.

.

.

.

.

.

.

.

Sabtu, 11 Agustus 2012

The Last White Collar

Seperti mimpi. 'The Last White Collar' satu kata itu terasa begitu magis bagiku. Aku meringis.

Rasanya seperti blank! Ya benar. Dulu, aku yang rasa-rasanya hampir gila, seperti berada di sebuah kotak gelap yang tertutup rapat, terasa begitu sesak, kejenuhan yang memuncak, banyak hal yang sungguh membuatku muak! Dan akhirnya tiba juga, di saat aku menerima sebuah buku, yang pada halaman pertamanya bertuliskan banyak kalimat 'The Last White Collar'. Aku kembali meringis.

Membacanya, membuatku seperti tersentil. Hahaha.... apa yang aku alami selama ini lucu. Aku tidak menyesal. Aku hanya tidak menyangka.

Bukan bentuk penyesalan, tapi memang, yang terindah terjadi di saat-saat terakhir. Dan aku cukup berterimakasih.

Yeah.... now, I'm not a student of senior high school any more. Smanda, ternyata kita benar-benar berjodoh. Aku enggak bisa bilang apa-apa lagi tentang Smanda. Smanda ya just Smanda.

Hanya saja aku sangat sadar dan mengerti, kini anginku berhembus naik, dan siap membawaku terombang-ambing.




Dan oh ya, rasa-rasanya aku enggak jadi mendokumentasikan tentang Smanda :P

(Sa)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar