.

.

.

.

.

.

.

.

Minggu, 20 April 2014

Semangat Berlatih!

I need more practice..
Yup, that's right! Titanium-Pavane violin 2 bikin jari-jari aku keriting, apalagi yang part pizzicatonya belibet sangattt.. hiks.. Sebenernya aku ga begitu suka mainin pizzicato. Karena selain cangkel, aku ngerasa kalau pizzicato itu kurang dapet feel-nya. Yah entahlah.. dengan kata lain aku lebih suka nada-nada yang mengalun, yang bisa didengar (emangnya pizzicato ga bisa? -_-), diingat dan diresapi. 

Mungkin karena itu saat pertama kali denger arransemen Titanium-Pavane violin 2 aku engga begitu antusias. Karena pizzicatonya, yang terasa dominan dan membuatku pusing mendengarnya. Dan aku pun mengabaikan waktu. Malas? mungkin iya, tapi alasan lebih tepatnya adalah aku bingung mau mulai berlatih dari mana. Ditambah lagi aku yang hingga saat ini masih saja buta not balok. Akhirnya yang aku lakukan adalah bernanana ria.. 

Baru kemarin aku benar-benar berlatih Titanium-Pavane violin 2. Dan aku pusing. Begitu banyak kunci yang menggunakan jari kelingking. Untung rambut aku engga ikutan keriting. Ya ampuun.. ternyata sepertinya aku ini memang bermasalah dengan jari kelingking. Kenapa kelingking ini begitu kaku dan sulit untuk digerakan? Ya benar ini memang sering aku alami. Entahlah, aku juga engga ngerti ada apa dengan kelingking ini? Sungguh sulit sekali untuk menggerakannya :(

Tapi aku akan bertekad. Aku enggak boleh putus asa! Aku harus bisa memainkan Titanium-Pavane violin 2. Semalam bahkan aku begadang karena berlatih pizzicato. Aku juga berulang kali mendengarkan sampel musiknya. Membiarkan nada-nada itu mengalir ke dalam otak ku, membiarkannya meresap dan senantiasa membekas dalam ingatan ini.

Bagitu pun pagi ini, aku masih berkutat dengan Titanium-Pavane violin 2. Untung saja semalam aku sudah mengerjakan dan menyelesaikan tugas kuliah (tumben!), jadi hari ini aku bisa lebih fokus berlatih dan belajar Entomologi (semoga beneran belajar Ento).

Yep! Fighting! I can do it! Aku pasti bisaaa! 
Semangat juga buat partner aku! ^^

(Sa)  

Sabtu, 19 April 2014

Keep It Alone

River Flows In You...
Indahnya, mengalun di hari sepagi ini. Dentingan piano yang berhasil menggetarkan hatiku, menciptakan suatu sensasi yang kian melekat, entah menggambarkan kebersamaan, harapan, dan cinta. 

Intinya, di hari sepagi ini aku sudah menjadi ambigu dengan diriku sendiri. Tak apa, sejujurnya aku sangat merindukan nuansa seperi ini. Mendengarkan dentingan piano dan menulis. Aku selalu menyukai dentingan piano karena indahnya, dan begitu menyejukan didengar. Pagi ini harusnya aku pergi latihan biola, tapi aku menyempatkan diri untuk menulis posting ini. Entahlah. Hanya saja aku ingin menulis. Aku ingin kembali bisa membiarkan apa-apa yang aku rasakan mengalir dengan sendirinya melalui tulisan. Karena hanya dengan tulisan aku bisa mengungkapkan semuanya. Hanya dengan tulisan aku bisa benar-benar meluapkan kebahagiaan, kesedihan, kekecewaan, kemarahan, dan kepedihan yang aku rasakan. Mungkin aku bukanlah tipe orang yang berbagi, atau aku tidak mudah percaya dengan orang lain (?), sehingga aku hanya akan menikmati perasaan-perasaan itu sendiri. Dan ternyata benar-benar sangat menyakitkan jika hanya menyimpan dan memendamnya sendiri. Karena itulah aku menulis. Karena aku tidak cukup berbagi perasaan dengan orang lain. Lebih tepatnya aku tidak membiarkan diriku untuk berbagi perasaan dengan orang lain.

Dan inilah diriku, yang justru tertawa-tawa saat menceritakan kepedihan yang aku alami. 

Hahahaha.. cukup. Baiklah, sepertinya aku harus pergi, karena Spiccatoris telah menanti :)

(Sa)

Idealis Penyelaras (saya tipe kepribadian)

Idealis Penyelaras (saya tipe kepribadian)

Jumat, 18 April 2014

Birthday, Worth It?

Kemarin adalah ultah Roan dan Yuufa, sekarang mereka genap 1 tahun. Kangen deh, pengen banget ketemu mereka, peluk mereka, cium mereka, dan udah pasti mereka akan meraung-raung (?) melepaskan diri dari kuu. Hiks sedihnyaa.. Iya kan, itu tandanya mereka merasa asing dengan aku. Mau gimana lagi, sekarang aku tinggal berjauhan dengan mereka. Aku engga bisa ketemu mereka tiap hari. Aku engga bisa ngelihat mereka bobo dengan lucunya. Aku engga bisa selfie bareng mereka juga. Intinya begitu banyak momen yang terlewat antara aku dengan mereka, sediih.. 

