.

.

.

.

.

.

.

.

Minggu, 22 Agustus 2010

Changes, Get Up, Go ahead and Shout!

Since three days ago, I felt so annoyed. Oh God! This feeling has often come in my self. And really, my heart is always trembling. What else?

At the night, as usual, I stayed in my bedroom, prepared my books. I had some homework. So I started to open my book, just tried to answer some questions. After that.... Argh! there were some that I could not answer. What this... But I was so curious. I turn on my computer, connected the internet and started browsing. Oh gosh! What viruses are attacking me!!?

I don't know

Quite late et night. My mother was still awake. When I tried to browsing, hm...... maybe there were some devil whispers. Fly, fly, fly and came in my ears. OK, I was tired. I didn't get the answer. So..... yeah, I'm just an ordinary student. I changed the web pages then going to playing games and blogging xD. Just to looked around.

Fuuuih......! I blew these whispers. Damn it! After that I watched TV with my mom until the middle of the night. Gosh! Maybe I didn't blow the whispers far away. Yeah, whatever, but I enjoyed it.

The opening a lengthy, rambling and waste the time.... LOL Yup, to the point ajah Gue punya cerita. Tentang.......... hmm, it just comes in my head. A strange story, yeah I hope no one understand it. Just me!! Let me tell some in Indonesian

Ist Chapter
There is a red nose, from Far Far Away Country. Aku tinggal di Negeri Sang Serikat Tikus-Tikus. Ah, mereka tinggal di saluran air, lorong-lorong bangunan di bukit. Dengan pemimpin mereka bernama Craz yaitu seekor anjing bodoh dan hina.

Sudah belasan tahun aku tinggal bersama keluarga tikus Daz. Suatu hari aku berjalan beriringan bersama Daz di sebuah jalan setapak kecil. Dua meter dari sana tampak aliran air yang saat ini sedang surut. Aku dapat melihat sebuah batu besar yang berdiri kokoh. Ah, padahal biasanya batu itu tidak terlihat. Musim panas kali ini memang dahsyat.

Baru saja aku mengembalikan pandanganku ke jalanan, tiba-tiba saja Daz mengerang. Aku tersentak, kemudian disusul dengan bunyi mengkerik. Ada sebuah dahan pohon yang menghalangi jalan. Daz yang berada lebih depan kini sedang menggerogoti dahan itu. Aneh pikirku, kenapa ia tidak langsung meloncatinya saja. Entahlah, ia terlihat begitu asik. Parutan-parutan kayu kini bertengger di moncongnya.

"Sudah lama aku tidak seperti ini," ucapnya lalu langsung kembali menggerogoti kayu. Aku hanya diam tidak tahu ingin melakukan apa. Hanya melihat saja atau ikut membantu? Ah tapi itu tidak mungkin.

"Pegang ini," Daz melepas dan menyerahkan kacamatanya padaku. Aku langsung meraih dan membersihkannya dari debu kayu. Setidaknya hanya itu yang bisa aku lakukan.

Tidak lama ia telah berhasil membentuk lorong pada dahan itu. Aku cukup takjub melihatnya. Ekornya bergerak-gerak membersihkan parutan kayu yang tersisa di punggungnya.

"Ini," aku mengulurkan tangan mengembalikan kacamatanya.
"Ya terimakasih," ia menyambut tanganku, memakai kacamatanya dan kembali berjalan.
Aku ikut berjalan di sampingnya. "Apa kau selalu memakai itu?" tanyaku.
Sesaat ia tampak heran, namun akhirnya ia sadar dan mengenduskan hidungnya. "Ini? ya begitulah. Setidaknya penglihatanku masih lebih baik dibanding si barbar Craz!"

Tepat sekali aku mendengar nada tinggi di akhir perkataannya. Aku samasekali tidak heran, karen sejak dulu aku tahu Daz sangat membenci Craz Sang Pemimpin.

Aku tidak berniat untuk menanggapi ucapannya. Hal mengenai negeri ini, para tikus, pemerintahan, pemberontak, sekutu dan Craz bukanlah urusanku.

Kami terus berjalan. Suasana sunyi sepi tidak dapat dielakan lagi. Aku bermaksud kembali memulai topik pembicaraan. Namun tiba-tiba saja suasana menjadi pecah. Suara itu berasal dari sisi sebelah kanan kami.

"Heeeeei!! Aku ingin menjadi si Hidung Merah!"

Kami berdua menoleh dan kami mendapati dua orang tikus. Tikus yang satu bertubuh besar dan yang satunya lagi, tikus yang tadi berteriak bertubuh lebih kecil. Tikus yang lebih besar itu mencoba menyeret tikus yang lebih kecil dari atas batu yang tidak kalah besar dari batu yang tadi aku lihat. Sekonyong-konyong ia menyeretnya namun tikus bertubuh kecil itu samasekali tidak bangkit.

"Enyah kau! Ayo ikut! Angkat kakimu!" Tikus bertubuh besar itu mulai memanas. Sedangkan tikus bertubuh kecil itu hanya diam menunduk. Sesekali hidungnya bergerak seperti balon.

"Kau tidak elaknya dari para mahluk manja itu! Kau seperti batu!!"

Aku sangat yakin dengan apa yang aku dengar. Sangat tidak harmonis. Tikus bertubuh besar itu lekas menghilang di tengah semak belukar. Sedangkan Daz, sedari tadi ia tidak membuka mulut. Seperti tidak peduli Daz kembali melangkahkan kaki. Aku menoleh, tikus bertubuh kecil itu masih berdiri di atas batu. Apa yang ada di pikirannya, ia terlihat seperti hendak melawan dunia.

"Ya benar! Aku adalah batu!! Batu yang keras!! Sangat keras bahkan melebihi intan!"

Daz menoleh dan melihatku yang masih berada di tempat.
"Lekaslah!"
Aku sontak tersadar dan langsung mengambil langkah mengikutinya. Aku sempat ragu dan mengkhawatirkan tikus bertubuh kecil itu. Namun........... Ah, sudahlah!

Setelah beberapa langkah, aku kemblai mendengarnya. Meski samar-samar karena jarak yang tidak sedekat tadi, tapi aku masih bisa mendengarnya. Triakan itu, dengan sangat jelas!

"Dengarlah aku! Aku ingin menjadi sang pembawa kedamaian dari sebrang!!"

Dan aku yakin, Daz juga mendengarnya.


***

Ya, itu cerita gue. Aneh. Semoga cuma gue yang ngerti
Drizzlesweet :))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar