A quite night. Listen to me! a strange story comes in my head again. I hope it's clear and ... my heart can feel it.
2nd Chapter
"Aku ingin menjadi sang pembawa kedamaian dari sebrang!!!"
Ya, sudah hampir satu musim sejak aku mendengar tikus kecil itu berteriak. Dan hingga kini terkadang kepalaku belum juga bisa melepaskannya. Aku tertidur cukup pulas, mendengarkan musik, pergi ke perpustakaan, hidup normal seperti di duniaku. Sejauh ini tidak ada masalah yang begitu berarti.
Daz masih bersikap dingin seperti biasa. Itu juga bukan masalah bagiku. Sedangkan Clara istri Daz tampak begitu tertekan dengan kantung mata yang lebar dampak dari insomnia akut yang dialaminya. Ya seperti biasa ketidak harmonisan. Sama seperti kejadian di sungai saat musim panas waktu itu. Aku ingin sekali berusaha untuk tidak mengerti.
"Ikutlah denganku", ucap Daz sambil membawa sebuah kotak atau lebih tepatnya peti yang terbuat dari kayu. Aku tahu sepertinya ia merasa kesulitan membawa peti itu. Namun aku juga menyadari ia sama sekali tidak mengharapkan bantuanku. Aku hanya berjalan mengikutinya seperti biasa. Selama ini hanya Daz yang sering mengajakku keluar dan aku sangat menghargai itu.
"Kita akan pergi kemana?"
"Kau akan tahu nanti", jawab Daz tanpa menoleh.
"Aku merasa asing dan dingin", aku mulai penasaran dengan langkah kaki Daz yang membawaku pada tebing-tebing curam. Sebuah pohon dengan akar yang membentuk pintu gua dan aku dapat melihat keindahan stalagtit dan stalagmit yang ada di dalam gue itu.
"Kau baru pertama kali ke sini", Akhirnya Daz berhenti menaruh petinya dan kembali berjalan. Sepertinya Daz juga merasakan apa yang aku rasakan. Aku bisa mendengar nefasnya yang mulai tersenggal
"Ya benar, itu bukanlah hal yang aneh"
Tadinya aku pikir Daz akan mengajakku ke gua itu. Tapi ternyata salah, langkah kaki Daz berbelok menuju tanjakan yang tinggi menuju bagian atas tebing. Aku tercenang melihat batu-batu besar yang harus aku panjat. Sungguh tidak mudah pikirku. Namun Daz memang luarbiasa! Ia sama sekali tidak bergeming.
Tiba di atas tebing Daz menaruh dan hendak membuka peti itu. Kini tangannya memegang sebuah kunci antik dari logam bersiap untuk dimasukan kedalam lubang kunci pada peti itu.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaarghh..!!", teriakku reflek dengan kedua tangan menutup mata. "Apa itu?", perlahan aku menurunkan tangan dan mencoba melihat sesuatu yang menyilaukan dari dalam peti.
Bulatan berwarna perak. Apakah itu sebuah bola? Ah, tidak! itu seperti sebuah bandul. Ada rantai yang mengikatnya. Benda itu bercahaya.
Daz mengangkat rantainya hingga tepat berada di hadapan wajahnya. Ia menoleh dan tersenyum padaku. Senyum sinis dan penuh arti, membuatku merinding.
"Ekspresi wajahmu tidak begitu baik", ucap Daz santai. Sontak aku terkejut. Daz berjalan beberapa langkah mendekatiku dan tepat menghadapkan wajahnya padaku, "Kau takut anak muda?". Aku tidak menjawab dan ia lantas tertawa.
Apa yang ada dipikirannya? Aku yakin dia menertawakan aku. "Terkadang bulan purnama terlihat begitu mengerikan", jawabku pendek.
"Ya! Bahkan sangat mengerikan!"
Aku tidak membalas. Sisi Daz yang seperti ini, dingin, sarkastis dan misterius, apa aku benar-benar mengenalnya?
Daz menjauh dariku menuju ujung tebing yang aku sendiri tidak tahu ada apa di bawahnya. Aku berjalan mengikutinya dan ketika Daz berhenti melangkah aku pun turut berhenti. Daz membalikan badan masih dengan tatapan mata yang tajam. "Pakailah!", Ia mengulurkan benda itu padaku. Sesaat aku, ragu tapi kilauan cahaya itu perlahan memanggil tanganku dan tanpa waktu lama kini benda itu menggantung di leherku. Jantungku berdugup kencang. Entahlah... sepertinya aku sulit bernafas. Sambil memejamkan mata aku menggenggam bulatan perak itu. Yaah.. kepalaku pusing.
"Coba lihatlah ke situ!"
Aku mendengar perkataan Daz, ku kira tadi aku tertidur atau apa. Aku berjalan gontai, badanku lemas dan mataku berkunang-kunang. Batu-batu yang menjadi pijakanku hampir saja membuatku terjatuh. Aku melangkah melewati Daz dan tiba tepat di ujung tebing. Aku berhenti dan merasakan tiupan angin hangat yang mendarat di wajahku. Aku menoleh pada Daz dan ia memberiku isyarat dengan kepalanya. Aku kembali merasakan tiupan angin hangat dan aku pun tersenyum.
"Laut? Yah laut. Laut biru yang indah"
Aku memandang hamparan biru yang terbentang luas di hadapanku. Tapi sepertinya hamparan itu semakin mendekatiku. Mulutku terkunci dan aku merasakan sekelilingku angin. Angin itu memutarbalikan tubuhku dan barulah aku tersadar, aku kehilangan pijakanku.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarghh!!!", teriakku lepas. Aku melihat tebing yang tadi aku pijak kini jauh berada di atasku.
"Kita akan bertemu kembali!!!"
Meski samar, aku bisa mendengar ucapan Daz. Apa katanya? Aku akan bertemu lagi dengannya? Benarkah? Oh .... apa yang terjadi? Kini aku melayang. Tidak!! aku akan tenggelam. Daz, apa ada yang akan membawaku?
Aku membentur. Ya, bisa ku raskan di sekujur tubuhku. Dingin dan membeku. Mungkin aku benar-benar melayang. Aku tidak sanggup lagi melihat dengan jelas, pandanganku kabur. Dan aku sudah terlalu lelah. Sesuatu yang lembut mendarat di tanganku. Aku tidak dapat memastikan apa itu. Tidak hanya mendarat, ada yang menyentuhku dan menarikku. Entahlah, untuk saat ini aku tidak peduli dengan apapun itu. Benar ada yang membawaku dan aku juga tidak peduli.
***
Yup! a Strange story.
This is my strange story. And it just mine.
Drizzlesweet
2nd Chapter
"Aku ingin menjadi sang pembawa kedamaian dari sebrang!!!"
Ya, sudah hampir satu musim sejak aku mendengar tikus kecil itu berteriak. Dan hingga kini terkadang kepalaku belum juga bisa melepaskannya. Aku tertidur cukup pulas, mendengarkan musik, pergi ke perpustakaan, hidup normal seperti di duniaku. Sejauh ini tidak ada masalah yang begitu berarti.
Daz masih bersikap dingin seperti biasa. Itu juga bukan masalah bagiku. Sedangkan Clara istri Daz tampak begitu tertekan dengan kantung mata yang lebar dampak dari insomnia akut yang dialaminya. Ya seperti biasa ketidak harmonisan. Sama seperti kejadian di sungai saat musim panas waktu itu. Aku ingin sekali berusaha untuk tidak mengerti.
"Ikutlah denganku", ucap Daz sambil membawa sebuah kotak atau lebih tepatnya peti yang terbuat dari kayu. Aku tahu sepertinya ia merasa kesulitan membawa peti itu. Namun aku juga menyadari ia sama sekali tidak mengharapkan bantuanku. Aku hanya berjalan mengikutinya seperti biasa. Selama ini hanya Daz yang sering mengajakku keluar dan aku sangat menghargai itu.
"Kita akan pergi kemana?"
"Kau akan tahu nanti", jawab Daz tanpa menoleh.
"Aku merasa asing dan dingin", aku mulai penasaran dengan langkah kaki Daz yang membawaku pada tebing-tebing curam. Sebuah pohon dengan akar yang membentuk pintu gua dan aku dapat melihat keindahan stalagtit dan stalagmit yang ada di dalam gue itu.
"Kau baru pertama kali ke sini", Akhirnya Daz berhenti menaruh petinya dan kembali berjalan. Sepertinya Daz juga merasakan apa yang aku rasakan. Aku bisa mendengar nefasnya yang mulai tersenggal
"Ya benar, itu bukanlah hal yang aneh"
Tadinya aku pikir Daz akan mengajakku ke gua itu. Tapi ternyata salah, langkah kaki Daz berbelok menuju tanjakan yang tinggi menuju bagian atas tebing. Aku tercenang melihat batu-batu besar yang harus aku panjat. Sungguh tidak mudah pikirku. Namun Daz memang luarbiasa! Ia sama sekali tidak bergeming.