Terkadang aku merindukan saat-saat dimana aku hanya berada bersama kucing-kucing ku seperti dulu. Disaat aku jatuh cinta, sedih, kecewa, marah, sakit, aku akan duduk menyendiri di belakang rumah bersama kucing-kucing ku sambil mendengarkan musik-musik instrumen kesukaanku. Dan disaat aku tidak sanggup lagi menampung perasaan ini, aku akan menceritakannya pada mereka, bahkan menangis dihadapan mereka, meluapkan segala perasaan ini. Mereka ibaratkan malaikat, jiwa-jiwa kecil yang suci, yang aku percaya untuk mendengarkan segala keluh kesah ku.

Roan, Yuufa, selamat ulang tahun! Bahkan sepertinya hanya aku yang mengingat hari ulang tahun kalian. Tapi kalian tidak perlu bersedih, aku akan senantiasa mengingat hari kelahiran kalian, karena bertepatan dengan sehari setelah ulang tahunku hehhehe.. Jangan khawatir, kita sama, begitu juga dengan hari ultah ku, tidak ada seorang pun orang rumah yang mengingatnya, dan aku sudah melaluinya sejak saat yang lama, entahlah tepatnya kapan, mungkin sejak saat aku kelas 1 SD. Jadi jangan bersedih, lain kali kita akan merayakan ulang tahun bersama, ya?  

Andai saja bisa, sebenarnya ingin sekali tahun ini kita berulang tahun bersama, karena rasanya tidak adil bagi kalian. Aku merasa sangat terharu di hari ultahku tahun ini. Sungguh. Untuk pertama kalinya dalam sejarah ulang tahunku, ada orang lain yang mengingatnya. Aku memang tidak mencantumkan hari ultah di jejaring sosial, karena aku ingin mengetahui adakah yang benar-benar memperhatikanku? Aku tidak butuh yang hanya sekadar ucapan, melainkan adalah perhatian, kepedulian dan ketulusan. Karena bahkan aku tidak mendapatkan itu dari keluargaku di hari ultahku. Dan begitulah, ternyata tidak ada seseorang yang cukup memperhatikanku, baik itu keluarga maupun teman dekatku, (mungkin sebenarnya, ternyata kami tidak benar-benar dekat?), padahal aku senantiasa mengingat ultah mereka. 

Aku pun tumbuh menjadi sosok yang tidak mengenal istilah hari ulang tahun. Aku tidak lagi mengucapkan selamat jika ada teman yang berulang tahun, karena aku juga tidak membutuhkan ucapan darinya. Setiap hari ulang tahun, aku selalu melaluinya sendiri. Tanpa teman, tanpa ucapan, tanpa kue dan hadiah. Aku hanya berdiam diri di kamar, merenung, mendengarkan instrumen musik, menulis, dan menangis entah sebenarnya apa yang aku tangisi. Karena begitu banyak hal yang membuat hatiku perih.

Entahlah. Miris memang. Aku tidak mengerti. Yang pasti, hal itu membuatku tumbuh menjadi sosok yang dingin. Aku tidak ingin diperbudak dengan perasaan-perasaan itu. Aku pun mengabaikannya. Menganggap semua itu tidaklah berarti. Dengan demikian lah aku merasa kuat. Ya tentu saja, bagaimana tidak, bahkan aku bisa mengabaikan perasaan ku sendiri. Betapa aku ini adalah sosok yang kuat, bukan?

Namun rupanya, aku bukanlah sosok yang kuat seperti apa yang aku rasa. Ya, hati ku, nyatanya hati ini rapuh. Meskipun aku merasa telah menjadi seseorang termunafik di dunia karena telah begitu banyak mengorbankan perasaan, tapi rupanya itu tidaklah cukup untuk tidak menghadirkan kepedihan di hati ini. Ternyata aku iri. Melihat teman-teman yang mendapatkan kejutan dan hadiah di hari ulang tahun mereka. Dan yang lebih parah adalah ketika temanku berulang tahun dan aku melihat dia mendapatkan hadiah boneka yang besar dari kakaknya. Ya Tuhan, demi apapun sungguh aku merasa begitu pedih menyaksikannya. Saat itu yang aku lakukan hanya terdiam, lantas tersenyum. Sekali lagi aku berusaha untuk mengabaikan apa yang aku rasakan. Betapa perasaan ini begitu mengganggu. Jangan mengharapkan apapun! Aku tidak boleh mengharapkan apapun! Biarlah, hal itu memang bukan milik ku dan tidak akan pernah terjadi pada ku. 

Tidak ada kehidupan yang sempurna. Ya, benar. Anggaplah aku yang ternyata memang kurang bersyukur. Sudah garis Langit, aku yang terlahir di tengah-tengah keluarga ini. 

Walaubagaimanapun, di hari ultahku tahun ini, aku merasa begitu bahagia dan bersyukur. Karena aku memiliki keluarga lain yang memperhatikanku. Meskipun mungkin bagi orang lain, apa yang keluargaku lakukan adalah hal yang biasa dan wajar dilakukan di hari ultah seseorang, tapi bagi aku tidak. Bagi aku ini semua, yang mereka lakukan adalah suatu hal yang sangat berkesan dan berarti, untuk pertama kalinya terjadi di hari ultahku. Sungguh membuatku terharu, aku tidak akan melupakannya. Kenangan indah, ukiran sejarah dalam kehidupanku. Terima kasih. Terima kasih banyak. Mungkin mereka tidak akan pernah tahu betapa hal sederhana yang mereka lakukan, mampu menorehkan kenangan yang begitu dalam di hatiku, dan aku sangat berterima kasih akan hal itu, atas semuanya.  

Terima kasih banyak.
I love Resonansi
I love airing
I love my family 

(Sa)

Minggu, 06 April 2014

I think I'm Change

Laper bangeeeet, tapi karena harus berhemat jadilah makan apa aja yang tersedia di kosan tercinta ckckck~ dan karena kemarin-kemarin aku sempet beli roti tawar, kebetulan masih ada selai strawberry, so sarapan aku pagi ini adalah roti tawar pake selai strawberry hehe.. 

Ok! Nonsense! Hal di atas itu nonsense. Ngapain coba aku cerita-cerita segala tentang sarapan? yang bahkan bukan dengan hidangan spesial. Hohoho.. Itu karena aku bingung mau cerita apa lagi. Padahal sebenarnya ada banyak hal lain yang aku rasakan, tapi aku justru bingung menceritakannya. Gimana dan mulai dari mana. 

Kalau diperhatiin juga, dari tahun ke tahun blog ini semakin sepi posting. Yang berarti menandakan semakin jarang juga aku cerita-cerita di blog ini. Aneh. Ya, aku sendiri heran. Karena seringnya itu setiap kali aku udah buka blog dan memulai entry baru, aku justru diam, bengong, bingung mau posting apa. Padahal sebelumnya, saat aku masih SMA, postingan yang aku tulis bisa sangat-sangat panjang. Aku menceritakan banyak hal, segalanya, dari yang emergency sampai yang nonsense sama sekali. Tapi ya aku engga peduli. Aku hanya terus menceritakannya saja, apa yang terjadi padaku dan apa yang aku rasakan. Dan melakukan itu sungguh membuat aku lega. Haaah~~ Tapi sekarang? Mau yang emergency ataupun nonsense sekali pun, semuanya engga lagi aku ceritakan. Cish! Kenapa ya aku jadi begini? :( hiks asa jadi sedih jadinya. Diri aku udah berubah. Bahkan engga lagi jujur dengan diri sendiri :( Padahal aku merasakan kesenangan, kesedihan, kesakitan, kepahitan, kekecewaan, ketakutan, tapi semuanya itu engga lagi aku ceritakan bahkan pada diriku sendiri :( hiks hiks hiks hiks. 

Awal aku membuat blog ini juga aku engga peduli apakah akan ada yang membaca atau tidak. Tapi lebih tepat sebenarnya aku engga butuh pembaca. Postingan-postingan di blog ini juga tentang kehidupan aku, cerita-cerita aku, perasaan aku, dan karena waktu itu aku tidak cukup punya teman untuk berbagi (*ihh kasian banget ya?) jadilah aku membuat blog ini dan menceritakan banyak hal di blog ini. So, yaudah blog ini ya hanya tempat, rumah aku untuk meluapkan apa yang aku rasakan. Dan dengan demikian aku merasa jujur karena sudah meluapkan segala kepenatan, itu membuatku lega. 

But, now? Rumah ini seperti sudah lama ditinggalkan pemiliknya. Alias, blog ini udah sepi dari postingan. Aku engga lagi cerita-cerita atau mewek-mewek segala macemnya seperti apa yang biasa anak cewe lakuin. Padahal banyak kisah yang terjadi padakuuu, dari yang manis pahit sampai yang asem kecut, but tetap aja, there is not new entry!!!!! Ihhh... ko kenapa aku jadi kaya giniii?? >_< sebel sendiri jadinya kaan..  

Apakah seseorang itu, semakin dewasa maka semakin tidak jujur?

Bisa jadi, bisa jadi. 
Dan sebenernya juga, awal aku menulis posting ini itu penuh dengan paksaan dalam diri. Mangkanya postingan ini diawali dengan hal gaje. Karena tetap, seperti ada suara yang begitu dalam, yang mengatakan (*atau lebih tepatnya memaksa)

"Tulis! Tulis! Tulis! Tulis sesuatu! Pokoknya harus menulis sesuatu! Apapun itu!"

Iya benar, seperti itu lah suaranya. Suara yang terus menyuruhku untuk menulis. Dan aku lumayan tidak menyangka tulisan ini bisa sudah sepanjang ini. Prutku pun semakin berteriak kelaparan. Dan benar saja aku sudah semakin lapar. Gara-gara menulis ini aku jadi mngabaikan roti tawar dan selai strawberry yang terletak tepat di samping ku. Sesekali aku melirik mereka, ingin segera membuat dan melahap roti untuk menyumpal perut yang terus saja berteriak. Tapi nampaknya aku terlalu teguh (?) untuk menulis ini, menyelesaikan postingan ini. 

Oke! Begitulah kronologisnya (?) 
Hari ini Minggu. Coba ada TV, aku berharap bisa menonton kartun. Tapi sayang di sini tidak ada TV, lagi pula walaupun ada, aku tidak yakin masih ada stasiun TV yang menayangkan film kartun di hari minggu. Ya, memang sekarang ini banyak hal yang berubah dan itu menyebalkan. Karena tidak ada TV dan tidak bisa nonton kartun, ya harusnya aku mengerjakan tugas, iya ga sih? 
Hahahaha.. 

Baiklah. Hari Minggu ini akan jadi hari minggu yang menyenangkan, karena banyak hal menyenangkan yang bisa aku lakukan. :D  

Smile! ^_^

Titik Jenuh

Diri aku ini memang aneh. Ada yang salah, tapi aku sendiri tidak tahu hal apa itu. Fiyuuuuh~~ sekarang aku seolah kehilangan banyak hasrat, terutama untuik kuliah. Mata kuliah yang gaje, tugas-tugas yang juga gaje. Bahkan hingga hari ini pun aku belum mengerjakan tugas, padahal deadline nya juga hari ini. Parah! Gimana yaa.. bukannya aku sibuk (tapi mungkin sok sibuk), aku sama sekali engga sibuk, tapi karena memang tidak berhasrat, tidak ada keinginan untuk mengerjakan. Bahkan yang lebih parah, kesenangan untuk belajar pun seakan lenyap. Ya, mungkin itu yang akhirnya membuatku enggan mengrjakan tugas, karena keinginan untuk belajarnya pun entah sedang kemana. Oh my God.. why? what's wrong? Kondisi seperti ini sungguh menyebalkan, karena pada akhirnya aku justru seperti mendapatkan tekanan. Apa mungkin aku sedang berada di titik kejenuhan? Hah! Kenapa tahun kedua itu selalau membuat aku jenuh? 

aaaaaaaaaaarrgh~~~!!!!! pengen teriaaaaaaak~~!! Ini sungguh menyebalkaaaan!!

Minggu, 30 Maret 2014

I'm a blogger

Sebenernya akhir-akhir ini aku bingung ngurusin blog. Yup! karena saking banyaknya, bahkan lebih dari 5 lapak yang aku punya. Cish.. ya ampuun parah banget sih aku ini, punya lapak sebanyak itu buat apa ajaa? Mangkanya aku pun jadi kelimpungan. Kemarin-kemarin juga aku mutusin buat nengok blog-blog aku, dan masalahnya adalah, saking terlalu lamanya engga diurus alias dibuka, aku jadi lupa email dan password apa yang aku pake. LOL. Dan yang paling bikin pusing adalah waktu mau nemuin blog aku yang ngebahas tentang Chen. Udah email dan passwordnya aku lupa, ditambah alamat blogspotnya juga aku lupa!! Sumpah parah bangeeet~ akhirnya aku ingat-ingat aja di sana pernah posting apa, terus aku coba search di google, hahaha konyol banget, tapi untung akhirnya ketemu. Dan setelah ketemu, ternyata masalah belum berakhir. Aku engga bisa log in! Beneran lupa banget emailnya apa, sampe segala macem email yang aku punya aku coba dan tidak ada yang membuahkan hasil. Oke, stuck bangeeet!! Nyesel juga kenapa bikin blog tapi pake email yang lain. Dan karena memang terlalu berharga (mereun) posting-posting yang ada di sana (yaiyalah, kan tentang Chen) akhirnya aku tidak berputus asa. Yup! terus coba lagi. Coba lagi. Coba lagi. Dan yippe!! akhirnya aku bisa log in =D hehehe.. Faktanya, ternyata email yang aku pake di blog itu bukan yang dari yahoomail, tapi gmail -_- cish! ampun banget deh keterlaluannya aku ini, emang aku ini punya satu alamat di gmail dan rupanya aku jadiin email buat bikin blog.

OKE. Masalah pun terselesaikan. Sekarang aku pun memutuskan buat ngebenerin semua blog yang aku punya. Alias ngedelete. Eitss, tapi tenang dulu, engga semua blog aku hapus lah. Gila aja kalau semuanya, yaa walaupun kebanyakan tulisan-tulisan aku di blog itu nonsense tapi cukup layak lah buat jadi ukiran tinta(?) sejarah dan perjalanan hidupku (*eaaa... mulai lebay)

Intinya mah, aku kerepotan ngurusin banyak blog. Jadi ada blog yang aku hapus, tapi postingannya aku copy dulu ke blog yang akan survive alias blog ini.

