-...-
Before, I want to explain about the name that I used in my English task story. I took name Jorendra from this story. I don't know why, but maybe I like the name "Jorendra"
I wrote this story in Indonesian, my friend really like this story and she asked to me why I didn't create the part 2. I really want to create the next part , but it is too difficult to explain. So, it's just my short story....
thanks...
-...-
Pagi itu, matahari nampak malas.
Hamparan rumput yang luas dan angin sepoi-sepoi menciptakan nyanyian nan merdu.
Seorang anak laki-laki sedang berbaring memejamkan mata
sambil mersakan kehangatan rumput-rumput yang saling berbisik.
"Jo....! Jo...!"
Seorang anak perempuan melambaikan tangannya dan langsung berlari mendekat.
Anak laki-laki itu hanya bisa mendengar dan merasakan kehadiran sahabatny.
"Jo maaf tadi aku...."
"Ssst.... Jangan bicara, dengarlah suara itu."
"Jo?"
Dengan heran, anak parempuan itu langsung berbaring di samping sahabtnya.
"Benar, suara yang merdu."
"Ve, apa yang kau dengar?"
"Bodoh, hanya suara angin"
Ve terbangun dan langsung tertawa.
"Hahaha.. Kau terlalu banyak berimajinasi Jo."
"Sudah jangan tertawa! Kau ini payah." Jo duduk disamping Ve.
"Ya ya.. Baiklah aku tidak tertawa. Jo kenapa kau mengajakku kesini?
"Tak apa, aku hanya ingin berada disini. Ve, aku teringat seseorang pernah berkata padaku."
"Seseorang? Apa yang dia katakan?"
"Dia berkata,'Kesenangan, kesedihan, kebahagiaan, bahkan kepahitan yang dirasakan
banyak orang, Sesungguhnya perasaan apa itu? Alangkah senang bisa merasakannya
bersama-sama dengan orang disamping kita.'Pernahkah kau merasakan itu Ve?"
"Entahlah, aku harap dugaanku benar Jo." Dengan ragu-ragu Ve berkata,
"Seseorang belum pernah mersakan sakitnya terjatuh,
karena dia belum pernah mencapai puncak yang tinggi. Apakah menurutmu hal ini lebih baik Jo?
Menurutku ini jauh lebih menyakitkan. Hanya bisa merasakan dan berharap mencapai puncak.
Tanpa bisa bergerak sedikitpun, meski telah melangkahkan kaki."
"Ya, kau benar. Hal ini lebih menyakitkan. Ve, apakah itu yang sedang kau rasakan saat ini?"
"Aku mengerti perasaan orang itu Jo. Dia ingin sekali merasakan keindahan yang dirasakan orang lain. Menanti dan terus menanti. Dia membutuhkan genggaman tangan seseorang,
tidak, lebih tepat dia menunggunya."
"Apakah benar begitu? Baiklah Ve." Jo menggenggam tangan Ve.
"Jo..?"
"Ve, jangan khawatir, mulai saat ini aku akan menggenggam tanganmu. Kita sama-sama berjuang ya!"
"Jo.." Ve menghela nafas lalu melanjutkan ucapannya, " Terimakasih."
Hati ve terpukul. Ia memaksakan segaris senyum yang pahit. Dalam hati ve berkata.
'Jo, kau salah. Bukan itu Jo. Apa aku berkata terlalu tinggi? Sehingga kau tidak mengerti.'
Tidak ada komentar:
Posting Komentar