiting for a chance.

In this peaceful time, I want to connect a little more. I'm afraid to show you my soul. For a while, I walk apart from you, but why is it that your face. Looks about to break? I want to protect you, I want to be close to you.

Secret of my Heart, you understand, right? Everyone feels like they want to escape sometimes. But if that's all we do, then nothing can begin. I can't say, but surely, absolutely. I'm calling for a chance.

Can I tell the truth? These words I cannot speak hover around my lips. Feel in my Heart, I just can't hide any more than this, 'Cause I love you...

I will be with you
Wherever you are
Can you feel my heart?
Can you feel my heart?

Can't you see you're my Dream? I can't bear to lose. This precious time I have spent with you. When you feel ready to give up, just believe. I just wanna say, I'm not lost anymore. Can't you see you're my Dream? there will come a day. When all the lies will easily be broken apart and yet, things will never change. Secret of my Heart, Our future is forever...


:))

Rabu, 21 Juli 2010

The End Of an Old Story

Still remember about Pen and Pencil? Um, that's my story. No! exactly just my old story.

How's it going? Still continues or ,,, ?


asked my friend. Maybe She is the one who knows, and she makes me to write this.

OK guys! Now I want to tell, that there is not story about Pen and Pencil any more. That story had ended. THE END.

The end of Pen and Pencil. Have long time I want it. The story was too hurt for me. But before, I could not delete it, so difficult. I just could save, save, and save it on the paper. Pen was very meaningful for me. The first person that made me insomnia. The first person that made my days confused. The first person that made me look ridiculous and the first person that made me cry! Really I can not forget it.


The sentence which I said,

“Can you feel my heart?”


You are so kind. But however, I can not feel your kindness. Of course because the distance between us. The distance that can not be seen by you, me and the other people. I didn't know what did you feel or may be did you feel what I feel? Then create a wall between us? Both of us didn't give hope each other. But we know, ourselves want that hope.

And how about now? After I tried to continue to achieve, but still not successfully. I had stand alone, but you still didn't look back. And finally I decided to remove all because it was too hurt. Then suddenly you come back. Come back at the wrong moment.

Of course I want you to come back, but not this moment. I have written a lot of about you. And now, I just want to erase it. I can see you clearly, but my heart can't anymore.

Really I don't hate him. I just hate our story but not him . I hate "Pen and Pencil". I don't want it repeated. “Pen and Pencil” is my nightmare.

"Pencil and Eraser" this is my dream. Not "Pen and Pencil". I just want to change my story, our story. So I let you go. I'll set you free. And I hope someday there is a person that can be an eraser for me. And I will become an eraser too for him.


The last sentence from me,

"Thanks, nice have to know you! See yea!"


:))

Minggu, 18 Juli 2010

Decide to Post My Report Text

Confuse, confuse and confuse! Oh gosh! too much that I feel. I don't know how to share these, but I really want. Yeah my mood is not good, but I can not write everything. It's too long and too hurt. And of course because my busy time, a lot of task from school.

Because I don't know what will to write, so I decide to post my English task. Just to keep writing. Nghaha.. a silly girl x))

This is my Report Text "Seasons In Our Country"

Every place in the world has seasons. But kind and sum of the season are different in one place with the other place. For example, the countries that in cold climates, like Japan, Italy and USA have four seasons. They are spring, summer, autumn and winter. This is of course different with the countries in tropical climates. Indonesia is located in the equator, automatic is a tropical country that just has two seasons, rainy season and dry season.

in Indonesia, rainy season happen from Oct to march. It is because at that moment, West Munson Wind that blow from North Northwest contain a lot of steam water. So, Indonesia which passed by the wind, has a high rainfall

And dry season, happen from April to September. Because at that moment, East Munson Wind blow from South southeast, contain little of moisture. So in this season rarely rains. Even in some area, this condition causing drought and water crisis

And one more season that really influential in Indonesia, transition season or 'Pancaroba'. 'Pancaroba' is transition between two seasons. Rainy season and dry season usually occurs in April and May. Or between dry season and rainy season occurs in Oct and December. In this season, weather will often change. the high frequency of storms, very heavy rain accompanied by thunder, and wind blowing. beside that people must be careful because in this season many spread the disease.