So sekarang aku cuma punya dua blog di blogger Drizzle Sweet dan Sparks Fly
dan di tumblr ada Just WordsDelipictNisa Chepmunk dan HappyChenChen

ya ampuun, ko aku punya banyak banget tumblr yaa..? -_- haha apalagi engga kebayangkan waktu itu aku punya blog di blogger sampe empat dan dengan email yang berbeda, yaa gimana aku ga kewalahan -_-
tapi kalau tumblr mah engga bikin aku repot, cz semuanya emailnya sama, jadi sekali log in ya otomatis bisa log in ke semuanya juga hehe...

Yah begitulah kronologisnya.. mengapa tiba-tiba di blog ini banyak postingan-postingan baru yang rasa-rasanya nonsense alias gaje. Dan untuk sekarang, blog atau tumblr yang eksis aku urus yaitu masih tetep blog legendaris ini Drizzle Sweet dan Just Words

OK. That's all.. Thx.
(Sa)

Minggu, 23 Maret 2014

Neomu Neomu Kyeopta Namja

kkk~ saat seseorang ngejewer kupingnya sendiri. yaa~ pabo namja yaa~ !
temo, saranghanda~ 




kenapa aku merasa perih, setelah mengingat kembali apa yang selama ini aku alami. senyum itu, akankah aku bisa merasakannya lagi? ingin menangis, tapi mata ini terlalu kering hanya untuk mengeluarkan setets air mata saja. ataukah, aku yang memang terlalu sangsi untuk menangis? begitu beku sampai-sampai aku tidak mengerti. Perasaan apa ini? Mengapa dada ini sesak?

Panggung sandiwara yang selama ini aku pijak, kelak akan aku tinggalkan. Aku tidak menyangka akan merasa begitu beku saat melangkah untuk meninggalkannya. Pada akhirnya tanpa perlu aku perintahkan pun, dengan sendirinya waktu yang akan menyeretku jauh. Aku tidak rindu. Aku hanya tidak menyangka. Dan kini aku mulai merasa asing. Dingin yang begitu menyengat. Apa semua ini hanya sementara? Hanya sebuah momen yang umum dirasakan oleh sosok yang labil? Maka aku hanya perlu tidak mempedulikan perasaan ini, karena perlahan pasti akan menghilang.

Apapun itu. Bagaimanapun itu. Yang jelas aku mempertanyakan satu hal. Beginikah rasanya mengenang.
Di tengah keramaian ini aku begitu muak dengan banyak hal! Dalam hati aku menjerit, tolong, tolonglah aku! siapapun! cepat bawa aku pergi! Hentikan segera aku yang hanya menjadi kerikil di tempat seperti ini. Karena rasanya sungguh memuakan! Ku mohon, sebelum aku terlanjur membenci semuanya.
Aku membayangkan begitu banyak hal yang akan berubah, itulah yang membuatku merasa kehilangan, dan jujur ini sungguh membuatku muak!

Bukan berarti aku cemburu, hanya saja bayangan-bayangan itu kerap kali muncul seperti cahaya proyektor yang jatuh pada sebuah layar. Ya, seperti itu, aku dapat melihat itu.

Pada akhirnya yang harus aku lakukan adalah hanya berdiri pada kedua kakiku sendiri. Tanpa aku perintahkan pun, diri ini dengan sendirinya mulai bersiap akan hal itu. Rasa tidak peduli perlahan mulai menyapa. Sekali lagi tanpa aku perintahkan! ketidak pedulian ini membuatku menjadi lebih kuat meski pada akhirnya aku tetap terhujam.

Sisi seperti ini, aku yang mulai kembali ke tempat asalku, Senandung Hujan.
Apa kabar malam? Sudah lama aku tidak menyapamu. Masih seperti biasa, aku tetap sibuk dengan diriku sendiri. Duniaku sendiri. Kelut imajinasiku sendiri. Harapan dan angan. Cinta dan kehidupan. Aku ingin berkeliling kota. Mengendarai motor. Ke toko buku membeli semua novel dan komik yang aku suka. Beli DVD The Palace. Pergi ke bioskop dan karaoke. Mampir di Restaurant Ice Cream. Aku juga ingin pergi ke bangunan Selamat Jalan, melihat kota Cirebon dari ketinggian. apalagi kalau bisa teriak-teriak di sana terus nerbangin pesawat kertas. Hahaha.. kaya di film-film Indonesia banget yaa? Norak ah! Tapi enggak apa-apa, kalau emang ada kesempatan. Di tambah lagi pas sedang hujan. Hmmm....... pasti menyenangkan! Rintik hujan yang merdu. Aroma basah yang menyegarkan. Dan langit yang sendu. Aku suka! Jangan lupa aku juga bakal pakai jaket merah kesukaanku, biar tetap hangat hehe... Udah gitu si Merahnya diobatin biar bisa dipasang headset. Terus sambil dengerin instrument-instrument dari si Merah deh pake headphone. Aku bakal rentangin tangan lebar-lebar. Memejamkan mata dan haaaaah...... damaaai... Kapan ya aku bisa kayak gitu? Aku enggak suka film alias sinetron Indonesia. Huft! Terserah ah! Aku suka film Korea. Bukan apa-apa, aku suka latar-latar filmnya. Tempatnya bagus-bagus, cocok dengan aku yang ambigu ini untuuuuuk..... berperilaku ambigu? -_- Tau ah! Pokoknya aku suka tempat-tempatnya ^^ Coba di Cirebon ada tempat kayak gitu x( whuaaa... aku bakal seneng banget dan dijamin enggak akan jadi anak rumahan lagi!
Waah... Waah... tuh kan aku udah ambigu lagi. Mengkhayal! Tapi emang beginilah aku.... suka mengkhayal tentang apa yang aku suka. Tau ah! aku ini emang rancu. Udah mau ujian bukannya belajar yang rajin, malah tambah kacau. Yup! aku emang suka nulis-nulis ga jelas apalagi sambil dengerin instrument-instrument yang bikin melting. Aku merasa hidup dan tetap saja ambigu ^_^
Ya sudahlah.... haha...

Selamat malam Malam!

Teardrops

Teardrops. Itu bukan air mata. Hanya sebuah judul instrument dari suatu film yang aku sendiri tidak tahu film-nya seperti apa. Malam, dan gelap. Dan Teardrops masih mengalun dengan sendunya. Aku bingung. Sekarang pun aku tertawa, menertawakan diriku sendiri yang masih saja menjadi sosok yang bingung. Rasanya benar-benar tak menentu, suram, aku kehilangan arah. Terkadang hati ini begitu sakit. Tapi aku enggak tahu, kenapa aku bisa merasa sakit seperti ini. Aku sedih. Tapi aku bingung, apa yang aku sedihkan? Aku ingin menangis. Tapi sepertinya aku terlalu malu untuk menangis. Malu pada diriku sendiri yang merasa seakan-akan aku ini begitu lemah. Aku juga tidak tahu apa yang harus aku tangisi. Aku merindukan sesuatu. Tapi aku  tidak tahu, sesuatu itu apa? Yang aku rindukan? Aku melihat, semua ini, kenyataan ini, penuh dengan tipu muslihat. Kesemuan yang memuakkan. Palsu. Dan juga aku merasa takut. Ketakutan yang sulit untuk dijelaskan. Otak ku, pikiranku, hatiku, semuanya seperti terpecah. Bahkan saat ini pun, aku menulis ini, aku merasa tidak nyaman, padahal hati ini seakan-akan menjerit. Tapi itu semua tidak bisa diterjemahkan oleh otak ku ini. Pikiranku kacau. Apa ini? Mengapa begitu sulit untuk mengungkapkannya? Aku, seperti kehilangan jati diri. Aku merindukan saat-saat dimana aku bisa menuliskan apa saja. Jujur dan apa adanya. Perasaan-perasaan itu, murni.  Kenapa? Ada apa dengan aku? Bahkan di saat malam tahun baru, aku tidak menulis satu kalimat pun, satu kata pun. Tidak ada ulasan apalagi harapan. Apa karena selama itu tidak ada satu pun yang berarti bagi ku? Tidak ada yang berarti? Lalu hati ini, untuk apa? Apa hati ini telah mati? Aku membutuhkan kemurnian itu.


Malam ini begitu sunyi. Dan terasa begitu ambigu. Dunia kecil dalam ruang. Dan aku masih tetap berada di dalamnya. Teardrops, selamat mengalun!

Ira Kusa

Aku telah berteman dengan Ira Kusa
Perih itu, ku rasakan hangat
Bahkan, kini aku justru menumbuhkan duri
Yang dengan senang hati, ku tancap duri itu ke sebatang Kaktus
Namun, itu bukanlah suatu kesakitan yang berarti
Kaktus itu tetap hidup di tengah padang gersang, dengan panas dan teriknya Matahari
Menjadi sosok yang dipenuhi duri dan dijauhi
Apakah aku terbang bersama angin?
Ataukah aku justru meresap, mengalir, menguap, entah hilang?
Layaknya butir salju yang terberai
Putih pun hanya menyisakan gelap

Sa

081011

Perasaan apa ini?
Tiba-tiba mencekat
dan membuat dada ini sesak
Jangan berharap angin akan selalu membawamu ke Utara
Angin tak dapat kau lihat
Meski saat ini kau merasakan hembusannya
Ia hanya sekedar lewat 
Dan tak perlu kau menggenggamnya
Cukup pejamkan mata dan mencoba terlelap


