Terkadang di saat sendiri itu memang kita (*aku) butuhkan dan menjadi saat dimana kita (*aku) benar-benar merasa nyaman. Aku banyak sekali melakukan kesalahan, kecerobohan, kegegabahan, karena sepertinya lidah ku ini telah banyak berkisah kata-kata pada manusia. Iya aku ceroboh. Bahkan di dunia ini manusia bisa menjadi mahluk yang paling tidak bisa dipercaya, bukan? Tidak ada manusia yang benar-benar kita ketahui dirinya 100%. Begitu juga dengan tidak ada seorang pun yang benar-benar mengetahui diriku 100%.
Mempercayai orang lain. Sebesar apakah kepercayaan kita pada orang lain? Aku benci menjadi munafik, tapi sepertinya aku sendiri juga cukup munafik. Dari hal kecil saja, sedekat apapun kita pada seseorang, mungkin seorang teman atau bahkan sahabat, pasti ada hal yang kita tidak sukai dari dia. Pasti ada saja hal yang bisa membuat kita tidak nyaman. Bagus kalau langsung ngomong atau komplain ke orangnya, tapi ternyata kalau justru diam-diam dipendam? Ok, itu juga bagus kok, dengan begini maka tidak ada pertikaian dipermukaan. Lalu, sebesar apa hal yang dipendam itu? Haha, ya hanya Tuhan dan orang yang bersangkutan lah yang tahu.
Dalam suatu hubungan apapun itu, kepercayaan lah yang menjadi pondasi awal. Namun, sayangnya sering kali aku ragu untuk percaya pada orang lain. Aku berkaca dari apa yang aku alami sendiri. YA! Karena aku bukan manusia suci, apalagi setelah hidup selama ini. Mungkin aku juga bukan sosok yang cukup baik, yang selalu berprasangka baik. Dan senantiasa bermanis-manis wajah serta perkataan pada orang lain.
Ya, aku ini antagonis. Dan selalu antagonis.
Senantiasa bermanis-manis wajah serta perkataan pada orang lain.
Aku bukan tipe orang seperti itu. Maka sebagai gantinya, aku lebih memilih diam tak berekspresi.
Jangan mengharapkan apapun dari orang lain.
Prinsip ini lah yang pernah aku pegang dalam menjalani hidup. Jangan mengharapkan apapun dari orang lain. Termasuk saat kita berharap ada orang yang benar-benar bisa dipercaya.
Dengan prinsip ini lah, aku menjadi bisa berdiri di atas kakiku sendiri. Namun nampaknya kini kaki ku mulai goyah. Hal ini terjadi tanpa aku sadari. Dan setelah menyadarinya membuatku menjadi benci pada diri ini. YA! Aku membenci diriku yang goyah seperti ini. Aku membenci saat dimana ternyata diri ini tergantung pada orang lain. Sungguh aku membencinya!
Jangan percaya pada siapapun.
Membacanya saja terasa kalimat ini begitu kejam. Adakah yang benar-benar bisa melakukannya?
Tidak ada?
Atau haruskah ku ganti pertanyaannya menjadi,
bisakah aku melakukannya?
Tidak ada?
Atau haruskah ku ganti pertanyaannya menjadi,
bisakah aku melakukannya?
(Sa)