Tiba di atas tebing Daz menaruh dan hendak membuka peti itu. Kini tangannya memegang sebuah kunci antik dari logam bersiap untuk dimasukan kedalam lubang kunci pada peti itu.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaarghh..!!", teriakku reflek dengan kedua tangan menutup mata. "Apa itu?", perlahan aku menurunkan tangan dan mencoba melihat sesuatu yang menyilaukan dari dalam peti.
Bulatan berwarna perak. Apakah itu sebuah bola? Ah, tidak! itu seperti sebuah bandul. Ada rantai yang mengikatnya. Benda itu bercahaya.
Daz mengangkat rantainya hingga tepat berada di hadapan wajahnya. Ia menoleh dan tersenyum padaku. Senyum sinis dan penuh arti, membuatku merinding.
"Ekspresi wajahmu tidak begitu baik", ucap Daz santai. Sontak aku terkejut. Daz berjalan beberapa langkah mendekatiku dan tepat menghadapkan wajahnya padaku, "Kau takut anak muda?". Aku tidak menjawab dan ia lantas tertawa.
Apa yang ada dipikirannya? Aku yakin dia menertawakan aku. "Terkadang bulan purnama terlihat begitu mengerikan", jawabku pendek.
"Ya! Bahkan sangat mengerikan!"
Aku tidak membalas. Sisi Daz yang seperti ini, dingin, sarkastis dan misterius, apa aku benar-benar mengenalnya?
Daz menjauh dariku menuju ujung tebing yang aku sendiri tidak tahu ada apa di bawahnya. Aku berjalan mengikutinya dan ketika Daz berhenti melangkah aku pun turut berhenti. Daz membalikan badan masih dengan tatapan mata yang tajam. "Pakailah!", Ia mengulurkan benda itu padaku. Sesaat aku, ragu tapi kilauan cahaya itu perlahan memanggil tanganku dan tanpa waktu lama kini benda itu menggantung di leherku. Jantungku berdugup kencang. Entahlah... sepertinya aku sulit bernafas. Sambil memejamkan mata aku menggenggam bulatan perak itu. Yaah.. kepalaku pusing.
"Coba lihatlah ke situ!"
Aku mendengar perkataan Daz, ku kira tadi aku tertidur atau apa. Aku berjalan gontai, badanku lemas dan mataku berkunang-kunang. Batu-batu yang menjadi pijakanku hampir saja membuatku terjatuh. Aku melangkah melewati Daz dan tiba tepat di ujung tebing. Aku berhenti dan merasakan tiupan angin hangat yang mendarat di wajahku. Aku menoleh pada Daz dan ia memberiku isyarat dengan kepalanya. Aku kembali merasakan tiupan angin hangat dan aku pun tersenyum.
"Laut? Yah laut. Laut biru yang indah"
Aku memandang hamparan biru yang terbentang luas di hadapanku. Tapi sepertinya hamparan itu semakin mendekatiku. Mulutku terkunci dan aku merasakan sekelilingku angin. Angin itu memutarbalikan tubuhku dan barulah aku tersadar, aku kehilangan pijakanku.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarghh!!!", teriakku lepas. Aku melihat tebing yang tadi aku pijak kini jauh berada di atasku.
"Kita akan bertemu kembali!!!"
Meski samar, aku bisa mendengar ucapan Daz. Apa katanya? Aku akan bertemu lagi dengannya? Benarkah? Oh .... apa yang terjadi? Kini aku melayang. Tidak!! aku akan tenggelam. Daz, apa ada yang akan membawaku?
Aku membentur. Ya, bisa ku raskan di sekujur tubuhku. Dingin dan membeku. Mungkin aku benar-benar melayang. Aku tidak sanggup lagi melihat dengan jelas, pandanganku kabur. Dan aku sudah terlalu lelah. Sesuatu yang lembut mendarat di tanganku. Aku tidak dapat memastikan apa itu. Tidak hanya mendarat, ada yang menyentuhku dan menarikku. Entahlah, untuk saat ini aku tidak peduli dengan apapun itu. Benar ada yang membawaku dan aku juga tidak peduli.
Yup! a Strange story.
This is my strange story. And it just mine.
Drizzlesweet
Tidak ada komentar:
Posting Komentar