D.F

Senin, 12 Juli 2010

More Practice With Bloging

Oh no!
Do you know? My English is not good enough. That is one of problems that I have. Especially for my study in school. Because my school is an international senior high school, so the student must have good speak in English. And how about me? Yeah I think I don't speak English smoothly. If my teacher ask to me in English, so I have to answer with English too, but I don't know why, my mouth was so difficult to open. Whereas I had got the answer in my head, but It is too difficult to said.

Now I'm going to the second grade in senior high school. Moreover I'm going to the science class. And all of the science lesson will use English. Yes or no, I have to raise my English speaking. I have a lot of friend that have good speaking in English. Sometime I feel jealous with them. But how? I don't take an English course. So my English is not better than my friends.

Did I give up? Yes, I have thought like that. But I really said thanks to my friend that gave me the spirit. She is also the same as me; have not well enough in speaking English. So we make a deal. We will use English for our conversation. At the first time, of course it is so funny. We just keep silent. Confused what will be discussed. And at the moment even we laugh each other.

Step by step, we start to make conversation. Whatever. We speak English each other. Although there were some mistakes, but we ignored it. Just for to be nerve to speak English. We talked about our teacher that we dislike, about the tasks, about our friends and about our favorite singer, Christian Bautista etc.

I know that English is an important language, but however I don't like it. May be I have got trauma with English. I'm sorry can not share it, but that moments really make me uncomfortable and depressed. So, I prefer Italiano.

I have got dream, one day I can go to Italy and learn the language there. That is my biggest dream! And I hope it isn't just a dream. I love Italy! Of course after Indonesia. lol xD. Oh gosh! Maybe I too nerve to dream.

It is my second posting which use English. Why? Whereas last, I say dislike with English. Yes Of course because my biggest dream! xD I realize, how I can learn Italian if my English is not good? How I can go to Italy if I can not speak English? Oh gosh!

Because that, I write this. Maybe I make a lot of mistakes. But what can I do? Because I’m an Indonesian that don't have English proficiency naturally. Because I don't take any English course. And because my friend doesn't with me again, so I just can more practice my English with writing. From this moment, I start to writing with English. Yeah good luck for me!! xD

Jumat, 09 Juli 2010

Life is Like a Piano

Hahhh....!!
engga kerasa liburan gue yang dua minggu tinggal menghitung hari.
Selama itu gue full stay at home!!! Tapi engga masalah sih, gue tetep senang. Gue benar-beanr anak rumahan sejati.

Seperti yang pernah gue bilang, so selama liburan gue capcus writing. Gue lagi proyek bikin novel. Hualah! gaya ajah. Haha... Sejauh ini gue baru nulis empat bab. Itu juga gue hasilin dengan susah payah. Masih dengan masalah yang sama yaitu abank-abank gue yang jahil minta ampun! Gue sampe harus ngumpet-ngumpet buat nulis di buku tulis. Kalau abank gue dateng, gue langsung tutup buku. Terus kalau gue tidur, bukunya gue taruh di bawah bantal. Yang lebih parah kalau ceritanya mau gue ketik. Abank-abank gue udah berdiri aja di belakang nontonin gue yang duduk di depan computer kaya nunggu antrian. Aghh..!! mengganggu privasi.

Oh iya, sekarang saat ini juga gue posting, gue lagi sendirian di rumah, jadi bisa bebas. Horeee!!

Gara-gara sering baca novel, gue jadi kepingin nulis novel. Proyek penulisan novel gue masih dengan cerita yang udah gue posting dengan judul "My Teddy Bear In Roma". Tapi mungkin ada yang sedikit dirubah. Mm.. judulnya juga kayaknya bakalan gue rubah deh. Judul yang gue rasa tepat sekarang yaitu "Whatever Will be Will Be"

Gue mau kasih bocoran deh tentang ceritanya. Mungkin dari judulnya aja udah bisa ketebak kali. Binggo! Novel gue bercerita tentang gadis Indonesia bernama Sisildira yang pergi ke Italia tapi entah apa tujuannya. Dia tidak mengikuti kata hatinya. So, dia pergi ke Italia untuk menjadi orang lain yang tentunya sangat Ia sayangi. Dia mengabaikan impian-impian awalnya demi mewujudkan mimpi orang itu. Akhirnya ia bertemu dengan Rakheil pria Italia yang mampu mengisi hari-harinya. Rakheil juga membuat jantung Sisil berdebar dua kali lebih cepat ketika berada di dekatnya. Dan tanpa sadar Rakheil kini menjadi impiannya. Namun sayangnya, Sisil masih merasa ragu. Ia tetap bertahan meski hatinya sudah menejerit. Hingga akhirnya kejadian masa lalu itu terbongkar dan justru menyakiti orang yang kini ada di dekatnya hingga ia harus rela bahwa orang itu tidak akan lagi memanggil namanya. Dan setelah itu semua terjadi, Sisil tersadar sepertinya ia telah terlambat mengambil pilihan.

Hohoho.... gimana? Setelah kepala gue jungkir balik, akhirnya gue menemukan alur cerita di atas. Bodo amat ahh, yang penting jdi dulu. Yaa semoga cepat terselesaikan meski hari-hari di depan bakal penuh dengan hiruk pikuk suasana kelas baru.. Jengjeng!! Doa in aja cepet kelar deh.!!

Satu lagi yang sepertinya msih mengganjal. Yup! judul posting ini. Setelah dibaca-baca.... kok engga nyambung yaaa??!!

Haha.. iya sih engga nyambung. Jujur, selama gue proses menulis, akhirnya gue dapat mengerti apa itu hidup. Awalnya gue mau jadiin bahan buat novel gue, tapi malah gue sendiri yang terhipnotis dengan pikirang gue yang tiba-tiba aja mengatakan "Life Is Like a Piano".
Ya memang benar. Hidup itu bagaikan piano. Mungkin ada yang masih bingung dengan definisi gue tentang hidup. Tapi kalau kita cermati dalam-dalam, definisi gue itu emang benar. Sayang banget gue engga bisa menjelaskannya lebih dalam di blog ini karena masih menjadi privasi gue sendiri :))

Sabtu, 26 Juni 2010

Just a Memory

Setelah gue kelimpungan setahun belakangn ini, akhirnya tiba juga lah TAKDIR! Apakah ini takdir?? Rasanya gue masih sulit untuk percaya. Sebelumnya gue juga merasa bimbang. Apa yang gue lakukan ini benar?? Satu hal yang gue rasa bodoh, pengalaman gue. Gue engga mau jatuh di lubang yang sama. Tapi, hal ini benar-benar sulit.

Belajar dari pengalaman gue sebelumnya, gue udah berusaha melakukan segala cara untuk mewujudkan harapan gue. Gue juga berdo'a, "God bantulah aku, beri aku kemudahan, wujudkanlah harapanku ini". Di saat seperti itu gue benar-benar merasa dekat. Ya mungkin, gue berhasil.

Dunia ini memang seperti roda, berputar. Dalam keadaan seperti inilah gue terhempas. Gue menyesali keberuntungan gue atau bahkan takdir!? Sesal!! Apa yang telah gue lakukan? Egois!! Gue memang orang yang egois! Gue malu pada diri gue sendiri.

Ya. Gue hanya manusia biasa, penuh dengan kesalahan. Dan tahukah? gue udah banyak melakukan kesalahan. Bahkan penyesalan gue, itu juga merupakan kesalahan yang gue lakukan. Memang bodoh.

Lupakan! Sudahlah, masa lalu tak mungkin kembali. Sia-sia. Hadapilah yang sekarang dan jangan menoleh kebelakang!

Setahun sudah, gue mulai merasakan lika-liku kehidupan. Dan tibalah saat dimana gue herus melakukan hal yang sama. Pikiran gue penuh dengan hal-hal konyol. Kebimbangan dan keresahan. God, tunjukanlah jalan yang terbaik. Gue engga mau menjadi sosok egois untuk yang kedua kalinya. Gue menarik nafas sebelum akhirnya hanya bisa berkata "Apapun yang terjadi, mungkin itu yang terbaik".

Yang terbaik. Gue berharap tidak akan timbul penyesalan lagi. Ya, karena ini yang terbaik. Yang terbaik ini mungkin takdir gue. Hidup gue. God, berikanlah aku kekuatan. jangan Engkau biarkan aku lelah. Gue harus siap dengan jalan yang akan gue laluin. Semoga benar gue tidak bersikap egois.

Satu lagi, gue melakukan kesalahan. Ternyara hidup gue engga benar-benar hanya sekedar lembaran kertas putih. Goresan hitam itu, memang benar adanya.

Kamis, 24 Juni 2010

Constellation

Suatu malam, langit bertaburkan permata bintang. Hening dan sunyi, Opa menyukainya. Beliau duduk di pekarangan rumah. Pijaran bohlam lampu memberikan pencahayaan membantu penglihatan Opa yang sedang membaca sebuah buku. Tercium aroma sedap secangkir kopi buatan Oma yang diletakkan di atas meja. Sesekali Opa menyesapnya. Aah… sungguh nikmat…..

“Opa! Opa!” Tiba-tiba terdengar langkah kaki kecil memecah keheningan. Opa tentu mengenali suara itu. Pandangannya pun beralih, Opa menaruh bukunya. Beliau mencoba menerawang kegelapan mencari sosok yang tadi memanggil.
“Dira?” Opa mendapati seorang gadis kecil berlari mendekat. “Dira kamu mau kemana? Hati-hati nanti kamu jatuh!” Opa bangkit dari duduknya.
Dira mendekap “Dira mau main sama Opa!”
“Dira mau main sama Opa? Sekarang sudah malam. Cucu Opa harus tidur.” Opa menggendong Dira dan memangkunya.
“Malam ini Dira tidur di rumah Opa ya?”
“Boleh, tapi Dira sudah bilang mamah?”
“Udah Opa. Mamah bilang boleh.”
“Ya sudah, sekarang ayo masuk. Cucu Opa tidur.” Opa menurunkan Dira dari pangkuannya dan menggandeng Dira masuk.
“Yah Opa. Masa langsung tidur? Dira kan belum ngantuk.” Dira menahan Opa. Terdengar nada kecewa.
“Dira, sekarang kan sudah malam, Tidak baik tidur larut malam.”
“Opa sendiri juga belum tidur. Opa curang!”
Opa menjelaskan, namun Dira tidak memperdulikan penjelasan Opa. Dira merasa kesal. Opa sangat menyayangi Dira, beliau tidak tega pada Dira. Opa akhirnya mengalah. Sekali tidak masalah pikirnya. “Ya sudah. bilang sama Oma bawakan selimut tebal. Opa tunggu disini.”
Mendengar perkataan Opa, raut wajah Dira tiba-tiba berubah cerah, “Asiiik!! Iya, Opa tunggu Dira ya.” Dira cepat berlari kedalam rumah menghampiri Oma. Dengan sekejap ia kembali sambil memeluk selimut tebal yang diberikan Oma.

Opa menggandeng tangan Dira. Langkahnya terhenti pada sebuah anak tangga. “Nah Dira, ayo naik. Hati-hati, sini selimutnya biar Opa yang pegang.”
Dira heran. Perlahan ia melangkahkan kaki kecilnya satu-persatu melewati anak tangga. Meskipun ia sering main ke rumah Opa, ini pertama kalinya Dira melewati anak tangga ini. Dira juga tidak tahu barisan anak tangga ini berujung dimana. “Opa, di atas anak tangga ini ada apa? ” Dira tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Opa tersenyum, “Dira akan tahu sendiri. Ini tempat kesukaan Opa waktu muda dulu. Dira juga pasti suka.”

Langkah kaki Dira terhenti di depan sebuah pintu. Ia tidak sabar ingin cepat-cepat mengetahui ada apa di balik pintu itu. Tangan Opa memegang knop pintu, perlahan-lahan membukanya. Kreeeeeek.! Pintu itu tidak kalah tuanya hingga menimbulkan bunyi yang tak sedap. Dira perlahan menengok. Apa yang ia lihat ternyata tidak sesuai dengan apa yang ia pikirkan.