Sa
Aku terlalu tidak peduli 
dengan hal-hal yang tidak penting untuk dipedulikan
Tapi kini aku mulai mendengar gemericik air
yang begitu liar
atau bahkan syahdu
Riak air itu menghipnotisku
Hingga saatnya, aku berada dalam naungan Libra
Kebijaksanaan untuk menentukan
Jauh atau dekat
Aman atau tantangan
Kepercayaan atau pengkhianatan
Sebagai proses kehidupan
Yang sarat dengan angan
Perkataan tak dapat dipegang
Karena ia dapat melukai setiap genggam
Apa yang kau renungkan?
Cuaca yang kerap kali mendung?
Atau benar seperti apa yang ku lihat?
Kau kedinginan dan kesepian
Kenapa?
Ruang ini tampak cocok denganmu
Dengan dirimu yang tak membutuhkan debu-debu itu
Kalau begitu kenapa kau tak mencoba untuk berpetualang?
Di tengah jalan, kau akan bertemu dengan banyak Kumbang
Kau juga bisa melihat pemandangan
Angin akan membawamu terbang
Dan kau akan merasa senang
Kau hanya diam?
Sampai kapan?
Apa kau bingung terhadap tujuan?
Atau rupanya kau justru sudah merasa nyaman?
Kau ini bodoh atau memang tak berpendirian?
Hampir saja membuatku terjungkal
Sungguh menyedihkan!
Bahkan kau tak memiliki ikatan dengan seseorang
Tapi kau kehilangan kebebasan


Sa
Hanya sesosok batu yang terkikis waktu
Diam, tak dipandang ataupun memandang
Paling dilihat lantas ditinggal
Bukan sosok yang benar-benar terbang
Bukan juga sosok yang tergila-gila akan kemerlip bintang
Bahkan jarang menyaksikan kunang-kunang
Terlalu kaku untuk bergerak
Terlalu bisu untuk berteriak
Muak tapi juga nikmat
Berhambur, menjadi satu dengan riak
Melalui satu alur menuju Utara
Tidak istimewa
Menanti perputaran cuaca
Menanti beruang besar menumpahkan air langit
Aroma kelabu bernaung dengan gema sendu
Tersenyum lantas berkata, "Betapa merdu!"
Dengan masih tetap terpejam
Tak peduli meski lampu-lampu berpendar menghias jalan
Terlalu sulit berada dalam keramaian
Terlalu enggan dengan suatu hubungan 
Terlalu muak dengan perhatian
Dan terlalu benci dengan belas kasihan


(Sa)

Ve's Diary

Suatu malam di musim kemarau, Ve duduk di halaman rumahnya yang hanya baralaskan rumput hijau. Masih di samping sebuah kolam dengan air mancur yang di dalamnya hidup beberapa ekor ikan mas koi. Tapi mahluk-mahluk air itu tidak lagi menjadi perhatian Ve. Kini Ve tampak begitu serius dengan buku dan penanya. Dengan hanya berbekal penerangan lampu taman, ia pun menulis.


Semesta alam memang sangatlah luas. Aku tahu, tangan ini tidak akan pernah sanggup untuk menggenggam semesta alam. Ada begitu banyak hal yang berada diluar kendaliku. Termasuk dengan perasaanku ini. Padahal setiap hari aku menikmati dan mengamati semesta alam. Namun justru ini semua menjadi ironi bagiku. Harusnya aku bisa memetik pelajaran dari semesta alam. Tapi nyatanya, kini aku terjerembab dalam kemelut emosiku sendiri. Kenapa genggaman hangat itu belum juga bisa mendamaikanku? Apakah aku ini sosok yang begitu haus? Harusnya aku bisa benar-benar melihat semesta alam. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik, bulan selalu setia menemani dan mengelilingi bumi. Tidak hanya itu, bahkan bulan pun ikut menemani bumi mengelilingi matahari. Bulan menyadari, dirinya hanyalah sebuah benda langit kecil yang justru berhutang budi pada matahari. Matahari yang menjadi pujaan bumi. Apa boleh buat, takdir memang menempatkan mereka seperti itu. Paling tidak bulan berterimakasih, karena berkat matahari, bulan bisa menjadi sosok yang terang, sosok yang bisa dilihat oleh bumi. Dan berkat matahari pula, hingga saat ini kehidupan masih menyelimuti bumi. Bulan selalu berusaha untuk tidak mengharapkan apapun dari bumi. Bumi memang harus tetap mengelilingi matahari, menciptakan musim panas, musim gugur, musim dingin dan musim semi. 


Tiba-tiba, dari belakang, telapak tangan hangat mendarat di kedua mata Ve. Gelap. Ve menghela nafas sebelum akhirnya berkata, “Jo!” Namun tidak ada respon apapun. Ve lanjut berkata, “Jo, aku tahu ini pasti kamu”
Tidak ada balasan. Pandangan Ve masih tetap gelap. “Jo!” ulang Ve. Lalu dengan cepat Ve melepas kedua tangan yang menutupi matanya dan berbalik. ZONK! Seketika Ve terdiam. Mematung. Sejujurnya Ve terkejut. Namun beruntung ia berhasil tidak menunjukan ekspresi apapun apalagi sampai berteriak.
“Konyol!” ucap Ve akhirnya sambil menarik topeng Chuky yang berada tepat di depan wajahnya.
Jo yang berada di balik topeng itu pun tidak bisa manahan tawa. “Hahaha..... Ve, Ve. Lucu banget”
“Lucu apanya? Aku sama sekali enggak takut. Aneh!”
“Hahaha..” Jo masih tetap tertawa. Sambil merapatkan kedua tangannya ia lanjut berkata, “Aduh, perut aku sampai sakit Ve”
“Yaudah, mending kamu pulang aja daripada nanti sekarat di sini, aku enggak mau tanggung jawab!” ucap Ve dongkol.
“Iya, iya.. Kan bercanda”


