.

.

.

.

.

.

.

.

Jumat, 18 April 2014

Birthday, Worth It?

Kemarin adalah ultah Roan dan Yuufa, sekarang mereka genap 1 tahun. Kangen deh, pengen banget ketemu mereka, peluk mereka, cium mereka, dan udah pasti mereka akan meraung-raung (?) melepaskan diri dari kuu. Hiks sedihnyaa.. Iya kan, itu tandanya mereka merasa asing dengan aku. Mau gimana lagi, sekarang aku tinggal berjauhan dengan mereka. Aku engga bisa ketemu mereka tiap hari. Aku engga bisa ngelihat mereka bobo dengan lucunya. Aku engga bisa selfie bareng mereka juga. Intinya begitu banyak momen yang terlewat antara aku dengan mereka, sediih.. 

Terkadang aku merindukan saat-saat dimana aku hanya berada bersama kucing-kucing ku seperti dulu. Disaat aku jatuh cinta, sedih, kecewa, marah, sakit, aku akan duduk menyendiri di belakang rumah bersama kucing-kucing ku sambil mendengarkan musik-musik instrumen kesukaanku. Dan disaat aku tidak sanggup lagi menampung perasaan ini, aku akan menceritakannya pada mereka, bahkan menangis dihadapan mereka, meluapkan segala perasaan ini. Mereka ibaratkan malaikat, jiwa-jiwa kecil yang suci, yang aku percaya untuk mendengarkan segala keluh kesah ku.

Roan, Yuufa, selamat ulang tahun! Bahkan sepertinya hanya aku yang mengingat hari ulang tahun kalian. Tapi kalian tidak perlu bersedih, aku akan senantiasa mengingat hari kelahiran kalian, karena bertepatan dengan sehari setelah ulang tahunku hehhehe.. Jangan khawatir, kita sama, begitu juga dengan hari ultah ku, tidak ada seorang pun orang rumah yang mengingatnya, dan aku sudah melaluinya sejak saat yang lama, entahlah tepatnya kapan, mungkin sejak saat aku kelas 1 SD. Jadi jangan bersedih, lain kali kita akan merayakan ulang tahun bersama, ya?  

Andai saja bisa, sebenarnya ingin sekali tahun ini kita berulang tahun bersama, karena rasanya tidak adil bagi kalian. Aku merasa sangat terharu di hari ultahku tahun ini. Sungguh. Untuk pertama kalinya dalam sejarah ulang tahunku, ada orang lain yang mengingatnya. Aku memang tidak mencantumkan hari ultah di jejaring sosial, karena aku ingin mengetahui adakah yang benar-benar memperhatikanku? Aku tidak butuh yang hanya sekadar ucapan, melainkan adalah perhatian, kepedulian dan ketulusan. Karena bahkan aku tidak mendapatkan itu dari keluargaku di hari ultahku. Dan begitulah, ternyata tidak ada seseorang yang cukup memperhatikanku, baik itu keluarga maupun teman dekatku, (mungkin sebenarnya, ternyata kami tidak benar-benar dekat?), padahal aku senantiasa mengingat ultah mereka. 

Aku pun tumbuh menjadi sosok yang tidak mengenal istilah hari ulang tahun. Aku tidak lagi mengucapkan selamat jika ada teman yang berulang tahun, karena aku juga tidak membutuhkan ucapan darinya. Setiap hari ulang tahun, aku selalu melaluinya sendiri. Tanpa teman, tanpa ucapan, tanpa kue dan hadiah. Aku hanya berdiam diri di kamar, merenung, mendengarkan instrumen musik, menulis, dan menangis entah sebenarnya apa yang aku tangisi. Karena begitu banyak hal yang membuat hatiku perih.

Entahlah. Miris memang. Aku tidak mengerti. Yang pasti, hal itu membuatku tumbuh menjadi sosok yang dingin. Aku tidak ingin diperbudak dengan perasaan-perasaan itu. Aku pun mengabaikannya. Menganggap semua itu tidaklah berarti. Dengan demikian lah aku merasa kuat. Ya tentu saja, bagaimana tidak, bahkan aku bisa mengabaikan perasaan ku sendiri. Betapa aku ini adalah sosok yang kuat, bukan?

Namun rupanya, aku bukanlah sosok yang kuat seperti apa yang aku rasa. Ya, hati ku, nyatanya hati ini rapuh. Meskipun aku merasa telah menjadi seseorang termunafik di dunia karena telah begitu banyak mengorbankan perasaan, tapi rupanya itu tidaklah cukup untuk tidak menghadirkan kepedihan di hati ini. Ternyata aku iri. Melihat teman-teman yang mendapatkan kejutan dan hadiah di hari ulang tahun mereka. Dan yang lebih parah adalah ketika temanku berulang tahun dan aku melihat dia mendapatkan hadiah boneka yang besar dari kakaknya. Ya Tuhan, demi apapun sungguh aku merasa begitu pedih menyaksikannya. Saat itu yang aku lakukan hanya terdiam, lantas tersenyum. Sekali lagi aku berusaha untuk mengabaikan apa yang aku rasakan. Betapa perasaan ini begitu mengganggu. Jangan mengharapkan apapun! Aku tidak boleh mengharapkan apapun! Biarlah, hal itu memang bukan milik ku dan tidak akan pernah terjadi pada ku. 

Tidak ada kehidupan yang sempurna. Ya, benar. Anggaplah aku yang ternyata memang kurang bersyukur. Sudah garis Langit, aku yang terlahir di tengah-tengah keluarga ini. 

Walaubagaimanapun, di hari ultahku tahun ini, aku merasa begitu bahagia dan bersyukur. Karena aku memiliki keluarga lain yang memperhatikanku. Meskipun mungkin bagi orang lain, apa yang keluargaku lakukan adalah hal yang biasa dan wajar dilakukan di hari ultah seseorang, tapi bagi aku tidak. Bagi aku ini semua, yang mereka lakukan adalah suatu hal yang sangat berkesan dan berarti, untuk pertama kalinya terjadi di hari ultahku. Sungguh membuatku terharu, aku tidak akan melupakannya. Kenangan indah, ukiran sejarah dalam kehidupanku. Terima kasih. Terima kasih banyak. Mungkin mereka tidak akan pernah tahu betapa hal sederhana yang mereka lakukan, mampu menorehkan kenangan yang begitu dalam di hatiku, dan aku sangat berterima kasih akan hal itu, atas semuanya.  

Terima kasih banyak.
I love Resonansi
I love airing
I love my family 

(Sa)