***

Kreeeeeek!!

“Opa, ini tempat apa? Tidak ada apa-apa disini.” Dira mulai melangkahkan kakinya. Ia melihat sekeliling. Hanya terdapat sebuah bangunan kecil ya mungkin bisa disebut sebuah kamar karena terdapat tempat tidur dan sebuah meja kerja. Dira pun bertanya-tanya dalam hati ‘Ini tempat apa? Kenapa Opa menyukai tempat ini? Tidak ada yang menarik. Tempat ini kenapa? Sebuah ruangan di dalam ruangan? Ah bukan! Tepatnya apakah ini ruangan?’

Opa tersenyum melihat tingkah laku Dira. Beliau telah menduga cucunya akan merasa heran. Tapi tidak masalah, sebentar lagi Dira akan mengetahui apa yang Opa maksud. Opa mulai mengalihkan perhatiannya pada sebuah kotak besar yang ditaruh di bawah tempat tidur. Opa menarik dan membuka kotak itu. “Kalau tidak salah Opa menaruhnya di sini.”
Opa mengelurkan sebuah benda panjang yang ditutupi oleh kain putih. “Opa, itu benda apa?” Dira mendekat, penasaran dengan benda yang ada di tangan Opa..
Opa membuka kain putihnya perlahan. Raut wajahnya mencerminkan kerinduan. Tangan Opa meraba sebuah tulisan pada benda itu, 1956. “Yah, sudah lama sekali Opa tidak menyentuhnya.”

Dira ikut-ikutan menyentuh benda itu. “Waah… Benda apa ini Opa?”
Opa tidak langsung menjawab pertanyaan Dira. Beliau malah mengajak Dira keluar. “Nah Dira, sekarang kamu lihat ke langit malam ini.”
“Mm.. Indah Opa. Seperti kembang api.”
Opa memasang benda itu sedemikin rupa di atas sebuah kaki tiga yang sudah merupakan perlengkapan benda itu. Beliau juga mengatur ketinggian kaki tiga dengan tinggi Dira. Opa mendekatkan matanya pada lensa. “Dira coba lihat ini!”
“Apa? Opa lihat apa?” Dira mendekatkan matanya pada lensa. “Waaah… Cantiknya! Indah sekali Opa.” Dira terpesona.
“Benda ini adalah teleskop. Kalau Dira mau lihat bintang, Dira bisa menggunakan teleskop ini.”
“Teleskop yah… Benar-benar hebat.”
“Setiap bintang akan membentuk rasi bintang. Coba Dira lihat rasi bintang itu.” Opa menunjuk tangannya pada sebuah rasi bintang di langit utara.
“Ya. Dira lihat. Bentuknya seperti gayung, benarkan Opa?”
“Benar, cucu Opa pintar. Itu adalah rasi bintang Biduk.” Dira mengangguk-ngangguk.
“Opa lihat, rasi bintang itu berbentuk seperti huruf ‘w’.” Dira menoleh. Sepertinya ia mulai tertarik pada kegemaran Opa mengamati bintang.
“Huruf ‘w’ ya? Mm... Itu adalah rasi bintang Cassiopeia. Nah Dira lihat, bintang yang berjarak lima kali garis lurus dari kedua ujung huruf w dari bintang Cassiopeia yang ditarik mundur kemudian dihubungkan dengan bintang yang di bagian tengah.”
“Mm…. “ Dira berusaha mencerna perkataan Opa. Ia memutar otak dan kedua bola matanya mencari keberadaan bintang yang Opa maksud “Iya Opa, ketemu! Bintang itu, agak redup tapi sangat jelas.” Dira tersenyum cerah.
“Bintang itu adalah Polaris.”
“Polaris? Apa itu Opa?” Dira bertanya dengan wajah polos.
“Polaris adalah Bintang kutub utara. Di kutub utara Polaris digunakan sebagai penunjuk arah.” Opa menjelaskan.
“Begitu ya? Mm bagus…”