Sesaat Jo memperhatikan buku yang tadi dipegang Ve tergeletak begitu saja. Ia pun mengambil buku itu, “Tadi kamu nulis apa si?”
“Jangan!” Ve langsung merebut buku itu dari tangan Jo. Jo balas menatap Ve heran. “Aku enggak nulis apa-apa. Tadi aku cuma mau coba gambar ikan-ikan itu. Tapi hasilnya enggak bagus. Nanti kamu malah ketawa ngolok-ngolok aku” jelas Ve asal.
“Hahaha..... Ve, aku tahu dan enggak akan maksa. Jadi enggak usah bohong. Aku juga enggak ada minat buat baca curhatan-curhatan anak perempuan kayak gitu.” Jo mendekat ke kolam dan mencelupkan sebelah tangannya ke air. Seketika ikan-ikan mas koi mengerumuni tangan Jo, “Sejak kapan ya majikan kalian bisa gambar?”
Ve bengong. Dengan sangat berat, ia memaksakan seulas senyum datar, “Oke kali ini aku kalah telak”


Ve menghampiri Jo dan ikut menyelupkan sebelah tangannya ke air, “Jo, aku mau bertanya. Kenapa bumi cuma punya satu satelit, bulan? Padahal planet-planet lain ada yang mempunyai satelit lebih dari satu”
Jo mengangkat bahu, “Ya mungkin karena memang yang dibutuhkan bumi cukup satu satelit, bulan. Bumi itu sendiri kan hanya planet kecil jadi normal kalau satelitnya cuma ada satu. Berbeda dengan planet-planet Jovian seperti Jupiter, Saturnus, Uranus. Lagian coba bayangkan, kalau bumi punya satelit lebih dari satu, maka setiap malam akan ada lingkaran-lingkaran besar terang di langit, itu kan aneh. Coba lihat!” Jo mendongakkan kepalanya menatap langit malam, “Menurutku langit malam yang seperti ini sudah cukup untuk bumi. Hanya ada satu bulan yang berarti istimewa”
“Istimewa Jo?” Ve mengalihkan pandangannya.
“Ya, istimewa. Lagi pula, aku percaya segala apapun yang Tuhan berikan, itu semua adalah yang terbaik. Sama seperti apa yang Tuhan berikan pada bumi. Cukup dengan keberadaan bulan keseimbangan di bumi bisa terjaga”
“Mungkin enggak ya bumi dan bulan saling jatuh cinta?” Ve terbang dalam emosinya sendiri. Menatap bulan yang tersemat di langit. Akhirnya ia menyadari Jo belum juga menjawab pertanyaannya. Saat Ve menoleh, ia pun mendapati Jo sedang menatapnya. Kikuk.
“Pertanyaan kamu kayak anak kecil”
“Apa?”
Jo mengetuk-ngetuk kening Ve dengan jari telunjuknya. Ve yang masih heran pun hanya bisa diam. “Veolina Sereffa, coba tebak apa yang terjadi jika bumi dan bulan saling jatuh cinta? Kamu tahu?” Ve hanya mengangkat kedua bahunya. “Itu artinya gawat! Karena dunia akan kiamat!” Ucap Jo dengan nada mistis.


Ve tidak bereaksi. Jo mencoba untuk mengejutkan Ve dengan menunjukkan topeng Chuky itu lagi. Namun Ve langsung menepis tangan Jo, “Aku enggak takut dan enggak akan terkejut Jo!” Ve kembali mencelupkan tangannya ke air dan berkata lirih, “Kiamat?”
“Ya setidaknya menurut ilmu astronomi begitu. Selama ini terjadi keseimbangan antara gaya gravitasi bumi dan gaya gravitasi bulan. Lalu saat-saat dimana dunia ini akan kiamat, keadaan bumi dan bulan sudah tidak stabil. Bisa jadi dengan gaya gravitasi bumi yang lebih besar dari bulan, bulan bisa tertarik ke bumi. Kalau sudah begitu bumi dan bulan akan bertubrukan, mengerti?” jelas Jo.
Ve hanya mengangguk. “Jorendra Herfian, ternyata kamu pintar juga”
"Tapi Ve, suatu saat nanti, bumi dan bulan pasti akan saling jatuh cinta"
Ve termenung. "Dan itu akan menjadi saat-saat terakhir mereka"


(Sa)

Figure In The Song

stand on the gray sidewalk
feel the cold snow fall from the sky
sing a simply words
imagine be a figure in the song

a girl with no funtime
no adventure
and love
wish stay beyond the fortress
but no means be surrender

believe in hope
never stop effort to out from the dark
but if can't go
just be my own self
and I'll glow like fireflies
fly in the darkness

there could be my fate
trappe inside of case
wait isn't the one way can I take

the end of the song
not means same of the life
sheild the determinations
soon, the stone will change into the diamond
tomorrow is our decide
gratefulness

(Sa)